
Mataku terpejam. Di sana aku bermimpi. Bertemu dengan ayah dan bunda dengan wajah yang bahagia melihatku. Aku memeluk mereka seperti biasa saat aku pulang ke rumah. Aku melihat Kayla yang tersenyum sangat manis sambil melambaikan tangannya. Dan setelah itu aku melihat sesosok bayangan yang sangat hangat terasa di mataku. Andra, ia berjalan mendekatiku dengan tatapan mata yang indahnya melebihi pelangi. Ia tersenyum padaku. Aku menyambutnya. Tapi beberapa detik kemudian wajahnya berubah. Berubah berganti menjadi sosok yang sangat sulit aku gambarkan. Samar-samar aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Yang aku rasakan hangatnya tangan yang kini memegang kedua pundakku. Aku dapat melihatnya tersenyum padaku. Perlahan dan pasti ia mendekat dan terus mendekat. Ia memelukku dengan pelukan yang sangat sulit aku bayangkan.
Aku menyambut pelukannya. Merasakan debaran jantungnya. Aku pun benar-benar merasakan hangat hembusan napasnya yang melalui sela-sela rambutku. Sejenak aku melupakan kesedihanku.
Tiba-tiba ponselku bergetar sehingga membuatku terbangun dari mimpi aneh itu. Aku menoleh ke arah jam beker kesayanganku, ternyata aku tertidur cukup lama. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Aku kembali melihat panggilan di layar ponselku. Terdapat panggilan dengan nomor asing. Dan nomornya pun janggal. Tidak seperti nomor seluler dalam negeri. Aku hanya diam. Aku tak berani menjawab. Dalam pikiranku, aku takut kalau itu adalah renternir yang sedang memburuku. Panggilan berlangsung tiga kali berturut-turut. Entah kenapa untuk panggilan yang terakhir ada keinginan kuat untuk mengangkatnya. Mungkin saja itu ayah atau bunda yang berusaha menghubungiku.
“Halo…” suaraku lirih dan hati-hati.
“Halo… bisa bicara dengan Ricka?” jawab seseorang yang berada di ujung telpon. Aku seperti mengenali suara ini. Yang pasti bukan suara ayah.
__ADS_1
“”Iya… saya Ricka,” jawabku singkat.
“Ricka... kau kemana saja? Kenapa tidak angkat telpon Om dari tadi?” ucap orang tersebut sedikit lebih keras volumenya dari awal percakapan kami.
“Om… Shoni?” tanyaku ragu.
“Iya… ini Om Shoni dari Korea. Kau masih ingat, Sayang?” nada bicaranya kembali lembut.
“Iya… semalam ayahmu telpon, dan sudah menceritakan semuanya. Kau yang sabar ya. Semua yang diberitakan di media salah besar. Ibumu tidak pernah berselingkuh. Semua itu karena lawan bisnis ayahmu yang menjebak ibumu dan menghancurkan bisnis ayahmu…” aku hanya diam mendengarkan penjelasan dari Om Shoni.
__ADS_1
Terasa di kerongkonganku terdapat duri yang sangat besar. Membuatku tercekat tak mampu bersuara. Aku tahu mataku sudah banjir dari tadi.
“Iya Om... aku tahu... bunda tak mungkin seperti itu...” suaraku bergetar.
“Ricka sayang... kau yang tabah ya... semua ini hanya ujian semata untuk keluargamu. Sekarang yang penting adalah menyelamatkanmu. Karena kemarin ayahmu bilang, para renternir itu mencarimu untuk menjadikanmu isteri ke empat dari bos mereka....” Aku melongo mendengar penjelasan Om Shoni perihal tersebut. What? Isteri ke empat? Yang benar saja? Sudah jelas pasti aku menolaknya.
“A..a..apa Om? Isteri ke empat?”
“Iya, jangankan isteri ke empat. Isteri pertama pun Om tidak akan membiarkanmu menyetujuinya. Om kenal betul siapa lawan ayahmu itu!”
__ADS_1
“Maksud Om…?”
“Iya, dia adalah lawan bisnis Om dan ayahmu dari dulu. Namanya Shantowi. Om yakin pasti semua kejadian ini adalah perbuatannya. Belum lama ini dengan muka munafiknya, ia menawarkan modal yang cukup banyak kepada ayahmu. Sebelumnya Om sudah menduganya. Tapi ayahmu tidak mendengarkan Om. Shantowi itu licik. Awalnya ia menyukai ibumu. Tapi jelas ibumu sangat membencinya. Dan sekarang setelah kau beranjak dewasa ia malah menginginkanmu. Dasar buaya kadal...!” Om Shoni geram.