
"Apa yang kamu lakukan disini? " Tanya Gibran saat tiba di dekat Dira yang tampak sedikit linglung karena pengaruh minuman tadi
"Oh, kamu yang tadi.. " Ucap Dira menunjuk Gibran
"Ayo pulang, aku akan mengantarmu" Ucap Gibran lalu merangkul pundak Dira, membantunya berdiri
"Tidak perlu.. Aku bisa pulang sendiri" Tolak Dira berusaha melepaskan diri
Namun karena cengkraman tangan Gibran yang cukup kuat, Dira sama sekali tidak bisa melepaskan diri terutama karena pengaruh alkohol.
"Ayo masuk.. " Pinta Gibran seraya membantunya masuk ke dalam taxi tadi
"Jalan pak.. " Ucap Gibran pada supir tadi
Gibran lalu melepas jaketnya dan menyelimuti Dira yang memang mengenakan pakaian yang tipis dan sama sekali tidak menutupi bagian atas tubuhnya.
"Dimana alamatmu?" Tanya Gibran sembari memakain jaketnya
Namun bukan jawaban yang didengarnya, melainkan suara dengkuran dari orang yang tertidur, membuat Gibran menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas pasrah.
Dengan terpaksa, Gibran membawa Dira pergi ke apartemennya yang berada tak jauh dari lokasi bar tadi. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan taxi untuk tiba di apartemen Gibran.
....
Gibran yang sudah tiba di apartemennya, membawa Dira dengan mengendongnya ala bridal style naik ke apartemennya yang berada di lantai 5 gedung itu.
Ia membawa Dira masuk ke kamarnya dan membaringkan nya di kasur. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sembari menunggu pelayan yang baru dipanggilnya untuk membersihkan dan mengganti pakaian Dira yang berbau alkohol.
"Hari ini benar-benar melelahkan.. " Ucap Gibran menatap langit-langit kamar mandi sembari berendam di dalam bathub
...***...
Di sisi lain, Nuara yang sedari siang tadi berdiam di kamarnya akhirnya keluar saat jam di dinding menunjukkan pukul 1 tengah malam. Ia yang tadinya terlelap dalam tidurnya, terbangun karena rasa haus.
Naura turun ke lantai satu, sembari berpegangan pada tangga karena sejak bangun tadi, ia merasakan rasa nyeri di bagian kepalanya yang terasa begitu berat.
"Apa karena aku terlalu lama tidur?" Gumam Naura memijat keningnya, mencoba meredakan rasa peningnya
__ADS_1
Naura lalu mengambil sebotol air dingin di dalam kulkas. Lalu kembali ke kamarnya, karena kepalanya yang semakin terasa pening dengan mata berat seolah-olah akan tertutup kapan saja.
Setibanya di kamar, Naura hanya meminum seteguk air minum yang baru diambilnya lalu meletakkannya di atas meja. Ia lalu kembali membaringkan tubuhnya di kasur, seraya menarik selimutnya menutupi dirinya.
.....
Keesokan paginya...
Adam yang sejak makan siang kemarin tak kunjung melihat Naura, bahkan hingga makan malam sekalipun. Karena itulah, Adam memutuskan untuk datang ke kamarnya dan mengeceknya pagi ini.
Tok.. Tok.. Tok..
"Naura! " Pangil Adam seraya memgetuk pintu kamarnya
"Naura!" Panggilnya sekali lagi
Namun karena tak kunjung mendapat respon, Adam akhirnya menekan gagang pintu kamar itu dan masuk ke dalam secara langsung.
"Naura!" Panggilnya kembali seraya mendekati Naura yang terlihat masih berbaring di tempat tidur
"A-apa yang terjadi denganmu?" Tanya Ad gugup saat tiba di dekat Naura dan melihat raut wajahnya pucat nya dengan keringat dingin di sekitar wajarnya
"Dia benar-benar deman, jadi karena ini dia tidak keluar kamar dari semalam" Ucap Adam menepuk jidatnya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Naura
Bahkan meskipun ia membencinya, ia juga bukanlah seseorang yang akan begitu saja mengabaikan seseorang yang sedang sakit seperti ini.
....
Pada akhirnya Adam turun dan mencari kotak p3k dan juga sebuah handuk dan baskom berisi air.
