
Akumendapat sebuah undangan pesta pernikahan dari sahabat terbaikku, Kayla. Ia akan menggelar pernikahan di sebuah hotel mewah di pusat kota Seoul. Bagaimanapun juga, ia datang ke acara pertunanganku kemarin bersama dengan pangeran kecilnya yang bernama Park Chanyeol. Ah… aku yakin Kayla sangat mengidolakan EXO sehingga menamakan anaknya mirip dengan salah satu personilnya.
“Kau ada waktu hari ini?” tanyaku kepada Yoon jin yang sedang asik memainkan gitarnya.
“Emmm…kita akan berangkat bersama nanti…” tanpa mengalihkan pandangan dari gitarnya. Sepertinya ia sedang mebuat lirik baru untuk bandnya.
“Iya harus, namamu juga ada dalam undangan itu…” aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.
“Wae…kenapa kau tidak bersemangat, ha?” kini ia melihatku yangs edang terpejam.
“Aku bingung pakai baju apa..” aku masih memejamkan mataku
“Yangpenting jangan memalukan, karena sudah pasti tamu undangan suami Kayla banyak dari teman bisnis appa… bahkan appa dan eomma pun nanti malam juga datang ke pestanya…” aku menoleh ke arahnya.
“Eotokheee…” bisikku lirih.
“Tiga jam sebelum pesta di mulai kau harus segera siap-siap! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat…” ia kini menatapku lembut dan membelai rambutku.
“Ne…” jawabku lemas.
Jam baru sampai di pukul tiga sore tapi Yoon Jin sudah heboh ingin mengajakku segera berangkat ke pesta Kayla.
“Ricka-ya…sudah siap?” teriaknya sambil mengetok pintu.
Aku keluar dari pintu dan menjawab, “Yaaa… acara masih jam tujuh nanti. Kenapa kau jam segini sudah heboh?” taku mendengus sebal.
“Aku kan sudah bilang mau mengajakmu ke suatu tempat?” ia menarikku turun ke lantai dasar.
“Kita mau kemana sih?” aku berusaha mengikuti langkahnya yang sedikit berlari.
“Ikut saja…. kau yakin akan ke pesta pernikahan sahabatmu dengan menggunakan pakaian seperti ini?” ia melihatku dari bawah ke atas begitu seterusnya. Kali ini aku memakai dress tanpa lengan berwarna peach muda tepat di bawah lutut dengan balutan kardigan renda setengah siku berwarna putih tulang.
“Yaaa…! Bukannya aku selalu cantik menggunakan baju apa pun. ha?” aku berteriak sewot.
“Iyajika itu aku yang melihatmu! Bukan yang lain, ingat ya, nanti kau akan bertemu dengan bayak orang bahkan para pengusaha terkenal. Jadi kau harus jaga penampilanmu! Apa lagi nanti Dreams juga akan tampil!” ujar Yoon Jin.
“Mwo? Dreams akan tampil? Kenapa tidak bilang dari kemarin?”
“Aku juga baru tahu saat Hae Sung yang menelponku,” jawabnya.
Akumelihat namja di sampingku ini menyetir menggunakan jas putih dan celana putih. Rambutnya seperti lembab
karena gel membuatnya sungguh menawan.
Kita sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Tak lupa ia menggunakan topi hitam dan
kaca mata hitam.
“Wooah…kau sudah seperti artis papan atas! Pakai acara menyamar segala lagi…” bisikku.
“Kau diam, atau kita nanti akan gagal ke acara pesta pernikahan temanmu?” bisiknya. Aku hanya mengangguk perlahan. Yoon Jin menggandengku ke sebuah toko baju yang nampak sangat elit.
“Kaumengajakku kesini?” gumamku. Aku melihat banyak pengunjung yang melihat kami.Banyak di antaranya mereka berbisik-bisik ke arahku dan Yoon Jin. “Ah… tak heran, sekarang kenapa Yoon Jin lebih memilih menggunakan topi dan kaca mata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Kalau sampai mereka tahu, sudah pasti banyak yang akan minta berfoto atau tanda tangan, kalau Yoon Jin menolak bisa-bisa ia dikira artis pendatang baru yang sombong.” pekikku dalam hati.
Selera Yoon Jin sungguh membuatku muak, beberapa kali aku mencoba baju yang dipilihnya
membuat dadaku sesak. Bagaimana tidak, ia menyuruhku menggunakan gaun yang sedikit terbuka di bagian atas dengan panjangnya jauh di atas lutut. Ini sungguh tidak benar, aku tidak bisa memakai baju seperti ini.
“Yaaa.. aku bukan artis yang akan berlenggak-lenggok di depan kamera! Aku tidak mau pakai baju seperti ini…!” aku membenarkan dres tanpa lengan dan menyilangkan kedua kakiku.
“Wooah…perfect…!” serunya dengan mengacungkan kedua jempol tangannya membuatku ingin
muntah melihatnya.
“Anniya… anni… anni… aku tidak mau bakai baju belum jadi seperti ini…” bisikku.
