
Jam di dinding menunjukkan pukul 3 tengah malam, saat Nara bangun dan berjalan ke dapur mencari cemilan, karena perutnya yang tiba-tiba saja terasa lapar.
Meski tubuhnya masih terasa sakit, ia tetap berusaha semampunya untuk datang ke dapur karena bagaimana pun saat ini masih jam 3 tengah malam dan tidak mungkin baginya untuk mengganggu istirahat yang lainnya.
Nara yang mendapat salad di kulkas memilih untuk memakan itu untuk saat ini. Salad yang memang sengaja di siapkan oleh Dimas untuknya, karena mewanti hal seperti ini terjadi.
.....
Nara yang tengah menyantap makanan tengah malamnya itu, tiba-tiba mengerutkan kening saat pintu di dekat dapur yang mengarah langsung ke ruang bawah tanah terbuka.
"Apa yang kalian lakukan tengah malam begini di ruang bawah tanah?" Tanya Nara yang sontak membuat keduanya kaget karena Nara yang menikmati makannya dalam keadaan lampu remang
"Kamu bangun! Mengapa tidak menghubungiku" Ucap Dimas menghampiri Nara seraya menyalakan lampu yang lainnya
"Aku hanya tidak ingin mengganggumu, tapi apa ini? Kejahatan apa lagi yang kalian lakukan di bawah sana" Tanya Nara menatap keduanya penuh curiga karena meski ruang bawah tanah itu berada tepat di bawah dapur, orang lain tidak akan bisa menyadarinya karena ruangan itu secara khusus di buat kedap suara
"Hanya membereskan beberapa hama, Kak.. " Ujar Justin duduk di samping Nara dengan begitu manjanya
Meskipun Justin bekerja sebagai asisten Dimas, ia tetap saja lebih patuh pada Nara ketimbang Dimas. Karena yang pertama kali membawanya ke rumah itu tak lain adalah Nara, karena itulah ia tak pernah bersikap segan pada Nara yang sudah dianggapnya Kakak sendiri.
"Dimas?" Nara lalu menatap Dimas, meminta penjelasan darinya
"Bukankah kamu yang menyuruhku membereskan preman yang menculik mu, aku sudah melakukannya.. " Jawab Dimas sembari ikut duduk di meja makan itu
"Kalian tidak membunuhnya kan?" Tanya Nara menatap keduanya tak habis pikir
"No.. No.. Kami hanya bermain-main dengannya, bagaimana mungkin kami tega membunuh mainan sendiri.. " Ujar Justin dengan senyum liciknya
Nara menepuk jidatnya pusing, ia benar-benar telah membesarkan seorang psycho di sini. Namun hal wajar bagi Justin untuk bersikap seperti itu, karena masa lalunya yang dulu pernah dipermainkan layaknya budak oleh orang lain.
Namun, Nara tak habis fikir dengan isi pikiran Dimas. Dia bekerja sebagai seorang dokter, yang mana merupakan salah satu pekerjaan paling mulia, namun dibalik sisinya yang itu, ia justru malah bersemangat dalam menyiksa orang lain.
"Bawa aku kebawa.. " Perintah Nara pada keduanya
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Dimas
"Aku hanya ingin memeriksa keadaan mereka"
Melihat reaksi keduanya yang sedikit enggan membawanya, mebuat Nara semakin penasaran akan apa saja yang telah di perbuat oleh keduanya.
"Justin? Bawa aku ke bawah" Pinta Nara menatap Justin dengan nada penuh penekanan
Melihat Nara memasang wajah seperti itu, Justin memutuskan untuk membawanya turun ke bawah mengabaikan Dimas yang kini menatap Justin.
"Bisa kan kak? Atau biarkan aku menggendong mu turun ke bawah" Ucap Justin khawatir jika Nara terlalu banyak bergerak dan berakhir membuat lukanya terbuka kembali
"Baiklah.. " Ucap Nara setuju dan membiarkan Justin menggendongnya ala bridal style, dimana Nara mengalungkan tangannya di leher Justin
"Kalian.. Sejak kapan kalian membuat ini? Woaahh" Nara berulang kali mengerjapkan matanya saat tiba di ruangan itu, terutama saat melihat aquarium setinggi dua meter itu
Para preman yang sebelumnya di siksa oleh keduanya kini meringkuk di balik jeruji besi, dengan tubuh menggigil dan penuh lebam. Bahkan beberapa di antara mereka, merintih kesakitan karena jarinya yang baru di patahkan oleh Dimas.
