Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 29


__ADS_3

Adam turun ke lantai bawah dengan raut wajah masam karena ucapan pedas yang dilontarkaj oleh Dira padanya. Tak jarang keduanya bertengkar karena masalah Naura, namun karena Dira yang menghabiskan waktunya di luar negeri setelah pernikahan Naura, ia jadi tidak pernah lagi bertemu dengan Adam. Mungkin karena itu lah, Dira langsung melampiaskan kekesalan nya sesaat setelah ia bertemu dengan Adam.


Gibran yang melihat raut wajah Adam, hanya menyeringai terutama setelah mengetahui sikap Dira bahkan meskipun ia baru mengenalnya kemarin.


"Sepertinya ada yang terjadi diatas" Ucap Gibran sedikit mengejek


"Ini gara-gara kamu, bagaimana bisa kamu membawa nenek lampir itu kesini hah?" Protes Adam menatap Gibran tajam


"Jika bukan karena dia, aku mungkin tidak akan kembali kesini hari ini" Balas Gibran tak ingin disalahkan begitu saja


Adam mendengus kesal lalu sesaat kemudian ia memilih berbaring di sofa lainnya.


"Lupakan.. Aku sudah cukup kesal dengan Naura seharian ini.. " Ucap Adam seraya menutup matanya yang masih terasa berat karena kantuk


Suasana yang tadinya hening karena keduanya yang memilih berbaring dan memejamkan mata, kembali pecah saat Gibran lagi-lagi mengajukan pertanyaan pada Adam.


"Adam!" Panggil Gibran sedikit ragu-ragu


Adam yang tidak benar-benae tertidur, kembali membuka matanya lalu mengubah posisi tidurnya menghadap ke Adam yang berada di sofa lainnya.


"Apa kamu benar-benar akan menceraikan Naura?" Tanya Gibran mengangkat topik pbicaraan yang cukup serius


"Iya, bukankah sudah kukatakan aku menyukai Clara bukan Naura"


"Ughh.. Sepertinya kamu benar-benar buta.. "


"Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku? Kalian terus mendorongku menjauh dari Clara, tapi kenapa kalian tidak pernah memberitahuku alasannya"


"Entahlah.. Aku juga tidak tahu mengapa aku harus menyembunyikan rahasia ini darimu. Tapi jika kamu begitu penasaran, tanyakan pada ibumu dan paksa dia untuk menceritakannya" Ucap Gibran tidak ingin menceritakannya


"Selain itu, aniversary yang ke-3 tahun pernikahan kalian tinggal 1 minggu lagi. Apa kamu tidak bisa menunda perceraianmu?" Tanya Gibran kemudian


"Apa maksudmu?"


"Setidaknya sebelum kamu bercerai, tolong perlakukam Naura selayaknya sebagai seorang istri terutama di pesta nanti. Dia sudah cukup menderita Adam" Pinta Gibran dengan nada sendu


Terlihat jelas sorot mata tulus dari tatapan Gibran saat ini. Itu bukan hanya sekedar permintaan, karena Gibran memohon dengan setulua hatinya untuk terakhir kalinya.


"Tapi aku tidak bisa melakukan itu, di mataku dia hanya seorang wanita munafik yang melakukan segala cara untuk berada di sampingku" Ucap Adam mengepalkan tangannya geram

__ADS_1


"Karena itulah aku terus menyebutmu bodoh. Jika ini tentang kejadian saat kuliah dulu, maka aku katakan padamu bahwa semua itu hanya salah paham"


"Salah paham?"


"Naura tidak pernah melakukan plagiat, sejak awal desain itu milik Naura. Clara hanya menyalin nya kembali dengan berpura-pura menggambarnya di hadapanmu"


"Jaga ucapan kamu Adam" Tegur Adam tak suka jika Clara di cela seperti itu


"Ini bukan hanya sekedar omong kosong. Beberapa hari sebelum kontes, buku desain Naura menghilang, bahkan hingga saat ini. Tapi bukan berarti Naura tidak bisa membuktikannya hanya karena buku itu menghilang, karena setiap desain yang dibuat Naura ia selalu membuat dokumentasi"


Adam mengerutkan keningnya mendengar ucapan Gibran yang secara perlahan mulai mempengaruhinya.