“Yaaa…apa kau bilang? Belum jadi? kau tahu berapa harga baju ini?” katanya sambil memperlihatkanku tag baju yang aku pakai.
“Woaaah…biarpun baju ini seharga milyaran Won aku tidak minat memakainya…” aku kembali
ke ruang ganti.
“Yaaa…issssh… dasar keras kepala! Bagaimana kau bisa buta masalah fashion?”teriaknya.
“Akutak butuh pendapatmu, aku akan memilih baju yang sesuai dengan keinginanku!” teriakku meninggalkannya dengan wajah dongkol.
Aku memilih baju dress sedikit di bawah lutut dengan di lapisi broklat berwarna putih tulang dengan puring berwana ungu muda. Dres dengan lengan panjang dan hanya broklat saja di bagian lengannya di tambah dengan ikat pinggang dari kain satin berwarna gold serta agak melebar bagian bawahnya ini membuatku sangat nyaman memakainya. Aku menuju ke arah Yoon Jin yang masih bermuka masam. Aku benar-benar melihatnya terpukau sekarang, aku tak peduli berapa harga baju ini. Yang jelas aku menyukainya. Aku berjalan memutar dan menggerak-gerakkan dress bagian bawahku layaknya seorang princess yang sedang siap berdansa.
“Bagaimana?Lebih bagus dari tadi, kan?” aku melemparkan senyumku semanis-manisnya.
“Lumayan..”jawabnya.
“Kajja… kita langsung membayarnya dan menuju ke outlet heels,” ia menarikku keluar toko.
“Changgamanyo…! Baju ku..” aku menunjuk ke arah tempat pergantian baju.
“Hamsamnida…” kataku kepada petugas penjaga toko sambil senyum ke arahku.
“Yaaa… kajja waktu kita tidak banyak. Kenapa susah sekali membeli baju seleramu..” dengusnya.
“Cantikitu tidak harus terbuka. Menurutku baju yang lebih tertutup lebih aman dan nyaman,” jawabku sambil menggerak-gerakkan dress bawahku.
“Isssh…apa iya seperti itu?”
“Yaaa…apa kau rela tunanganmu berpakaian terbuka dan di lihat banyak pria di sana? Isssh… aku bukan sesuatu yang mudah kau pamerkan ke semua orang!”
Ia tertegun mendengar jawabanku. Dan tidak lagi banyak bicara. Kami sampai didepan outlet yang menjual banyak model sepatu. Ah… aku paling benci jika harus menggunakan high heels.
“Yaaa…Yoon Jin-a bisakah aku menggunakan flat saja? Aku sungguh tidak pernah memakai ini sebelumnya” kataku sambil sedikit kesulitan berjalan menggunakan heels sekitar dua belas sentimeter.
“Ini kelihatan cocok untukmu…” ia menyodorkan sebuah sepatu berwarna gold dengan aksesoris bintang mengkilau
di bagian pinggirnya.
“Ne… aku suka ini. Tidak terlalu tinggi…dan…” mataku berbinar-binar melihatnya.
“Ada aksesoris bintangnya…iya kan?”
“Betul sekali…”
Tak lama kemudian kami menuju ke salon. Ah… apa lagi ini. Aku sungguh capek dengan ini.
“Yoon Jin-a… aku capek…!” bisikku.
“Issssh…kenapa ada perempuan sepertimu. Perempuan normal itu akan bahagia ketika di
belikan baju, sepatu, ke salon oleh namja cingunya… tidak sepertimu…!” katanya.
“Aaaah…
ini sama juga buang-buang uang dan waktu!” gerutuku. “Kalau tidak demi Kayla,
aku sungguh malas dengan semua ini.”
Entah
apa yang di katakan Yoon Jin kepada pemilik salon. Aku malas mendengarnya. “Asal
tidak terlalu menor saja!” bisikku kepada Yoon Jin saat memasuki salon tadi.
Aku melihat Yoon Jin memberikan sebuah kotak kepada pemilik salon dan pemilik
salon memberikannya kepada petugas penata rambut.
Kurang
lebih satu setengah jam aku duduk diam tak bergerak membiarkan orang-orang
mengacak-acak rambut dan mengoles-oleskan sesuatu di wajahku. Bagaimanapun aku
belum tahu bentukku sekarang karena dari tadi aku hanya melihat Yoon Jin yang
duduk di depanku dengan sebuah majalah di tangannya. Ini semua membuatku
mengantuk. Aku merasa wajahku ringan dan segar, entah make up apa yang mereka
oleskan ke wajahku, tapi sungguh membuatku merasakan perasaan yang sangat
nyaman, tidak hanya tekstur yang lembut namun juga harum yang menenangkan,
membuat rasa kantukku semakin menjadi. Petugas salon memintaku untuk membuka mata
dan berbalik ke belakang yang terdapat cermin besar. Aku melihat sesuatu di
balik cermin itu. Rasa kantukku seketika menghilang ketika melihat bayanganku.
