
“Apa-apaan ini…? Kenapa bunga cherry seakan berguguran dengan indahnya. Bayangan mereka yang tadi berjalan bersamaku kenapa aku tidak melihatnya lagi? Aaah… apa aku sungguh sudah berada di alam lain? Apa aku sudah mati? Kenapa bajuku berubah menjadi putih begini? Bukannya tadi aku hanya memakai kaos dan celana training di bawah lutut? Aah… tempat apa ini? Kenapa begitu indahnya? Kenapa aku seakan benar-benar merasakan angin yang menampar seluruh kulitku?” aku bertanya-tanya.
Aku melihat ke sekeliling. Ini bukan kebun yang aku lalui saat bersama dengan Mi-Yun dan yang lain tadi. Aku seperti sedang berada di atas sebuah bukit. Samar-samar aku mendengar suara deburan ombak yang berirama saling bersahutan. Sesekali suara burung camar yang memekik seakan memperjelas bahwa aku berada di atas bukit dengan pantai di bawahnya.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya di hiasi bunga rumput berwarna jingga. Aku berjalan sesuai naluriku membawa langkah kakiku. Aku mendekati bibir tebing, aku hanya meyakinkan tempat apa ini. Aku sepertinya belum pernah melihat tempat seindah ini sebelumnya baik di Indonesia maupun di Korea. Apakah sungguh ini yang dinamakan surga?
Cahaya matahari yang hangat menerpa pipiku. Tampak samar-samar aku melihat sesosok pria sedang berdiri menghadap ke laut lepas. Pakaiannya berwarna putih sepertiku. Dari belakang aku sangat mengenal punggung itu. Aaah… apakah saat ini aku sedang bermimpi bertemu dengan pangeran berwajah buram? Kenapa jantungku berdetak seirama namun jauh lebih cepat dari sebelumnya? Ah… ini saat yang aku tunggu-tunggu. Kenapa saat seperti ini otakku bekerja normal? Kenapa seakan aku mengingat semuanya yang pernah terjadi. Sepertinya hatiku mengatakan aku sangat mengenal laki-laki ini. Aku melangkahkan kakiku perlahan mendekatinya.
Aku memantapkan hatiku untuk memastikan apakah aku benar-benar bisa atau tidak melihat wajahnya saat ini. Aku harus benar-benar memastikannya dan tidak melupakannya saat aku terbangun dari mimpi ini nanti. Ketika jarak punggung itu tidak terlalu jauh, aku melihat punggung itu bergerak memutar. Kali ini jantungku seakan berhenti berdetak sungguhan. Ah… wajah itu… kenapa wajah itu menjadi sangat jelas? Ah… aku sekarang benar-benar melihat wajah itu.
“Ricka-ya… kau datang?” suara itu benar-benar masuk kedalam kedua lubang telingaku.
Ia berjalan melangkahkan kakinya mendekatiku. Aku terkejut dibuatnya ketika ia memelukku dengan erat.
Ah… perasaan apa ini? Kenapa aku sangat menyukai pelukan ini?
Seperti pelukan yang selama ini aku dapatkan dalam mimpi-mimpiku dengan pangeran berwajah buram sebelumnya. Aku mendengarkan detak jantungnya yang sama sepertiku. Berirama namun terasa lebih cepat dari biasanya. Hembusan napasnya yang terasa sejuk di sela-sela rambutku yang terurai.
“Aku merindukanmu...” kata sosok itu.
__ADS_1
“Apa kau… selama ini yang datang dalam mimpiku?” tanyaku terbata-bata.
Aku merasakan belaian lembut di atas kepalaku.
“Yaa… ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu? Bukannya kita selalu bermain ke tempat ini dari kita masih kecil?” sosok itu melihatku dengan pandangan yang menusuk ke dalam.
“Siapa kau?” aku mengernyitkan dahiku.
“Kau tak mengenalku?” tanyanya dan perlahan melepas tangannya yang dari tadi memegang lengan atasku.
