
Ia seakan mendengar perkataan yang kulontarkan dalam hati, kemudian ia kembali membelai rambutku.
“Mianheo… akan aku jelaskan ketika kita bertemu nanti.”
Tangisku seakan semakin pilu mendengar ucapannya. Kenapa tiba-tiba pandanganku mulai memudar. Aku tidak melihat sosok Yoon-Jin yang tadi ada di sampingku.
Dan tiba-tiba aku mendengar suara mendengung yang sangat keras di kedua telingaku. Samar-samar dan perlahan aku mulai membukakan mataku. Aku melihat sebuah lampu putih berbentuk cincin di awang-awang. Aku memutar bola mataku, menyapu seluruh ruangan yang bisa aku lihat.
Aku melihat Om Shoni, Tante Nari, Mi-Yun, Yoon-Hee, dan Kak Ji-Sung dengan wajah penuh khawatir melihat ke arahku. Tante Nari segera memelukku sambil berkata,
“Ricka-ya… aku hampir tak kuasa melihatmu lemas terbaring di sini,” kata beliau membelai rambutku.
“Aku dimana Tante…?” tanyaku lirih.
“Di rumah sakit.” Om Shoni kemudian mendekat ke arahku.
“Aah… aku berusaha duduk dari posisiku berbaring, Kak Ji-Sung dan Om Shoni membantuku duduk dengan menaikkan tempat tidur membuatku bersandar di bantal.
“Ricka-ya… kau benar-benar membuat kami khawatir! Kau sudah tidak sadar selama tiga hari.” Kata Kak Ji-Sung mendekatiku.
“Eonni… mianheo… andai aku tidak mengajakmu jalan-jalan pagi itu, semua tidak akan jadi begini.”
Aku melihat mata Mi-Yun sembab, sepertinya ia banyak menangis.
“Aku sudah baikan sekarang,” kataku sambil tersenyum ke orang-orang yang ada di dekatku.
Aku menoleh ke segala arah, sosok yang aku cari tidak terlihat. Aku melihatnya di alam mimpi tadi. Aku ingin menanyakannya.
“Apakah benar laki-laki yang selama ini dalam mimpiku adalah Yoon-Jin? Tapi dimana dia? Apa dia sedang sibuk dengan band barunya? Ah… tega sekali” bisikku dalam hati.
“Ia sedang terbaring di ruang sebelah…,” ucap Yoon-Hee seakan mengetahui siapa yang aku cari.
Aku menatap wajahnya, kini yang terlihat hanya butiran air mata yang terjun bebas dari kedua mata yang indah itu.
“Apa maksudmu?” Aku bertanya penuh keraguan.
“Yoon-Jin… ia masih kristis di ruang sebelah.”
Tante Nari menjawab pertanyaanku dengan terbata-bata. Walau pelan, tapi kenapa begitu keras menampar hatiku saat ini.
“Bawa aku menemuinya… aku mohon….” Aku menatap semua orang yang ada di ruangan itu.
Yoon-Hee menuntunku menggunakan kursi roda menuju ke ruangan Yoon-Jin dirawat. Ketika di perjalanan kami sedikit bercakap-cakap.
“Yoon-Hee-ya… kenapa Yoon-Jin bisa kritis? Apakah ia juga tergigit ular yang sama denganku?” tanyaku perlahan. Aku merasa ia menghentikan dorongan di kursi roda yang aku duduki.
“Anni….”
__ADS_1
“Lalu, kenapa ia bisa kritis? Apa ia terjatuh saat menolongku? Atau ia terlibat kecelakaan mobil? Atau bagaimana?” tanyaku sedikit panik.
“Ia menolongmu dengan menghisab kembali bisa dari gigitan ular itu.” Perkataan Yoon-Hee seperti angin topan yang siap menerbangkanku kapan saja.
“Mwora-gu?” tanyaku dengan ekspresi yang sangat sulit aku gambarkan.
(Mwora-gu?: apa katamu?)