“Woooah…
kenapa aku bisa berubah menjadi seeorang bidadari secantik ini…?” gumamku. Aku
melihat rambutku sedikit berwarna kecoklatan terurai namun terlihat lebih
bervolume dan lebih lembab di hiasi sesuatu yang indah di atasnya.
“Yeppo…yeppotta…” Yoon Jin memujiku dari
belakang. Aku tersenyum melihatnya.
Kini
pandanganku terpaku pada sesuatu yang menghiasi rambutku. Aaah… seperti jepit
rambut dengan permata berbentuk bintang. Cantik sekali.
“Apa
kau yang membelikan jepit rambut ini untukku?” tanyaku sambil memegang jepit
rambut yang bertengger di atas rambutku.
“Tentu
saja, dulu aku pernah membuang ikat rambutmu. Aku lebih suka rambutmu terurai
seperti ini. Terlihat lebih seksi ketika angin mempermainkannya…” bisiknya di
telingaku. Itu membuat pipiku memerah seketika.
“Ah..
aku punya sesuatu lagi untukmu” kemudian ia mengeluarkan seuatu dari saku jasnya.
Berupa kotak sama seperti yang tadi di berikan kepada petugas salon, tapi ini
sedikit lebih lebar.
“Apa
ini?” tanyaku. Ia membuka kotak itu dan ternyata sebuah gelang emas putih yang
terdapat aksesoris bintang yang mengelilingi setiap sisinya. Ia mengambil
gelang itu dan memakaikan ke pergelangan tangan kananku.
“Wooaaah… yeppota…” aku melihat sebuah gelang
manis yang melingkari pergelangan tanganku.
Ia
melihatku denga senyum manisnya kemudian bertanya, “Kau suka?”
“Ne… suka sekali…!” jawabku.
“Kajja… kita akan terlambat kalau terlalu
lama di sini!” ia menggandengku menuju ke area parkir mobil.
Tak
lama kemudian kami sampai di parkiran hotel tempat pesta pernikahan Kayla.
Sungguh luar biasa pemandangan yang aku lihat. Semua seperti di drama-drama Korea
yang pernah aku tonton. Para tamu undangan yang luar biasa penampilannya.
Wooah… ada untungnya Yoon Jin mengajakku berdandan seperti ini.
“Kau
cukup tersenyum sambil menganggukan kepalamu saja, Oke? Jangan menjawab
pertanayaan dengan jawaban yang aneh-aneh… arrachi?”
bisikk Yoon Jin.
“Isssh…
aku tidak akan melakukan hal bodoh… aku tahu itu!” aku dengan memanyunkan
bibirku.
Aku
berjalan melewati koridor hotel dan memasuki gedung tempat acara pernikahan Kayla
berlangsung. Aaah.., seberuntung inikah Kayla sekarang? Padahal rasanya baru
kemarin kami tumbuh bersama. Sekarang jalan kami sudah berbeda. Tapi yang tidak
akan pernah berubah adalah persahabatan. Baik ketika kita masih kecil hingga
mempunyai banyak cucu kelak. Aku mengucapkan selamat kepada Kayla dengan gaun yang
seperti seorang putri kerajaan. Ia menggunakan gaun yang berwarna jingga
mengesankan kemewahan karena tersorot lampu utama ruangan. Aku melihat ibunya
Kayla dan juga beberapa saudaranya dari Jakarta. Mereka terlihat aneh melihatku
ketika menggandeng Yoon Jin di sampingku. Banyak pasang mata yang seakan
melihat gerak-gerik kami. Entah itu netizen atau wartawan aku tidak ambil
pusing. Toh wajahku juga sudah terpampang jelas beberapa waktu lalu ketika
pertunanganku dengan Yoon Jin berlangsung.
Dreams
telah mengalunkan beberapa lagu yang lembut membuat para tamu undangan
terhanyut dengan semua liriknya. Aaah… lima personil Dreams ini seakan berhasil
menyedot perhatian para tamu undangan melebihi kharisma pasangan pengantinnya.
Selesai dengan lagu terakhirnya Yoon Jin menghampiriku dan kembali menggandeng
tanganku. Nampak ia mengajakku berkeliling sambil mengenalkanku ke beberapa
laki-laki setengah baya yang sepertinya adalah orang-orang penting di
perusahaan Om Shoni. Aku juga melihat Om Shoni dengan tante yang sedang asyik
mengobrol dengan sahabat-sahabatnya. Namun tak ku sangka aku melihat
pemandangan yang membuat mata dan tenggorokanku seolah berhenti bekerja.
Dari
kejauhan aku melihat seorang gadis berkulit putih mulus khas oriental
menggunakan dress hitam dengan syal
bulu di lehernya, rambutnya yang ditekuk ke belakang mengesankan kehidupannya
yang glamor. Ia berjalan ke tempat aku dan Yoon Jin berdiri sambil sesekali
melempar senyum manisnya. Sepertinya gadis ini seusia denganku walaupun
penampilannya jauh lebih elegan dan terkesan dewasa.
