
William yang naik ke lantai atas untuk menemui Naura, terhenti saat Dimas mencegahnya masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana dengan Naura? Apa dia baik-baik saja?" Tanya William khawatir karena melihat luka di tubuh Naura tadi
"Dia baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir" Jawab Dimas namun dengan raut wajah datar
Naura sudah menderita selama tinggal di keluarga Adam dan Dimas tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi terhadap Naura, mengingat pekerjaan William yang merupakan seorang artis yang setiap tindakannya diperhatikan oleh penggemarnya.
"Apa aku tidak bisa menemuinya?" Tanya William penuh harap
"Maaf, tapi sebaiknya kamu menemuinya saat keadaannya sudah lebih baik. Seperti yang kamu lihat tadi, orang yang ada di dalam sudah bukan sosok Naura yang kamu kenal selama ini. Dia adalah Nara, alterego milknya"
William berfikir sesaat, sebelum akhirnya mengangguk mengikuti permintaan Dimas untuk tidak mengganggu Nara saat ini.
"Tolong kabari aku jika terjadi sesuatu, aku pasti akan datang dan membantunya" Pinta William terakhir kalinya sebelum pergi
William yang kembali turun ke lantai bawah, kembali bertemu dengan Adam yang kini duduk di lantai dengan lebam karena pukulan dari Gibran tadi.
"Terkadang seseorang harus merasakan penyesalahn terlebih dahulu sebelum memahami isi hatinya yang sebenarnya, namun disaat kamu menyadarinya, semuanya sudah terlambat dan kamu sudah benar-benar sendiri karena keputusan bodohmu itu"
William berucap seraya menatap Adam sekilas, tatapan yang seolah memandang rendah akan kebodohan Adam karena menyia-nyiakan sosok wanita setulus Naura.
"Semuanya sudah berakhir.. Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi kenapa? Kenapa aku merasa kosong, seolah aku baru saja kehilangan sesuatu yang berharga" Gumam Adam meremas dadanya yang terasa begitu hampa
Bahkan disaat ia harus berpisah dengan Clara, ia bahkan tidak merasakan perasaan seperti itu, namun untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan yang begitu asing itu setelah Naura menyetujui perceraiannya.
.....
Sementara itu, Nara yang telah selesai menggambil beberapa barang pribadi miliknya, segera turun ke bawah dengan dibantu oleh Dimas.
"Itu saja? Bagaimana dengan pakaianmu?" Tanya Dimas karena melihat barang bawaan Nara yang begitu sedikit
"Tidak perlu. Lagi pula kamu akan membeli yang baru untukku nanti" Ucap Nara memutuskan seenaknya
__ADS_1
Dimas hanya menggelengken kepalanya seraya mengusap rambut Nara "Baiklah tuan putri.. Kamu bisa bebas menghabiskan harta milikku.. " Ucap Dimas tidak mempersalahkan nya
Dimas adalah anak yatim. Jika bukan karena pertolongan dari ibu Naura, ia mungkin tidak akan memiliki masa depan yang secerah sekarang. Karena itulah, Dimas tak pernah sekalipun menolak permintaan Naura.
Meski semuanya berawal karena balas budi, tapi Dimas tetap dengan tulus menganggap Naura layaknya adiknya karena keduanya yang sama-sama telah kehilangan orang yang disayangi.
"Naura!"
Naura dan Dimas yang tengah berbincang, terhenti dan menoleh ke arah Adam yang baru saja memanggil Naura.
"Apa lagi yang kamu mau sekarang?" Tutur Dimas langsung berdiri di depan Naura
"Naura? Aku ingin berbicara dengannya" Pinta Adam berusaha melihat Naura namun terhalang oleh Dimas yang justru mendorongnya menjauh
"Tidak ada lagi yang perlu kamu bicarakan dengannya.. " Ucap Nara menatap Adam penuh kebencian
Mendapat tatatapn seperti itu, membuat Adam seketika teringat akan kejadian di ruang lukis sebelumnya. Tatapan penuh kebencian dan amarah yang begitu berbeda dari tatapan Naura sebelumnya.
"Naura?"
"Apa sebenarnya yang kalian mainkan dihadapanku saat ini? Naura? Nara? Apa kalian pikir aku akan percya begitu saja?"
Plaaakkk..