"Lagipula aku akan mengobatinya kembali, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan" Ucap Dimas setelah mendapat tatapan tajam dari Nara
"Tentu saja.. " Ucap Dimas dengan percaya dirinya, tanpa menghiraukan sindiran Nara sama sekali
Nara lalu menatap para preman yang sedari tadi menatapnya takut, sangat berbeda dengan tatapan sebelumnya saat mereka menculik dirinya.
"Kalian tidak perlu takut, aku akan membebaskan kalian dari sini, tapi dengan satu syarat dariku. Apa kalian bersedia?" Ucap Nara menawarkan kesepakatan
"Sya-syarat apa?" Tanya salah satunya memberanikan diri meski tetap merasa gugup, karena bagaimana pun tinggal di tempat itu dengan menjadi mainan kedua orang pria gila itu sudah membuat mereka ingin frustasi
"Aku akan memikirkannya setelah aku memutuskan apa yang akan aku lakukan. Jadi sebelum itu, kalian harus tunduk kepadaku" Ucap Nara belum memikirkan pembalasan yang akan dilakukannya pada Clara nantinya
"Kami berjanji. Kami akan menuruti apapun permintaanmu, tapi tolong bebaskaj kami dari sini" Pinta pria itu memohon dengan sangat
"Kalian dengar itu, kalian harus bersikap baik pada mereka mulai dari sekarang.. "
__ADS_1
Dimas mendengus kecewa karena ia masih belum puas menyiksa mereka. Namun sejak Nara meminta hal itu, ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti permintaan Nara.
Meski umur Dimas berada jauh di atas Nara, ia tetap bersikap sopan dan membiarkan Nara memanggilnya sesukanya.
Meskipun terkadang, Nara memanggil Dimas dengan panggilan Kakak, sama seperti yang dilakukan Naura sebelumnya.
"Karena kamu sendiri yang memintanya, maka aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya" Ucap Dimas
"Sekarang ayo naik ke atas, berada terlalu lama di tempat ini tidak baik untuk tubuhmu" Sambung Dimas mengkhawatirkan luka Naura yang bisa saja terinfeksi jika terlalu lama berada di ruangan yang kotor itu
"Kalian juga sebaiknya istirahat. Ingat untuk tidak berfikir hal yang macam-macam di tempat ini, karena meski Nara membebaskan kalian, itu bukan berarti kalian bisa bebas dari pengawasan ku" Ucap Dimas pada para preman itu
Setelah mengatakan itu, Dimas lalu berbalik mengikuti Justin yang sudah terlebih dahulu membawa Nara naik ke atas.
......
"Berapa lama, Kakak akan tinggal disini?" Tanya Justin setelah membaringkan Nara di kasur
"Entahlah.. Aku masih belum memikirkannya.. " Jawab Nara
"Apa Kakak tidak bisa tinggal disini saja? Selama ada Aku dan Kak Dimas, Kakak tidak perlu memikirkan apapun" Ucap Justin memohon seraya memegang lengan Nara
"Aku akan memikirkannya. Lagipula, Aku dan Naura setuju untuk murintis karir. Kemampuan ini akan sia-sia jika dibiarkan begitu saja, bukan?" Ujar Nara menyayangkan bakatnya dalam merancang yang tertimbun begitu saja hanya karena Adam
"Biarkan aku membantu Kakak, aku bisa melakukan apapun. Lagipula Kak Dimas tidak benar-benar membutuhkan bantuan ku" Ujar Justin masih dengan rengekannya
"Waahh.. Bagaimana bisa kamu mengkhianati ku begitu cepat, Justin" Sela Dimas dari arah pintu kamar
"Siapa yang mengkhianati disini, Kakak hanya senang karena aku memanggil Kakak dengan sebutan Tuan"
"Tapi Kamu tetap memanggilku Kakak bukan... "
"Aku tidak perduli, aku akan tetap ikut dengan Kak Nara. Tidak dengan pria gila sepertimu" Ujar Justin memeluk lengan Nara erat
__ADS_1
Dimas yang mendengar rengekan dari Justin, langsung mengerutkan kening melihat tingkah Justin yang begitu kekanakkan jika di hadapan Nara.