“Bagaimana bisa kau tidak mengenalku? Padahal hampir setiap hari aku mendatangi mimpimu…,” tanya sosok itu dan membalikkan tubuhnya kembali ke arah lautan lepas.
“Iya… aku sudah menemanimu selama bertahun-tahun….” Ia masih belum melihatku.
“Aah… tidak mungkin. Jadi selama ini… kau lah pria yang selalu aku mimpikan?”
“Ya… dapat aku pastikan kau tidak pernah memimpikan laki-laki lain selain aku dan ayahmu…” kata sosok yang mengaku Yoon-Jin itu.
“Bagaimana bisa…? Kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi kenapa kita sudah bertemu dalam mimpi?”
__ADS_1
“Itulah takdir yang mengikatku denganmu….”
Aku mundur beberapa langkah dari asal tempatku berdiri. “Ah… apa-apaan ini? Apakah ini hanya halusinasi saja? Jadi… perasaanku ke Andra yang aku kira selama ini selalu ada dalam mimpiku ternyata bukan dia…? Aah… kenapa aku mendadak pusing…” aku memegang kepalaku. Sekelebat kepingan demi kepingan bayangan dari mimpi-mimpi itu muncul. Aku melihat diriku yang masih berusia belasan tahun saat itu dan laki-laki yang aku kira Andra berubah wajah berganti dengan Yoon-Jin yang masih terlihat sangat muda.
Aah…ternyata benar. Kenapa baru sekarang aku mengingatnya? Kenapa setelah bangun dari mimpiku semua berganti seolah-olah Andra lah yang ada dalam mimpiku? Selama ini aku menganggap perasaanku terhadap Andra adalah perasaan cinta karena Andra lah yang selalu muncul dalam mimpiku. Dan ternyata itu bukan dia! Takdir macam apa ini? Kenapa hanya dengan sebuah mimpi sekejab takdir begitu mudah berubah? Tuhan benar-benar Maha Kuasa.
Ia membalikkan badannya dan meraih tanganku. Tangannya yang hangat menggandengku ke arah berlawanan dari bibir tebing. Kami menuju ke tempat yang sangat aku kenal. Di bawah pohon besar yang rindang. Tempat yang biasanya aku bertemu dengan kekasih mimpiku yang awalnya aku kira Andra dan kini ternyata Yoon-Jin.
“Ricka-ya… ini adalah pertemuan terakhir kita di sini…,” kata suara itu. Seketika aku menatap wajahnya. Entah kenapa air mataku masih saja mengalir deras.
“Kenapa? Bukannya kita sudah bersama selama bertahun-tahun? Kenapa kau menyebut ini adalah pertemuan terakhir kita?” Aku memegang punggung tangannya. Entah di sini aku merasa leluasa memegang sosok itu. Aku yakin ini tidak mungkin terjadi ketika di alam nyata.
“Yakinlah, kita akan dipertemukan di saat yang indah…,” kata Yoon-Jin sambil memelukku dari samping. Ah… aku mengingat pelukan ini. Seperti pelukan ketika menaiki lift di Namsan Tower.
“Tapi… aku tidak ingin berpisah denganmu saat ini. Entah kenapa, aku tidak ingin bangun dari tidurku. Aah… apakah aku tertidur tadi? Bukannya seingatku… aku telah tergigit ular di kebun tadi karena melindungi Yoon-Jin? Ah… apakah aku sudah mati? Lalu kenapa Yoon-Jin ada di sini? Mana mungkin ia juga tertidur?” bisikku.
“Isssh… kau harus segera kembali…,” kata sosok itu.
“Andwee… aku tak ingin kembali. Aku ingin di sini bersamamu!” Aku memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Aku akan selalu bersamamu… tapi tidak di sini, kita akan dipertemukan di tempat yang lebih indah.” Ia menatapku dalam-dalam. Kenapa tatapan itu sangat berbeda ketika aku melihatnya di kehidupan nyata? Aku sangat menyukai Yoon-Jin yang di sini. Hangat dan ramah, bukan di kehidupan nyata dingin dan menyeramkan.