“Yoon
Jin-a… jal jinesseoyo?” suara itu
begitu lembut masuk ke dalam kedua telingaku. Tanpa aku sempat melihat
bagaimana prosesnya, gadis itu langsung mencium pipi kanan dan kiri Yoon Jin.
Mataku membelalak sempurna. Ingin rasanya menampar gadis itu. “Apa ia buta?
Aku, tunangan Yoon Jin berada di dekatnya. Kenapa ia main srobot saja?”
gerutuku dalam hati.
“Aaa…Yoona-ya… jeonen jal jisseoyo” jawab Yoon Jin
yang sedikit gugup menerima serangan tak di duga dari gadis yang bernama Yoona
itu. Aaah..aku berharap bisa bertahan dengan perasaan mematikan seperti ini.
Mataku terasa di serang katarak dan tenggorokanku terasa di serang panas dalam
separah-parahnya. Aku hanya tersenyum kecut melihat Yoon Jin mengenalkan aku kepada
gadis menjengkelkan itu. Aku melihat Yoon Jin yang berbincang-bincang sesekali
gadis itu tersenyum manis mendengar celotehan Yoon Jin. Aku jengah mendengarkan
ocehan mereka. Ingin rasanya aku tuli saat itu juga. Tak lama kemudian sepertinya
gadis itu dipanggil oleh seorang laki-laki yang lumayan sudah berumur untuk segera
menemuinya. Dari Yoona menjawab panggilan laki-laki tua itu, aku tahu kalau ia
adalah ayah Yoona.
Yoona
berjalan memunggungiku dan Yoon Jin. Segera aku melihat Yoon Jin dengan tatapan
yang aku yakin paling menyeramkan yang pernah ia lihat. Sedetik kemudian
cubitan keras menghampiri perut sebelah kanannya.
“Aaaarghh…
Ricka-ya… Mian… aku bisa menjelaskan
semua…” teriak Yoon Jin tertahan.
“Issssh…kau
akan menjelaskan apa ketika aku bisa melihatmu dengan jelas menerima serangan
maut itu dengan perasaan penuh bunga di otakmu?” gertakku.
“Yaa…
aku tidak berbunga-bunga kok!” aku melihat jelas wajahnya memerah.
__ADS_1
“Kenapa
wajahmu memerah, ha?” tanyaku
“Wajahku
memerah karena cubitanmu terlalu sakit… arrrgh… aphaa..” rintihnya.
“Haiissssh…
kenapa pesta Kayla yang awalnya sangat sempurna dari awal berakhir menyeramkan
seperti ini…” gerutuku.
Yoon
Jin menarikku keluar ruangan pesta.
“Yaaa..apa
yang kau lakukan? Pestanya kan belum selesai? Lagi pula kita belum pamit dengan
Kayla dan suaminya…” bisikku. Nampaknya Yoon Jin tidak mau mendengar
perkataanku dan kemudian menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil.
“Yaaa….kita
mau kemana?” aku sedikit berteriak. Tapi Yoon Jin masih tidak menjawabku dan
semakin mempercepat laju mobilnya. Aku berhenti bertanya karena aku tahu kemana
arah mobilnya melaju. Kita kembali ke sungai Han. Tempat yang memang paling pas
untuk saling menumpahkan perasaan. Yoon Jin turun dari kemudinya, dan duduk di
bagian depan mobilnya. Aku pun mengikutinya bersandar di depan mobilnya sambil
melipat tanganku ke depan.
“Mengapa
kau mengajakku kesini?” tanyaku tanpa melihat ke arahnya.
“Tempat
ini adalah tempat yang cocok mendengarkan semua celotehanmu itu…” ia menjawab
tanpa melihatku melainkan melihat aliran tenang sungai yang tak jauh di depan
kami. Aku tidak menjawab perkataan terakhirnya.
“Mwoo? Ada apa ini? Kenapa kau tidak
mengatakan apa pun? Bukannya tadi saat di pesta kau terlalu banyak bicara?”
tanya Yoon Jin kini ia melihatku dengan pandangan aneh.
“Yaaa..
Yoon Jin-a… mentang-mentang sekarang kau terkenal kau menjadi lebih leluasa dicium
sembarangan yeoja, ha? Apakah kau
tidak memiliki rasa takut sedikit pun kepada tunanganmu? Mengapa kau terlihat
sangat menikmati ciuman itu? mengapa kau tidak menghindari ciuman tadi? Mengapa
kau seakan menyodorkan kedua pipimu itu? Aaah… bahkan aku tunanganmu sama
sekali belum pernah menyentuh pipimu…” kataku sambil memperlihatkan tanduk di
kedua kepalaku. Ia hanya melihatku tenang terkadang tersenyum kecil melihat
ekspresiku.
“Lanjutkan…”
ia melihatku dan melipat kedua tangannya di depan.
“Aku
sungguh-sungguh membenci yeoja itu? Nugu-ya? Mantan kekasihmu? Atau teman
kecilmu? Atau yeoja yang selama ini
selalu mendekatimu? Atau siapa dia? Ah… rasa-rasanya ingin sekali aku menjambak
rambutnya saat itu juga! Kenapa kau tega sekali melakukan itu kepadaku… aku
bahkan belum pernah sekalipun menciummu… kenapa dia…” tiba-tiba sesuatu menyentuh pipi kananku.