"Apa benar seperti ini?" Gumam Adam kebingungan meletakkan kompresnya karena ini pertama kalinya ia merawat seseorang yang sedang demam
Setelah meletakkan handuk di kening Naura, Adam duduk termenung di kursi samping tempat tidur Naura, sembari memikirkan langkah selanjutnya karena bagaimana pun ia tidak bisa mencarinya di internet karena sinyal yang buruk.
"Apa sebaiknya aku membuat bubur? Bukankah dia belum makan dari semalam?" Gerutu Adam pada dirinya
Adam menatap raut wajah Naura yang tak kunjung membaik, yang pada akhirnya membuatnya bangkit berdiri keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membuat bubur untuk Naura.
__ADS_1
"Bukankah ini liburan? Bagaimana bisa berakhir menjadi seperti ini?" Gumam Adam tidak habis pikir karena berakhir menjadi perawat untuk orang sakit ketimbang menikmati waktu liburannya
"Lagipula apa yang bisa dilakukan di tempat seperti ini.. " Sambung Adam menghela nafasnya pasrah sembari mengaduk-aduk bubur tawar yang baru di masaknya itu
......
Setelah memasak buburnya, Adam segera naik kembali ke kamar membawa bubur dengan air hangat untuk Naura. Sedikit perhatian untuk seseorang yang tengah terbaring lemah karena demam.
"Oh, kamu sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?" Tanya Adam meski dengan nada datar, saat masuk ke dalam dan mendapati Naura yang kini duduk bersandar di tempat tidurnya
"Aku baik-baik saja.. " Jawab Naura lirih
"Apanya yang baik-baik saja, wajahnya pucat seperti itu dan kamu masih berkata jika kamu baik-baik saja?" Ujar Adam kesal tiap kali Naura mengatakan kata baik-baik saja itu
Ini bukan pertama kalinya ia berkata seperti itu, bahkan disaat Adam sadar akan kondisi tubuh Naura, ia hanya terus menerus berkata baik-baik saja tanpa menghiraukan pikiran orang lain. Mungkin karena itu jugalah Adam terus-menerus memanggil Naura sebagai wanita munafik.
"Aku sudah membuatkanmu bubur, jadi sekarang makanlah setelah itu minum obatmu" Ucap Adam menyodorkan nampan berisi makanan itu.
Naura menatap bubur yang dibawah Adam tadi lalu berucap "Maaf, kamu bisa menyimpannya diatas meja. Aku akan memakannya nanti" Ucap Naura dengan suara lemah
Adam yang mendengar perkataan Naura, seketika mengerutkan keningnya geram "Kamu benar-benar menyusahkan.." Ucap Adam mengacak-acak rambutnya sebelum mengambil bubur itu berniat untuk menyuapi Naura
"A-apa yang kamu lakukan?" Tanya Naura gugup
"Buka mulutmu sebelum aku bersikap kasar terhadapmu" Pinta Adam masih dengan sikap kasarnya namun kali ini terasa begitu hangat khususnya untuk Naura yang selalu mendambakan sikap perhatian Adam yang seperti ini
Naura lalu mengikuti permintaan Adam, membuka mulutnya dan membiarkan Adam menyuapi nya bubur tawar yang baru dibuatnya. Meski ia sama sekali tidak berselera karena sakit, namun bubur ini tetap menjadi makanan terbaik yang pernah dimakannya karena Adam yang membuatnya dan bahkan menyuapi nya seperti yang terjadi saat ini.
"Aku berharap waktu berhenti saat ini juga.. " Ucap Naura dalam hati penuh harap
Menyaksikan Adam memperlakukannya seperti ini, membuatnya merasa begitu senang dan melupakan rasa pening di kepalanya saat ini.
"Ada apa denganmu?" Tanya Adam pada Naura yang menatapnya seraya tersenyum aneh, setidaknya dimata Adam
"T-tidak.. " Jawab Naura dengan cepat memalingkan wajahnya
"Tidak perlu merasa senang seperti itu, aku bersedia merawatmu karena hanya ada aku disini. Lagipula, Mama pasti akan memarahi ku jika membiarkanmu sakit begitu saja. Jadi jangan berharap lebih"
__ADS_1
"Aku tahu" Jawab Naura lirih