CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 43 (Perjodohan ini, bisakah aku mengharapkannya?)


__ADS_3

Pagi ini suasana sarapan menjadi sangat Kaku. Aku melihat Yoon-Hee matanya sembab. Entah setelah kepergianku dengan Yoon-Jin semalam ada pembicaraan apa antara dia dan Kak Ji-Sung. Sedangkan Yoon-Jin dan Kak Ji-Sung bersikap seperti biasa seakan tidak terjadi hal apa pun.


“Om… aku ingin kembali ke Indonesia,” ujarku di tengah-tengah sarapan sehingga membuat beberapa penghuni meja makan berhenti mengunyah makanannya dan menatapku.


Om Shoni menatapku tajam, dan itu membuatku bergidik.


“Apa kau berniat untuk menerima lamaran Shantowi?” Om Shoni masih kuat melihatku.


“Bukan Om. Aku sama sekali tidak ingin bertemu apalagi menikah dengan laki-laki yang menghancurkan bisnis ayah. Aku hanya….” Aku terdiam sejenak.


“Aku mohon bersabarlah Ricka, ayahmu sebentar lagi akan menemukan bukti kuat untuk membebaskanmu dari Shantowi. Aku harap kau betah di sini!”


Aku menunduk dan tidak berani menatap Om Shoni. Tersirat kekecewaan yang besar di wajahnya. Kemudian ia melanjutkan perkataannya,


“Om tahu, kau mendengar perjodohan itu.”


“Perjodohan… apa… Om?” tanyaku terbata-bata.


“Awalnya Om berniat untuk menjodohkanmu dengan Yoon-Jin, karena pada dasarnya, sebelum kalian lahir perjodohan itu sudah ada. Saat kelahiran Yoon-Jin dan Yoon-Hee, ibumu sedang mengandung kamu Rick, saat itulah ada perjanjian di antara aku dan ayahmu. Jika ibumu melahirkan anak perempuan maka akan kami jodohkan dengan Yoon-Jin dan jika ibumu melahirkan anak laki-laki maka akan di jodohkan dengan Yoon-Hee. Dan lahirlah kamu yang berarti perjodohan itu akan berlangsung antara kamu dan Yoon-Jin. Yoon-Jin sudah mengetahui perjodohan ini sejak ia kecil, tapi mungkin ayahmu tak mengatakannya padamu. Sejak itulah Om selalu bilang kepada Yoon-Jin kalau ia sudah mempunyai isteri di Indonesia yaitu kamu.” Perkataan Om Shoni sukses membuatku tercekat.


Kini aku menatap Yoon-Jin, ia merasa gugup ketika pandangan kami bertemu.


“Namun entah masalah apa, beberapa bulan sebelum kamu kesini Yoon-Jin menolak keras untuk menerima perjodohan ini.” Om Shoni menatap Yoon-Jin.

__ADS_1


“Ia sebenarnya tidak menolak Appa... ia hanya terlalu gengsi untuk menerimanya…,” sambut Kak Ji-Sung.


“Hyung…,” kata Yoon-Jin membela diri.


“Kau terlalu naif Yoon-Jin. Saat itu kau begitu dendam denganku, dan membuang semua apa yang diberikan Appa kepadamu. Seakan kau menunjukkan betapa hinanya aku memungut semua hal yang kau buang begitu saja? Iya, kan?” Kak Ji-Sung menyelidik.


“Oppa… gemane…,” giliran Yoon-Hee bicara. Aku yakin ia juga tidak ingin memperkeruh suasana sarapan pagi ini.


(gemane: cukup)


Selesai sarapan aku langsung kembali ke kamar. Ingin rasanya ke tempat Kayla. Tapi aku mengurungkan niatku karena tak mungkin ke sana sendiri. Aku sedang tidak mood untuk bertemu dengan mereka. Masih terngiang di telingaku mengenai percakapan mereka semalam. Semenit kemudian pintu kamarku terbuka. Ah wajah itu, aku sangat tidak ingin berbicara dengannya.


“Apa kau ada waktu?” tanyA Kak Ji-Sung.


“Mianheo… aku telah menyakitimu.” Kak Ji-Sung memegang punggung tanganku. Seketika aku melepas genggamannya.


“Anniya… aku tidak tahu perasaanku terhadapmu. Hanya saja aku kecewa karena kau telah membohongiku!”