“Aaah…
Yoon Jin-a… apa yang kau lakukan?” teriakku sambil mengusap pipi kananku.
Aaah…barusan
apa yang ia lakukan? Ia menciumku? Aaah…bisa gila aku.
“Yaaa..kenapa
kau …” belum sempat aku melanjutkan perkataanku ia kembali mengecup pipi
kiriku. Alhasil sekarang aku menutup kedua pipiku dengan menggunakan kedua
telapak tanganku.
“Bagaimana?
Apa kau bisa menolaknya?” tanyanya dengan ekspresi menjijikkan.
“Yaaa…
aku ingin pulang! Ah… Di sini dingin sekali…!” teriakku. Aku yakin kedua pipiku
memerah sekarang. Tidak dingin sebenarnya yang aku rasakan, melainkan hawa
panas yang membuatku seperti terpanggang satu jam dalam oven berkekuatan
maksimal.
“Isssh…
kenapa hawanya menjadi panas begini” bisikku perlahan.
“Bukannya
tadi kau bilang, kau kedinginan?” kali ini Yoon Jin berhasil meluncurkan
pertanyaan yang membuat seakan seluruh air Sungai Han meluap dan akan
menelanku.
“Aku
tidak berkata apa-apa…” kataku perlahan. “Aisssh… kenapa telinganya begitu
tajam” pekikku dalam hati.
“Yoona
adalah temanku dari SD... ia adalah rekan bisnis appa pertama dari Korea…” Yoon Jin membuka percakapan mengenai
gadis tadi.
“Aku
tidak tanya..” jawabku melengos ke arah lain.
Ia
hanya tertawa tertahan. “Mian..lain
kali aku akan lebih hati-hati…oke…” ia masih tertawa sambil menatapku. Aku tak
menjawabnya, melainkan membuang muka. Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “yaaa…!
Apa kau akan marah dengan hal kecil seperti itu?”
“Anniya… aku marah kenapa kau tiba-tiba
menciumku..” aku masih memegang kedua pipiku.
“Apa
tidak boleh? Kita kan sudah tunangan?” ia mendekatiku.
“Isssh…tunangan
bukan berarti kau bebas menciumku…!” jawabku sambil mengeluarkan lirikan
harimauku.
“Emmm…
bagaimana kalau ada seorang produser memintaku untuk bermain di sebuah drama?
Aaaah…pasti kan ada adegan…” kini ia tertawa geli menjijikkan.
“Yaaa… neo mychoseo? Kau ingin mati di
tanganku?” teriakku.
ia tertawa renyah.
“Andweee…jangan terima itu dulu…” kataku.
“Emmm…
bagaimana ya? Tawarannya sungguh menggiurkan? Karirku akan semakin mananjak…” perkataannya
sungguh menjengkelkan untuk didengar.
“Awas
kalau kau sampai menerima tawaran itu…hmmmmm” aku mengepalkan tanganku ke
arahnya. Ia menggenggam kepalan tanganku itu dan menarikku ke depan tepat di
dadanya. Jantungku mendadak berhenti berdetak. Pori-poriku seakan menganga
membuat hawa dingin semakin dingin dan membuatku merinding. Apa yang akan di
lakukan Yoon Jin selanjutnya seakan bom atom yang siap meledak kapan pun berada
tepat di kepalaku. Aku merasa tubuhku kaku, dan sulit digerakkan. Aku melihat
dengan jelas Yoon Jin semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Ah… aku sungguh
tidak menyangka apa yang akan terjadi selanjutnya. Kenapa tubuhku bisa mendadak
lemas begini. Tanganku membeku dan aku yakin aku sudah tidak bernapas sekarang
ini. Entah bagaimana aku menggambarkan perasaan ini. Kenapa sangat sulit aku
deskripsikan. Wajah tampan itu semakin mendekat dan semakin dekat. Bahkan aku
dapat merasakan napas hangatnya menyentuh pori-pori wajahku. Dan…
“Hooaaaaheeem…Yoon
Jin-a… entah sejak kapan aku mulai mengantuk…” kataku dan menutup mulutku
dengan tangan kananku serta memundurkan langkah kakiku menjauhinya. Aku
melihatnya membeku dengan posisi semula.
“Yoon
Jin-a… Waegereo?” tanyaku polos.
“Yaaaa…kenapa
kau selalu merusak suasana, ha?” tanyanya dengan nada suara jengkel.
“Apa
maksudmu?” aku pura-pura tidak mengetahuinya.
“Isssh…
selalu begitu. Kenapa kau selalu menghindarinya?” tanyanya.
“Aaah…
itu… aku menghindarinya karena belum waktunya…” jawabku sekenanya.
“Lantas
kapan waktu yang tepat?” tanyanya jengkel.
“Setelah
aku lulus kuliah…” jawabku.
“Yaaaa…Ricka-ya…kau
benar-benar membuatku gila…” ia mendengus kasar sedangkan aku tertawa ringan.
