
Sekitar satu setengah jam perjalanan mobil memasuki kawasan perumahan yang rapat namun tetap memiliki celah di masing-masih rumahnya. Rumah yang masuk kategori bagus menurutku, walaupun kalah mewah dengan rumah-rumah yang biasa dijadikan lokasi syuting drama Korea yang pernah aku tonton. Cat rumahnya yang berwarna putih dan gemericik air mancur kecil di halaman tengah menambah cantiknya rumah Om Shoni.
Rumah dengan desain classic namun elegan ini cukup membuatku berfikir untuk nyaman menempatinya. Aku mulai memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka, mungkin Yoon-Jin yang membuKakannya. Suasana rumah yang sepi, aku melirik jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah malam. Aku mencari Yoon-Jin dengan menyapu pandanganku ke segala arah namun sulit aku temukan. Aku duduk di sebuah tangga dasar. Kemudian ada yang memanggilku dari lantai atas.
“Ya! Kenapa kau masih saja duduk di situ?” Sebuah suara berhasil mengejutkanku.
Perlahan aku mengangkat koperku menaiki satu persatu anak tangga. Di lantai atas hanya terdapat tiga ruangan yang berupa kamar. Kamarku terletak di ujung paling kanan. Sedangkan yang tengah adalah kamar Yoon-Jin dan yang pasti kamar paling kiri adalah kamar Yoon-Hee. Yoon-Jin berdiri sambil bersandar di depan kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.
Di telinganya sudah tidak terpasang headset lagi. Aku perlahan berjalan melewatinya, baru beberapa langkah di depannya aku memutuskan untuk menghentikan langkahku, dan mundur tepat di depan Yoon-Jin.
“Yoon-Jin… mhian jika kehadiranku mengusik ketenanganmu. Aku kesini bukan atas kehendakku. Tapi Om Shoni yang memintaku ke sini. Aku harap kita bisa menjalin pertemanan seperti Om Shoni dengan ayahku,” ucapku kemudian aku tersenyum semanis mungkin dan menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan.
__ADS_1
Dia hanya diam melihatku tanpa menerima jabatan tanganku.
“Ricka aku harap apa pun tujuanmu ke sini, cepat selesai dan segera menghilang dari pandanganku!” kira-kira seperti itulah aku menafsirkan pandangan matanya yang kini menatapku seperti mata anak panah yang memburu sasarannya.
“Isssh…” dengusnya tanpa mengucapkan apa pun dan kembali memasuki kamarnya.
Aku hanya melongo melihat sikapnya itu, kemudian masuk ke kamarku yang berukuran sedang dan sudah rapi. Aku melihat aksesoris kamar yang penuh dengan bintang-bintang. Siapa yang mendesain kamarku seindah ini? Bagaimana bisa tahu, aku sangat menyukai aksesoris berbentuk bintang? Pertanyaan itu terus timbul di hatiku.
Selesai membersihkan diri aku berniat untuk menuju tujuan utamaku saat ini. Tempat tidur nan empuk dan selimut yang tebal. Aku ingin segera bermimpi dan bangun dari semua mimpiku ini. Dan aku juga berharap esok adalah hari yang normal bagi seorang Ricka.
Dengan perlahan aku mulai menutup mataku. Namun tiba-tiba rasa sakit itu datang disusul dengan suara yang sangat berisik berasal dari perutku. Seluruh cacing di dalamnya seperti melakukan aksi demo besar-besaran. Perih menusuk lambungku dan suara para demonstran itu semakin memperparah kondisi perutku. Aku baru ingat, terakhir makan bersama Kak Wisnu tadi siang. Saat di pesawat aku tak makan dan minum apa pun.
__ADS_1
“Haisshh… Lapaaaarrr...,” aku meringis mengelus perutku.
Dengan perlahan aku membuka pintu kamar dan berjalan menyelinap menuruni tangga. Suasana masih sepi.
“Apakah Om Shoni dan yang lain akan berpesta sampai pagi?” bisikku dalam hati.
Aku masih celingukan mencari ruangan yang pastinya menyediakan banyak makanan untuk memenuhi hasrat para demonstran di perutku.
Di sebuah pojok ruangan aku melihat sebuah kotak besar. Lebih besar dari tubuhku yang aku yakin itu adalah lemari es. Otakku memberi perintah tubuhku untuk segera membukanya.
“Woaah… banyaknya makanan, tapi tak ada satu pun makanan yang aku tahu cara memakannya. Tulisan di kemasannya berhuruf hangeul semua. Ini bisa langsung dimakan tidak, ya?” Aku bingung sambil membolak-balikkan kemasan makanan dari dalam lemari es.
__ADS_1
Akhirnya aku mengambil susu kotak dan sebungkus biskuit hanya itu yang aku tahu bisa langsung dimakan. Selesai aksiku mengambil apa yang aku butuhkan aku pun membalikkan badanku dan….
Buuug… pyaaar….!!!!