"Aku tahu akan sulit untuk mempercayai ini. Tapi ini hanya salah satu alasan yang membuat aku membenci Clara. Dan alasan yang paling utama, kamu harus mendengarnya dari ibumu sendiri" Ucap Gibran masih menyembunyikan sebagian rahasia yang diketahuinya


"Mungkin ini sedikit terlambat untuk menyadarinya, tapi saat ini aku lebih setuju jika kalian bercerai. Tak ada gunanya mempertahankan pernikahan ini lagi, Ibunya hanya akan semakin tidak tenang jika melihat anaknya menderita seperti ini, terutama dari seseorang yang membuatnya... (Kehilangan nyawanya)" Sambung Gibran dengan suara setengah berbisik di akhir kalimatnya


Adam yang tidak mendengar perkataan Gibran sampai akhir kalimat, merasa sedikit terganggu sekaligus bingung karena semakin banyaknya teka taki yang diberikan untuknya.


"Apa maksud dari ucapanmu Gibran?"


"Cari tahu sendiri" Ucap Gibran kembali bersikap cuek sembari naik ke lantai atas untuk mengecek kondisi Naura di kamarnya


......


Tok.. Tok.. Tok..


Gibran lalu mengetuk pintu kamar Naura sedikit pelan takut mengganggu istirahatnya.


"Dira?" Panggil Gibran seraya membuka pintu kamar itu lalu masuk ke dalam setelah mengintip sedikit


"Ada apa?" Tanya Dira yang sejak tadi masih terjaga di samping Naura


"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran akan keadaan Naura. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Gibran


"Tidak. Panasnya masih belum turun sejak tadi, aku sedikit khawatir jika terus seperti ini" Ucap Dira sembari menggenggam tangan Naura erat penuh kekhawatiran


"Kita akan berangkat besok pagi-pagi sekali, jadi sebelum itu lakukan semampumu saja, tidak perlu memaksakan diri" Ucap Gibran ikut mengkhawatirkan Dira


"Aku tahu" Jawab Dira lirih

__ADS_1


"Apa kamu lapar? Aku sedikit lapar jadi bagaimana jika kita makan mal terlebih dahulu?" Tanya Gibran menatap Dira penuh harap


Dira menatap Naura berulang kali, mwmwriksa keadaanya, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan ajakan Gibran.


"Baiklah.. " Ujar Dira lalu bangkit berdiri mengikuti Gibran keluar dari ruangan itu


.....


"Bagaimana dengan Adam?" Tanya Dira memperhatikan sekitar mencari keberadaan musuh bebuyutannya itu


"Lupakan tentang manusia br*ngsek itu.. " Ucap Gibran geram tiap kali mengungkit Adam


Keduanya lalu turun ke dapur, setelah melewati ruang tamu tanpa bertemu dengan Adam yang entah menghilang kemana setelah kepergian Gibran tadi.


Gibran mengambil daging yang ada di kulkas lalu memanggang nya, dengan Dira yang hanya duduk menunggu.


"Apa kamu menyukai Naura?" Tanya Dira begitu tiba-tiba


"Uhuuhkk.. Uhuuhkk.. "


Gibran yang tengah minum, seketika tersedak memdegar pertanyaan dari Dira barusan.


"Apa yang kamu katakan, bagaimana mungkin aku menyukai kakak iparku sendiri" Ucap Gibran tidak habis pikir


"Syukurlah.. Aku pikir aku menyukainya karena kamu lebih perhatian dari yang aku pikirkan" Ujar Dira


"Itu karena aku.. (berutang budi padanya)" Ucap Gibran namun berakhir mengatakannya didalam hati


"Aku tidak menyukainya, aku hanya merasa kasihan karena Adam yang begitu tega dan kasar terhadapnya"


"Kalau begitu tidak ada yang perlu kukhawatirkan lagi, sejujurnya aku memiliki seorang sepupu, dia cukup tergila-gila pada Naura" Ujar Dira mengungkit soal sepupunya, William


"Hah?"


"Jangan bilang kamu ingin menjodohkan keduanya?"


"Tidak.. Itu tergantung Naura, aku hanya sedikit membantu karena bagiku kebahagian Naura lebih penting"


"Lagipula, aku tidak begitu akur dengan sepupuku. Dia sedikit mnyebalkan, tapi melihatnya begitu serius mengejar wanita seperti itu membuatku ingin membantunya sedikit. Dan mungkin kamu juga mengenalnya.. "

__ADS_1


"Siapa?"


Dira lalu meraih ponselnya di sakunya dan memperlihatkan foto William pada Gibran yang sontak membuatnya kaget tidak menyangka.


__ADS_2