
Pagi menyapaku dan ternyata aku bermimpi lagi. Padahal tadi malam aku hanya ingin menutup mata untuk menampilkan sosok Andra, tak ku sangka aku malah ketiduran dan terbangun dalam kondisi mengerikan penuh peluh di sekujur tubuhku.
Aku merasakan perutku mulai memanas. Panas yang aku rasa seperti semua sudut ususku tergulung-gulung di sana. Aku segera berlari menuju ke kamar mandi. Tak hanya sekali namun berkali-kali. Aku membalurkan perutku dengan minyak angin yang aku bawa dari Indonesia, sengaja dengan jumlah yang banyak untuk meredakan nyerinya. Aku merintih kesakitan yang membuat keringat dinginku terus bercucuran. Aku jadi teringat perkataan Yoon-Jin semalam.
“Ah… Ini semua berkat doanya,” rutukku dalam hati. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka sendiri. Dan berdirilah sosok di balik pintu itu. Yoon-Jin berjalan mendekatiku yang sedang duduk lesu di pinggir tempat tidur sambil memegang perutku. Tanpa mengucapkan sesuatu dia memberika botol obat kepadaku.
Aku menatapnya dengan diam seribu bahasa.
“Suara isak tangismu membuat bising telingaku!” Tanpa melihat ekpresiku selanjutnya, ia langsung keluar kamar.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia datang tiba-tiba? Berisik? Bising? sepeka itu kah telinganya?" teriakku dalam hati.
Setelah selesai bebersih diri aku menuruni tangga. Baru sampai di tengah-tengah tangga, aku mendapati Mi-Yun mendatangiku.
“Eonni… kwenchana?” tanyanya terlihat sedikit panik. Aku hanya membalas senyuman dan anggukan kepala.
(Kwenchana\=bisa digunakan untuk menanyakan keadaan)
“Ommo… wajah Eonny pucat sekali?” Ia tambah khawatir. Aku mendengar suara pintu terbuka dari samping tempatku berdiri.
(Ommo\=bentuk kata untuk menggambarkan terkejut)
__ADS_1
“Kau… sudah minum obatnya?” Yoon-Jin menatapku dingin.
Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Wae… kau tidak percaya padaku?” Tatapannya kini sangat mengerikan.
“Apa kau tak tahu? Mana bisa aku baca peraturan minumnya? Semua tulisan di botol itu berhuruf hangeul! Kau sengaja ingin membunuhku? Bagaimana kalau aku overdosis?” Aku membalas dengan tatapan yang lebih sadis. Tatapannya seakan turun voltsenya setelah menyadari kebodohannya.
Aku berjalan menuruni tangga meninggalkannya begitu saja.
Di meja makan Om Shoni dan Tante Nari sudah menungguku. Tante langsung mendekatiku.
“Aa… tidak apa-apa Tante. Semalam Kak Ji-Sung juga sudah memperingatkanku, tapi karena kimchi buatan Tante sangat enak, aku sampai lupa diri dan terus memakannya.” Aku menunjukkan senyumku meyakinkan padanya bahwa ini bukan kesalahan Tante Nari.
Aku pun duduk di kursi meja makan. Di susul Yoon-Jin, Yoon-Hee dan Mi-Yun.
“Nanti biar di antar Yoon-Jin ke dokter.” Om Shoni tak kalah khawatirnya.
“Tidak perlu Om, aku benar-benar sudah baikan,” kataku sambil meminum segelas air putih yang ada di depanku.
Tap… tap… tap… aku mendengar suara gesekan sepatu dengan lantai rumah dan ternyata Kak Ji-Sung datang kemudian langsung mengambil kursi di samping tempat dudukku.
__ADS_1
“Ji-Sung-ah… kok tumben pagi-pagi sampai sini?” Tante Nari keheranan melihat Kak Ji-Sung yang langsung mengambil piring.
“Eomma… apa aneh seorang anak ingin sarapan bersama keluarganya?” Kak Ji-Sung menjawab dengan santai.
“Anniya... tapi biasanya kau jarang ingin sarapan bareng kami,” Kini tante menuangkan susu hangat di gelas Kak Ji-Sung.
“Ricka, kau terlihat berbeda hari ini?” Kak Ji-Sung menatapku lurus.
“Ne…?” Aku membalas tatapannya.
Tiba-tiba punggung tangannya mendarat di atas dahiku. Sebelum Kak Ji-Sung bertanya, aku langsung menyahut,
“Mungkin gara-gara makan kimchi kebanyakan semalam akhirnya perutku sakit.” Aku melepaskan tangannya dari dahiku.
“Sudah minum obat?”
“Belum, semalam Yoon-Jin sudah memberiku obat, tapi aku belum meminumnya karena aku tidak bisa baca aturan minumnya.”
“Oh… kalau begitu aku antar ke dokter ya?”
“Tidak usah, setelah minum obat pasti baikan kok. Jadi Kakak tenang saja.”
__ADS_1