“Kajja… mungkin Om Shoni dan tante mencari
kita…” aku menggandeng tangannya mendekati mobil.
“Kita
langsung pulang saja…” nada suaranya masih terdengar jengkel.
“Yaaa…
kau jangan marah…” aku menoleh ke arahnya.
“Anniya…
aku hanya capek…! Kau dengar? Hanya capek…” aku menilainya bukan capek, tapi
emosi tingkat tinggi. Aku hanya tersenyum ringan ke arahnya.
Mobil
melaju sedang, aku mengirim pesan line ke Kayla intinya minta maaf sudah pulang
tanpa pamit. Yoon Jin lebih banyak diam dari pada berangkat tadi. “Aaah… mungkinkah
ia benar-benar kecewa?” bisikku dalam hati.
“Yoon
Jin-a… apa kau kecewa?” aku memberanikan untuk bertanya.
“Anniya… aku hanya berfikir mengapa kau
selalu menolakku? Apa kau tidak menyukaiku? Tapi kenapa kau mau bertunangan
denganku?” Yoon Jin masih menatap lurus
ke dapan kemudinya.
“Saranghae….aku benar-benar mencintaimu…”
aku melihat ke arahnya.
Ia
menepikan mobilnya. Menatapku penuh arti.
“Dalam
suatu hubungan manis, kita dapat melihat kecantikan dan ketampanan orang yang
kita cintai tanpa harus membuka baju mereka, kita dapat merasakan hangatnya
cinta mereka tidak harus dengan bersentuhan bibir. Namun…di sini…” kataku
mengarahkan tangan kananku tepat di jantungku, kemudian melanjutkan kalimatku, “di
sini kita merasakan sesuatu yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Rasa
dimana kita sangat nyaman berada di dekatnya walau tanpa menyentuhnya, rasa
dimana kita seakan tidak bisa bernapas jika tidak menemukannya… aku yakin, akan
ada saat lebih indah ketika kita harus melakukannya…” aku melihatnya menatapku
penuh arti.
“Ne… aku paham maksudmu. Mulai sekarang
jangan pernah menggodaku untuk melakukannya. Kalau kau tidak ingin menyesal dan
aku jamin kau tidak akan bisa menolaknya…” kini tatapannya seperti seorang
pembunuh.
“Woaaah…
menyeramkan…!” jawabku.
“Ingat…kau
tidak akan melakukannya dengan siapa pun! Tidak dengan model albummu atau siapa
pun… arrha?” aku mengancamnya.
“Aku
tidak janji…” jawabnya dengan enteng.
“Yaaaaa….”
Teriakku sambil mencubit perut kanannya.
“Aaaarghh… nee… arrhasso…” jawabnya.
“Sebaiknya
kau tunggu sampai kita siap menikah…”
“Ne..aku
akan tunggu saat itu…” jawabnya. Mobil telah sampai di garasi rumah. Aku dan
__ADS_1
Yoon Jin memasuki ruang depan, betapa terkejutnya karena ternyata ada ayah dan
bunda di sana.
“Ayah…
Bunda…” aku memeluk mereka bergantian.
“Apa
kabarmu sayang…” Bunda membelai rambutku yang masih dalam pelukannya.
“Baik
Bunda… kenapa Ayah dan Bunda kembali lagi ke sini? Apakah ada hal penting?”
tanyaku heran, karena mungkin baru seminggu kemarin ayah dan bunda kembali ke
Indonesia setelah pertunanganku dengan Yoon Jin terlaksana.
“Ricka,
kamu besok harus segera kembali ke Jakarta. Kuliahmu akan di mulai tiga hari ke
depan…” jawab Ayah.
“Apa?
Secepat itukah Ayah? Kenapa ayah baru memberitahuku?” tanyaku sedikit panik.
“Maafkan
Ayah Nak, ayah terlalau sibuk dengan pembukaan bisnis baru di Bali, kemarin
dari pihak kampusmu menelpon Ayah untuk memberitahumu kalau perkuliahan akan di
mulai tiga hari lagi. Untuk itu ayah kesini menjemputmu…” kata ayah.
Aku
terdiam beberapa saat. Kenapa perasaan ini sangat berat rasanya. Aku menatap
Yoon Jin. Aku melihat otot menegang di antara lehernya. Aku tahu ia juga pasti
kecewa.
“Kita
akan berangkat besok pagi-pagi buta.” Ayah membelai rambutku.
“Ayah…
aaah… kenapa cepat sekali…!” teriakku tertahan.
“Apa
kau ingin melanjutkan kuliah di sini saja?” tanya Bunda.
“Tidak
Bunda… aku akan menyelesaikan kuliahku di Jakarta,” aku manarik napas
dalam-dalam kemudian kembali berkata, “emmm… kalau boleh.. Ricka ingin tidur
lebih cepat…” aku membungkukkan punggungku kemudian menaiki tangga demi tangga
menuju ke arah kamarku. Ttak disangka air mataku kini mulai mengalir deras.