“Ne... dia ingin menyelamatkanmu. Saat itu, kita berjalan terlalu jauh, sehingga tidak mungkin untuk sampai ke rumah sakit dalam waktu yang singkat. Hingga ia memilih untuk menghisap dan membuang bisa yang telah masuk ke dalam tubuhmu. Namun naas, bisa itu tak sengaja terminum olehnya. Mungkin tidak seberapa, tapi bisa membuat nyawanya dalam bahaya.
Aku terdiam, aku menangis sesunggukan. “Kenapa ia melakukan hal bodoh itu? Kenapa? Aku menyelamatkannya bukan untuk melihatnya terluka. Ah… kenapa ia bisa sebodoh itu!” kutukku dalam hati.
Aku sampai di sebuah pintu. Ia terbaring pucat dengan selang di hidungnya dan bunyi mesin rumah sakit yang sangat menyeramkan. Di film-film drama, bunyi itu jika semakin cepat maka nyawa pasien sudah bisa di pastikan melayang.
Ah… kenapa pikiran konyol itu muncul.
Aku mendekati sosok yang terbaring tak berdaya itu.
“Wae…wae kau lakukan ini? Kenapa kau justru mengorbankan nyawamu demi aku? Apa pedulimu, ha?” Aku menatap beku sosok yang terbaring di hadapanku.
Aku melihat Yoon-Hee berjalan keluar meninggalkanku berdua dengan Yoon-Jin yang belum sadarkan diri.
“Yoon-Jin-ah… bukannya tadi kita bertemu di dalam mimpi? Kau bilang padaku kita akan bertemu di tempat yang indah bukan? Dimana? Kapan?” Aku menggenggam tangannya.
“Yoon-Jin-ah… chebal... buka matamu! Aku ingin bertanya banyak hal kepadamu… aku mohon jangan sekali-kali kau meninggalkan aku…!”
“Yoon-Jin-ah…?” tanyaku mendekat ke wajahnya, memastikan apakah ia sudah sadar.
Aku melihat senyuman kecil di bibirnya. Aku juga melihat air matanya menetes di kedua kelopak matanya.
“Yoon-Jin-ah… Kwenchana?” seruku sembari mendekatkan wajahku ke arahnya memastikan ia telah benar-benar sadar dari masa kritisnya.
Tak ada jawaban, namun aku terkejut ketika melihat tangannya secara tiba-tiba mendorong punggungku ke arah pelukannya.
“Mianheo… telah membuatmu menunggu lama, aku telah menepati janjiku untuk menemuimu di tempat yang indah…” kata Yoon-Jin terdengar sangat jelas di telingaku.
Aku melepaskan pelukannya, menepis air mataku yang jatuh dengan derasnya di pipiku.
“Wae…wae… selama ini kau begitu jahat kepadaku…!” Pandangan kami bertemu.
Ia tampak tersenyum tipis melihatku.
“Yoon-Jin-ah… kau sudah sadar… anakku…,” teriak Tante Nari memeluk anak laki-lakinya.
“Mianheo Eomma… telah membuatmu khawatir…,” Yoon-Jin menjawab dengan suara yang lirih. Tampak ada perasaan lega dari wajah Tante Nari setelah memeluk Yoon-Jin yang telah melewati masa kritisnya.
Aku keluar dari kamar, membiarkan orang-orang yang menyayangi Yoon-Jin melepas ke khawatirannya. Mau bagaimanapun, aku lah yang membuat Yoon-Jin menjadi seperti ini.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Yoon-Jin sudah dinyatakan terbebas dari masa kritisnya. Aku memasuki ruangannya, ternyata Yoon-Hee sedang menyuapinya makan siang.
“Rricka-ya… apa kau sibuk?” Yoon-Hee melihat ke arahku, kemudian melanjutkan kalimatnya, “bisakah aku titip saudara kembarku sebentar…? Aku sebenarnya ada janji dengan fotografer lima menit lagi di lantai bawah,” ia menyodorkan piring ke arahku. Aku menerima piring itu, dan sekilas aku melihat Yoon-Hee mengedipkan mata kirinya ke arah saudaranya yaitu Yoon-Jin.