Sekali lagi, Adam mendapat tamparan di wajahnya. Nara melayangkan tamparan keras du pipi kanan Adam membuat bibirnya yang tadinya sudah sedikit mengering kembali mengeluarkan darah.
"Pers*tan dengan semua omong kosongmu itu Adam. Aku sama sekali tidak perduli dengan apa yang kamu pikirkan saat ini, yang harus kamu ingat, selama aku, Nara! Masih hidup di dunia ini, aku pastikan untuk membuatmu jatuh menderita sama seperti yang dialami Naura selama dua tahun ini"
"Ini bukan sekedar omong kosong belaka, aku bahkan tidak takut untuk membunuh seseorang, jadi sebaiknya kamu segera pergi menemui kekasih lac*rmu itu, beritahukan padanya untuk menikmati sisa-sisa nafas terakhirnya sebelum aku datang membalas semua perbuatannya. Satu goresan di tubuhku ini, akan aku balas berlipat-lipat ganda di tubuhnya itu" Sambung Nara mengingatkan dengan telunjuk menunjuk tepat ke wajah Adam
Adam yang mendengar kata-kata Nara barusan, diam tak berkutip sama sekali.
"Jika bukan karena Ibuku, aku pasti akan membunuhmu saat ini. Kamu seharusnya menghargai pengorbanan seseorang, bukannya hidup terperdaya dan bahkan menyakiti anak dari orang yang telah memberikan hidupnya untukmu" Sambung Nara semakin merasa emosi karena tidak bisa berbuat apa-apa pada Adam saat ini
__ADS_1
Baginya saat ini, kematian adalah hukuman paling mudah untuk seseorang seperti Adam. Terutama karena memikirkan pengorbanan Ibunya yang hanya dibalas dengan air mata pada anaknya.
"Cukup Nara, ayo pergi dari sini. Tidak ada untungnya bagimu untuk memberitahunya semua ini. Karena dia hanyalah orang asing bagimu, mulai saat ini" Tutur Adam menekankan kata asing di akhir kalimatnya seraya melirik ke arah Adam yang sedikit bereaksi setelah mendengar kata asing itu
Nara lalu mengikuti kata-kata Dimas dan merangkul lengannya keluar dari rumah itu. Mengabaikan Adam yang kini jatuh bertekuk lutut di lantai.
Adam benar-benar bingung saat ini. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Nara, khususnya kata-kata pengorbanan yang sudah kesekian kalinya ia dengar hari ini.
"Tuan?" Panggil Pak Agus menghampiri Adam, yang sedari tadi sudah memperhatikan pertengkaran di rumah itu
"Apa yang sedang mereka katakan Paman.. Mengapa mereka terus-menerus menyebutku tak tahu berterima kasih? Siapa yang berkorban?" Ucap Adam bertanya-tanya dengan kepala menunduk bingung
"Sebaiknya Tuan menemui Nyonya. Tuan pasti akan mendapat jawaban darinya" Ujar Pak Agus memberi saran
"Itu benar... " Ucap Adam menatap Pak Agus "Aku seharusnya menemui Mama saat ini, dia pasti tahu semuanya" Sambung Adam dengan cepat berdiri seraya dibantu oleh Pak Agus
"Biar saya yang mengantar Tuan" Ucap Pak Agus mengajukan dirinya sendiri
Adam lalu menuju ke kediaman utama Keluarga Louis. Selama di perjalanan, ia tak berhenti memikirkan kata-kata Nara barusan.
"Apa menurut Paman, aku juga salah selama ini?" Tanya Adam kemudian
Pak Agus terdiam sejenak, ia sedikit bingung harus berkata apa terutama karena Pak Agus adalah salah satu orang yang tahu dengan sangat jelas apa yang dialami Naura selama tinggal di rumah itu.
"Maaf Tuan.. "
"Bahkan Paman juga berfikir bahwa aku salah.. " Ucap Adam mengerti akan kata maaf dari Pak Agus barusan
"Saya bukannya menyalahkannya Tuan, hanya saja saya tidak begitu mengerti dengan Tuan yang begitu terobsesi untuk berpisah dengan wanita setulus Nona"
"Apa dia benar-benar setulus itu?"
"Iya Tuan.. Nona tak seperti yang Tuan bayangkan selama ini.. " Ujar Pak Agus menganggukkan kepalanya
__ADS_1
"Apa aku telah salah?" Batin Adam menatap ke luar jendela memikirkan semua kesalahannya selama ini