Aaah… hampir setahun aku di Negeri Gingseng ini, kenapa sangat sulit aku
meninggalkannya? Aku terisak tepat di depan kamarku.
Aku
melihat ke sosok yang sekarang tak jauh dariku. Wajahnya terlukis getaran
kesedihan yang sama denganku. Matanya merah dan bibirnya bergetar. Ia berjalan
perlahan mendekatiku yang sedang membungkuk di depan pintu kamarku. Ia semakin
mendekat dan mendekat. Ia memelukku dari belakang. Kini aku merasakan dagunya
menyentuh pundakku sebelah kanan. Aku merasakan aura yang aneh, dan aku tahu
sekarang ia menangis. Bahkan aku dapat mendengar isakan tangisnya yang sangat
lirih itu.
Aku
membalikkan tubuhku menghadapnya kemudian memeluknya sekuat yang aku bisa.
Seakan aku tidak ingin melepas pelukan ini sampai kapan pun. Kami sama-sama
tidak berkata apa pun. Hanya diam dan saling memeluk satu sama lain. Aku sama
sekali tidak menyangka waktu kita bersama hanya malam ini. Besok aku harus
sudah berangkat ke Jakarta.
“Yoon
Jin-a… saranghae… saranghae… nommu-nommu sarangahae…” bisikku masih dalam pelukannya.
“Nado-yo… saranghae Ricka-ya…” ia membelai rambutku.
Entah
bagaimana bisa kami tertidur dengan posisi duduk di depan pintu kamarku dalam
ke adaan berpelukan. Aku merasa mataku sulit untuk di buka ketika Yoon Hee berusaha
membangunkan kami.
“Ricka-ya…
kau harus segera bersiap-siap!” suaranya memabngunkan tidurku yang terasa
sangat singkat, sedangkan Yoon Jin masih erat memelukku.
Aku
hanya menganggukkan kepalaku ringan ke arah Yoon Hee dan ia segera pergi dari
tempatku dan Yoon Jin berada. Aku yakin, tatapan Yoon Hee seperti tatapan
kasihan melihat kami berdua yang mungkin terlihat mengenaskan.
“Ricka-ya…
bisakah kau bercerita seberapa jauh Seoul dengan Jakarta?” tanya Yoon Jin masih
dalam keadaan mata tertutup.
“Kau
sudah bangun? Emmm…sejauh ini…” aku membuka telapak tanganku.
“Ghojimal…” jawabnya sambil tersenyum
tipis.
“Yoon
Jin-a… berjanji padaku. Setelah lulus kuliah kau akan menjemputku…” aku
menatapnya dalam-dalam.
“Aku
berjanji…” jawabnya.
Aku
menggerakkan tubuhku mencoba bangkit dan segera bersiap-siap. Aku tidak membawa
banyak barang, seperti yang aku lakukan saat pertama kali ke sini. hanya
membawa koper dan tas punggung kecil. Namun aku membawa kenangan yang luar
biasa besarnya selama aku tinggal di sini.
Setelah
bersiap-siap aku hendak menuruni tangga. Tapi samar-samar aku mendengar
percakapan Yoon Hee dengan Yoon Jin. “Yoon Jin-a… kenapa kau tidak melarang
Ricka untuk pulang ke Indonesia? Apa kau tidak takut, kalau Ricka akan kembali
menyukai namja itu? siapa namanya?
Andra?” aku mendengar suara Yoon Hee.
“Apa
maksudmu? Ricka tidak mungkin seperti itu… Apalagi kita sudah bertunangan, dan
aku sangat percaya kepadanya. Jodoh tidak akan tertukar, kau harus paham itu,”
jawab Yoon Jin.
Setelah
mendengar percakapan mereka, ada perasaan aneh yang muncul dalam benakku.
“Apakah benar setelah pulang ke Jakarta perasaan yang selama ini ada untuk
Andra tiba-tiba berubah? Aku harus benar-benar membuktikannya!” kataku dalam
hati.
Setelah
sampai di bandara Incheon mataku kembali menyapu lokasi bandara di mana dulu
tempatku pertama mengunjungi Negara Gingseng ini. Tempat bertemu dengan Yoon
Jin yang sekarang adalah tunanganku. Setelah berpamitan kepada Om Shoni, tante, Yoon Hee, kak Ji Sung dan Mi Yun, aku
tak kuasa menahan tangis. Sekian lama berada di sini mereka selalu melukis
kenangan manis yang membuatku enggan untuk kembali ke Jakarta. Terakhir aku
menatap sosok di depanku yang lebih tegar dari sebelumnya.
“Yoon
Jin-a… kau harus bisa menjadi bintang terkenal ya… karena kau layak menjadi
seorang bintang... jaga hati jangan sampai mudah tergoda oleh yeoja secantik apa pun dia…! Jangan
pernah menerima tawaran main drama berapa pun bayarannya! Apa lagi drama
percintaan Arrhaa? Kau tidak boleh menyentuh yeoja siapa pun kecuali tante, Yoon Hee, dan Mi Yun. Dan sering-sering
menghubungiku ya…” kataku sambil memeluknya.