“Aku hanya memberi Yoon-Jin pelajaran. Aku tahu, kalau masalah perusahaan, kekayaan, ia tidak akan mudah tergoyahkan. Namun kalau untuk perasaannya aku yakin ia tidak akan mampu menolaknya. Aku sangat mengenalnya. Ketika ia kecil betapa bahagianya ia telah dijodohkan dengan gadis manis sepertimu!” Kak Ji-Sung mencubit pelan pipi kananku.


“Saat itu, puncak saat ia sangat dan sangat membenciku. Appa memintanya untuk mengikuti seminar di salah satu perusahaan sahabat appa. Namun Yoon-Jin melakukan kesalahan yang cukup fatal. Sehingga membuat malu perusahaan.”


“Kesalahan apa Kak?”

__ADS_1


“Ketika menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada saat seminar ia tidak sengaja membocorkan rahasia perusahaan kepada banyak orang. Sehingga membuat appa dan teman seperusahaan appa sangat marah. Aku paham, saat itu Yoon-Jin masih sangat awam soal perusahaan appanya. Namun apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Appa dan teman-temannya secara reflek membandingkan aku dengan Yoon-Jin sehingga membuatnya tersinggung hingga sangat membenciku. Saat itulah Yoon-Jin benar-benar tidak mau mengurus perusahaan ayahnya dan apa pun yang ayahnya berikan padanya ia selalu menolaknya mentah-mentah,” –ujar Kak Ji-Sung kemudian menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan perkatannya– “hingga berbulan-bulan semenjak kejadian itu, appa kembali membahas mengenai perjodohan kalian. Namun secara tiba-tiba Yoon-Jin menolak perjodohan itu dan meminta aku menerima perjodohan itu. Ia benar-benar membuatku mati kutu saat dihadapan appa. Karena appa tahu, aku sudah tidak mempunyai hubungan dengan Yoon-Hee sehingga ia memintaku untuk menggantikan Yoon-Jin dalam perjodohan ini.”


Aku mendengarkan dengan seksama. Sesekali aku membuang napas sambil berfikir. Kenapa aku bisa terjebak dalam situasi ini. Aku berkata, “Tapi… kenapa Kakak bisa mengakhiri hubungan dengan Yoon-Hee? Dari awal aku kesini Yoon-Hee sangat membenciku. Apa mungkin ia tahu mengenai perjodohan itu?”


Kak Ji-Sung menjawab sambil mendengus halus, “Jelas tahu, aku memutuskan hubungan karena ia adalah gadis yang keras kepala. Aku memintanya untuk tidak terjun ke dunia entertainment, tapi dia sangat bertekat untuk memulai karirnya.”


“Kenapa? Bukannya kita mempunyai hak untuk menentukan bagaimana cara kita untuk melanjutkan hidup? Bukannya itu bagus, berarti Yoon-Hee punya bakat di bidang itu?”


“Yah… kau mungkin benar. Awalnya aku hanya takut ia menjadi bebas pergaulan.”


“Aku melihat antara Kakak dengan Yoon-Hee masih terselip perasaan yang mendalam. Namun kalian terlalu gengsi untuk mengatakannya. Terlebih kau, Kak!”


“Jadi kau memaafkanku, kan?” Ia mengalihkan pembicaraan.


“Kenapa Kakak sampai setega ini? Tapi bagaimanapun, semua sudah terlanjur. Toh aku juga tidak punya perasaanapa-apa ke Kakak!”


“Benar kah? Kamu yakin?” Ia mendekat ke wajahku memperlihatkan ekspresi yang menyeramkan. Reflek aku menjauh darinya.


“Yaaa…! Kak Ji-Sung apa yang kau lakukan!” teriakku disusul dengan tawa renyah darinya. Ia kemudian ijin untuk pergi.


Entah apa yang aku rasakan saat ini. Yang jelas perasaan lega karena sudah mengetahui semua yang ingin aku ketahui. Aku tidak tahu kedepan apa yang harus aku lakukan. Apakah perjodohan ini akan berakhir begitu saja atau punya cara lain untuk mewujudkannya.


Perasaanku terhadap Yoon-Jin benar-benar membingungkan. Terkadang, aku sangat ingin melihatnya. Aku sangat ingin berada di dekatnya. Tapi, apakah itu mungkin? Harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima kembali perjodohan itu. Ah… kenapa aku terlalu percaya diri? Aku tahu perasaannya terhadapku saja tidak. Mana mungkin aku berani berharap ia akan menerima perjodohan ini?

__ADS_1


__ADS_2