“Wae… kenapa kau mengedipkan mata ke Yoon-Hee? Apa yang kalian rencanakan, ha?” tanyaku pada Yoon-Jin sambil menyuapinya makanan.
“Anni… itu hal biasa yang dilakukan oleh saudara kembar seperti aku dan Yoon-Hee,” jawab Yoon-Jin dengan ekspresi yang sulit aku artikan.
“Ooh… begitu ya… Yoon-Hee sedang tidak membohongiku, kan?” Pertanyaanku sukses membuat Yoon-Jin tersedak dan terbatuk-batuk. Aku tidak melihat Yoon-Jin mau menjawab pertanyaanku, aku pun menghardiknya,
“Aah... jadi benar Yoon-Hee sedang mengerjaiku….” Aku memeperlihatkan muka kesalku.
“Bukannya kau senang mempunyai waktu berdua denganku? Menyuapiku seperti ini?” Yoon-Jin menatapku nakal.
“Yaaa…! Kenapa setelah melewati masa kritis kau jadi kegatelan begini, ha?”
“Memang, karena aku sudah lama tidak mandi… jadi sedikit gatal…” ia menggaruk-nggaruk punggung dan lehernya. Kemudian berkata,
“Apakah kau mau memandikan aku? Aku masih sakit, tidak bisa mandi sendiri.”
“Yoon-Jin-ah... mengapa setelah bangun dari koma kau malah mempunyai otak mesum begini? Apa otak lamamu tertukar dengan jiwa lain?” Aku membelalakkan kedua mataku.
“Yaaa… bukannya kau ingat mimpi itu…? Mimpi kita ketika…” Ia belum melanjutkan kata-katanya melainkan malah menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
“Mimpi apa? Ah… kenapa aku tidak ingat? Mimpi yang mana?” Aku menunjukkan wajah paling penasaran yang pernah aku punya.
“Issh... bahkan aku pertama kali mimpi basah karenamu…,” bisiknya.
“Mwooooo????” tanyaku dengan nada tinggi.
“Sssssttt… ssssttt… kenapa kau berteriak keras sekali?” Yoon-Jin mendekap mulutku.
“Apa kau bilang? Kamu mimpi basah karena bertemu aku di dalam mimpimu? Neol Michoseo?? Ah… sulit dipercaya…!” aku menggigit lidahku geram.
(Neol Michoseo: apa kau gila)
“Yaa…! Aku tidak berniat memimpikanmu seperti itu kok, kau sendiri yang datang padaku…” Aku kini melihatnya dengan malu-malu.
“Isssh…” dengusku.
“Apa kalian bilang? Aku mendengar ada yang basah-basah tadi….” Tiba-tiba aku mendengar suara Yoon-Hee yang tidak tahu sejak kapan ia sudah berada di ruangan yang sama denganku dan Yoon-Jin.
“Mian… aku mau mengambil tasku yang ketinggalan.” Ia menyambar tasnya yang tergeletak di sofa kamar.
“Bukannya kau ada kencan dengan fotografer di bawah?” Yoon-Jin menyindir sempurna ke arah Yoon-Hee.
“Yaa… Ji-Sung Oppa… eh… bukan… fotografer… opss… isssh…” Yoon-Hee terlihat gugup, kemudian ia mengeluarkan perkataan selanjutnya sebagai senjata ampuhnya,
__ADS_1
“Emm… aku jadi penasaran apa yang kalian bicarakan mengenai basah-basah tadi, aah… mungkin bisa aku praktekkan dengan Ji-Sung Oppa nantinya…” kata Yoon-Hee sambil nyengir kuda. Aku dan Yoon-Jin saling bertatapan dan menahan tawa. Yoon-Hee sukses membuat kami menjadi bahan olok-olokkan seharian.