“Kau
juga…jangan pernah mencoba dekat-dekat dengan namja mana pun, setampan apa pun, oke? Jangan pernah tersenyum
dengan sembarang orang, dan yang terpenting segera luluskan kuliahmu…!” terdengar
suara Yoon Jin sedikit bergetar. Aku mendengar ayah memanggilku pelan. Aku
menoleh ke arahnya dan melepaskan pelukan Yoon Jin. Aku melangkah menjauhi
mereka yang terpaku melihat kepergianku. Sekuat tenaga aku menahan air mataku
yang semakin deras dan semakin membuat hatiku sakit.
Penerbangan
berlangsung kurang lebih tujuh jam. Mengapa perasaan ini berbeda sekali saat
pertama berangkat ke sini. aku sangat-sangat berat meninggalkan Negeri Gingseng
yang indah ini. Sekarang aku paham mengapa takdir membawaku ke sini, takdir
yang mempertemukan aku dengan seseorang yang selama ini menemaniku dalam mimpi.
Kalau tidak begini, aku akan terus terjebak dengan perasaan palsu kepada Andra.
Ah… aku belum begitu yakin kalau tidak memeriksanya sendiri. Aku harus menemui
Andra dan memastikan bahwa sudah tidak ada perasaan lagi terhadapnya. Aku
berterimakasih kepada takdir telah membawaku ke Seoul beserta semua mimpi manis
di dalamnya. Tak lama kemudian aku tertidur hingga akhirnya aku mendengar suara
bunda menyebut namaku.
“Ricka…
bangun sayang…! Kita sudah sampai di Jakarta…” kata Bunda dengan lembut.
“Aaah…
akhirnya pulang juga. Aku merenggangkan seluruh ototku yang kaku karena dari
semalam tidur dalam posisi duduk sehingga membuat seluruh ototku menegang.
Setelah keluar dari bandara aku bersiap pulang ke rumah. “Aaah…udara ini. Udara
yang sangat aku rindukan selama ini. Langit itu… pohon-pohon… asap kendaraan… aaah…
ini Jakartaku…!” teriakku dalam hati. Setelah setengah jam perjalanan aku
sampai di rumah tempat aku di besarkan. “Dua hari lagi mulai kuliah… kenapa
rasa malas justru menghampiriku…” bisikku dalam hati.
“Ayah
boleh aku pinjam ponselnya sebentar?” tanyaku.
“Ini
dia…” Ayah memberiku ponsel yang baru di ambilnya dari saku celananya.
Aku
segera mencari nomor Yoon Jin dan menghubungi nya lewat panggilan video di Whattsap.
“Kau
sudah sampai?” kata sosok yang ada di dalam layar ponsel yaitu Yoon Jin.
“Ne…
aku sampai dengan selamat…”
“Bogosiphoso…”
“Nado-yo…”
“Istirahatlah…
aku bisa melihat matamu seperti mata panda karena lama tak melihatku…” kata
Yoon Jin sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
“Isssh… Ne… kau sedang apa?” aku melihat di
sekelilingnya.
“Aaah…
aku akan rekaman untuk album kedua bersama personil Dreams…” kini Yoon Jin
memperlihatkan situasi di dekatnya. Aku melihat Hae Sung dan lainnya
melambaikan tangannya kepadaku. Aku membalas lambaian tangan mereka.
“Silahkan
di lanjutkan... aku sedikit mengantuk…” kataku sambil sedikit menahan untuk tidak
menguap.
“Tidur
yang nyenyak ya… segera ganti ponselmu dan hubungi aku! Tidak nyaman kalau pakai
ponsel ayah mertua…” ucapnya kemudian disusul gelak tawa personil Dreams yang
lain.
“Iya…
pasti! Aku tutup ya…bye…” aku menutup video
callnya.
Aku
merebahkan tubuh ke tempat tidur kamarku. Menikmati semua pemandangan yang ada
dalam ruangan itu. Entah mengapa aku sangat merindukan kamarku yang di Seoul. Mengapa
di antara banyak waktu aku di Seoul, hanya saat-saat terakhir yang aku rasa
paling membahagiakan? Aku memejamkan mataku dan mengenang kembali momen-momen
bersama tunanganku itu. Begitu indahnya. Sejak aku dan Yoon Jin saling
mengungkapkan perasaan, aku sama sekali tidak pernah bermimpi tentangnya. Entah
kenapa… laki-laki yang berwajah buram yang mengaku bernama Yoon Jin itu sudah
tidak pernah menemuiku lagi.
Aku
berencana besok akan kembali ke kos. Aku sudah merindukan kamar kos setelah
setahun meninggalkannya. Aku rindu dengan Risa dan teman-teman lain. Walaupun
aku setahun tidak menggunakan kamar kosku, dulu aku sempat meminta ayah untuk
__ADS_1
tetap memperpanjang sewa kosnya. Karena sebagian besar barang-barangku masih
tersimpan di sana. Dan tak lama kemudian aku pun tertidur pulas.