CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 20 (Ada Apa dengan Tatapan Mereka?)


__ADS_3

Senja di musim gugur yang dingin. Semua pepohonan tampak berubah warna dengan indahnya. Entah apa nama pohon itu yang berjajar rapi di taman halaman belakang rumah om Shoni.


Udara yang dingin seperti menusuk tulang-tulangku. Segini saja menurutku sudah sangat dingin. Seperti berada di ruang yang ber-AC lima sekaligus. Tak lupa aku memakai krim wajah agar kulitku tidak menjadi kering.


Sepoi-sepoi angin menambah dinginnya suasana. Mungkin aku makhluk paling aneh di sini. Karena menggunakan pakaian yang harusnya dipakai pada musim dingin.


“Haisssh… musim gugur saja kayak gini dinginnya apa lagi kalau musim dingin? Bisa mati beku aku,” bisikku dalam hati sambil menatap pepohonan yang daunnya ranum bergoyang mengikuti alunan angin.


“Sedang apa, Ricka?” sapa seseorang yang sangat mengejutkanku. Sesosok tinggi berkemeja putih polos dan berdasi kota-kotak berwarna ungu cerah berdiri di sampingku. Aku menoleh melihat kerupawanan wajahnya dari samping. Sorot matanya lurus menghadap kedepan seakan memamerkan hidung mancungnya.


“Kak Ji-Sung?” tanyaku sedikit terkejut.


“Apa aku mengejutkanmu?” tanyanya dan menoleh ke arahku.


“Ah… tidak, aku kebetulan sedang melamun menikmati cuaca yang sangat berbeda dari kemarin.” Aku melontarkan senyum semanis mungkin. Kemudian ia memegang penutup kepalaku dan mendekatkan ke depan wajahnya.


Deg... Oh jantungku terasa berhenti berdetak. Sekilas ia menatapku masih dengan senyuman yang mengembang di bibir merah mudanya. Aku menatapnya dengan membelalakkan kedua mataku. Terasa hangat kedua telapak tangannya menyentuh pipi kanan dan kiriku. Dia semakin melebarkan senyumnya.


“Cute…” serunya kemudian perlahan melepaskan kedua tangannya.


“Cute…? Apa itu? Aku…?” tanyaku dalam hati.


“Ricka, bukannya bajumu ini harusnya digunakan di musim dingin?” Ia menatapku lucu.


“Aaah... menurutku sekarang ini sudah dingin sekali,” jawabku sambil merapatkan ke dua tanganku ke depan.

__ADS_1


“Bukannya hari ini kita ada janji?” Kini ia menatap lurus ke depan.


“Ne..?” –aku berusaha mengingat janji apa itu– “oh... belajar?” ujarku penuh ekspresi gembira.


(Ne\=kata ini biasa digunakan untuk bertanya sedikit terkejut misalnya "apa?")


“Iya, bisa kita mulai hari ini?”


“Okeey….” Aku menyambut ajakannya dengan penuh gembira.


Kami berjalan menuju ruang tengah. Ternyata Kak Ji-Sung sudah menyiapkan semua buku materi pembelajaran bahasa Korea. Ada sekitar tujuh buku yang sekarang ada di meja. Melihatnya saja cukup memberatkan mataku. Aku duduk bersimpuh di ruang tamu mendengarkan segala perkataan Kak Ji-Sung. Sesekali ia memintaku menulis dan mencontoh huruf hangeul yang bagiku lebih sulit dari aksara Jawa. Baru setengah jam kami asyik belajar. Tiba-tiba Tante Nari mengagetkan kami berdua.


“Ricka, Ji-Sung, emm… Tante minta maaf... bisakah kalian belajarnya di lantai atas saja? Sebentar lagi teman-teman Tante akan datang ke sini. Takutnya kalian akan terganggu nanti belajarnya,” kata Tante Nari dengan nada bicara yang sedikit sungkan.


(Kwenchana\=tidak apa-apa)


“Ne…? Di kamar atas? Berarti kamarku? Berdua saja dengan Kak Ji-Sung? Yang benar saja!” teriakku dalam hati.


“Apakah kau keberatan?” tanya Kak Ji-Sung menatap ekspersiku yang mungkin terlihat aneh baginya.


“Ah… tidak... tidak kok…!” jawabku putus-putus.


“Ah... tidak masalah. Toh dulu saat masih di Indonesia aku juga berduaan di kamar dengan Kak Wisnu. Tak jadi masalah.” kataku dalam hati.


Aku berusaha bersikap tenang. Kami berdua berjalan menaiki tangga. Aku yang lebih dulu naik dan Kak Ji-Sung di belakangku. Namun saat berada di tengah-tengah tangga, tiba-tiba buku yang aku bawa terjatuh dan membuatku terkejut sehingga spontan aku ambruk ke belakang dan….

__ADS_1


Buug…. Aku jatuh tepat bersandar di tubuh Kak Ji-Sung yang dengan sigap menangkapku. Buku yang ia bawa terjatuh dan kedua tangannya menyentuh lengan atas kanan dan kiriku. Aku terkejut bukan main. Pandangan kami menyatu. Mataku membelalak dengan bulatnya. Ia menunjukkan ekspresi yang terkejut pula. Sekian detik waktu terasa berjalan sangat lambat.


“Ah… aku mengalaminya! Mengalami seperti di serial drama yang pernah aku tonton. Apakah… apakah seperti ini rasanya…?” bisikku dalam hati. Jantungku berdetak semakin cepat. Penuh degup dan membahana. Kami dikejutkan dengan suara langkah Kaki dari tangga bagian atas.


Tap… tap… tap…


Aku dan Kak Ji-Sung segera memperbaiki posisi. Ternyata suara langkah kaki tadi adalah suara Yoon-Jin, ia berhenti tepat satu anak tangga lebih tinggi dari yang aku pijak.


Tatapan matanya membuatku salah tingkah. Diiringi dengan ekspresi yang datar dan dingin menambah gelagatku semakin tidak enak. Dia hanya menatapku. Entah apa yang ia pikirkan. Aku berusaha tersenyum melihat ke arahnya kemudian menundukkan kepalaku dan melangkahkan kaki menuju ke tangga berikutnya.


Ternyata di ujung tangga juga terdapat Yoon-Hee yang mematung melihatku dan Kak Ji-Sung. Tatapannya kepadaku seperti tatapan seekor beruang yang sedang lapar menatap mangsanya. Sungguh menakutkan.


“Kenapa Yoon-Hee menatapku sebegitu seriusnya?” tanyaku dalam hati.


Ia masih melihatku dan juga buku yang aku bawa. Aku berusaha menyapanya dengan senyuman.


“Yoon-Hee, kau sedang apa? Atau mungkin kau mau ikut membantuku belajar bahasa Korea?” tanyaku berusaha seramah mungkin.


“Mhian, aku capek!” Ia justru merespon dengan jutek.


Kemudian entah kebetulan atau tidak aku melihat suatu tatapan aneh antara Yoon-Hee dengan Kak Ji-Sung. Tatapan yang sulit aku tafsirkan. Sepertinya bukan tatapan antara adik dengan kakaknya.


“Ah... mana mungkin. Apa iya Yoon-Hee cemburu padaku? Mereka, kan saudara kandung?” gumamku dalam hati.


Aku dan Kak Ji-Sung melanjutkan pembelajaran di dalam kamar. Kak Ji-Sung adalah seseorang yang asik, berbeda jauh dengan penampilannya. Seakan berwibawa dan bijaksana, tetapi kalau sudah mulai mengenalnya, ia adalah sosok laki-laki yang penuh kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2