
Pagi menyambutku dengan mendung yang begitu tebal. Dingin menusuk pori-pori ketika aku melangkahkan kaki ke halaman depan rumah om Shoni. Aku menggunakan jaket tebal lengkap dengan kaos tangannya. Aku menghembuskan napasku berulang-ulang menikmati asap yang tercetak dari bibirku.
Dari arah atas rumah, aku melihat sosok Yoon-Jin yang masih berada dalam kamarnya. Ia menggunakan switter abu-abu sambil melipat tangannya ke depan dadanya. Tatapannya begitu sungguh mengerikan. Kenapa Tuhan bisa menciptakan mata begitu tajamnya? Rasanya langsung menusuk jantungku. Merasa diperhatikan dari atas aku pun sedikit gugup dan hendak kembali masuk ke dalam rumah.
Hari beranjak siang, walaupun terlihat matahari yang samar-samar, namun cuaca dingin tetap terasa menyengat bagiku. Aku berkeliling sekitar rumah. Dan tak mendapati seorang pun. Hingga akhirnya aku mendengar sesuatu dari dalam kamar Yoon-Jin. Aku yakin suara drum yang sedang berirama dengan musik yang diputar begitu harmonik.
Namun ada getaran aneh di sana. Dentakan drum yang begitu penuh emosi. Aku sendiri kurang begitu paham mengenai musik yang ia main kan. Aku hendak mengetuk pintu kamarnya. Namun sebelum aku mengetuk pintunya, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya dan muncullah sosok dari belakang pintu itu.
“Kau mencariku?” tanya Yoon-Jin.
__ADS_1
“Woooahh… kau sungguh mengejutkanku. Bagaimana kau tahu aku akan mengetuk pintu kamarmu?” tanyaku penasaran.
Ia hanya melihatku dengan pandangan datar. Seakan tidak menginginkanku berada di depan pintunya saat ini.
“Aku hanya menanyakan alamat ini. Dan kalau aku naik taksi harus turun dimana? Kau tahu penguasaan bahasaku masih sangat lemah di sini. Rasanya tidak mungkin sopir paham dengan apa yang aku maksudkan,” lanjutku menunjukkan alamat yang tertera di layar ponselku.
“Ehmmm… jangan bergerak!” Hanya itu yang dikatakannya dan langsung menutup pintu.
“Kenapa kau berpakaian seperti itu?” Aku melihatnya aneh. Ia hanya menatapku pasif. “Bagaimana? Kau tahu caraku biar bisa ke apartemen Kayla? Ehm… apa sekarang aku boleh bergerak?” tanyaku polos menatapnya.
__ADS_1
Ia melangkahkan kaki mendekatiku dan kemudian menarik pergelangan tanganku memaksaku untuk mengikuti setiap langkahnya.
“Yaa…! Kau mau bawa aku kemana?” teriakku sambil berusaha melepas pergelangan tanganku dari cengkeramannya.
“Aku akan mengantarmu,” jawabannya membuatku terdiam. Entah kenapa perasaan aneh itu datang, jantungku berdetak seirama, hanya saja berdetak lebih cepat dari biasanya.
Wah… ada apa ini? Kenapa ia tiba-tiba baik kepadaku?
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Salju terlihat dimana-mana walaupun terlihat tipis. Pohon-pohon hanya terlihat rantingnya saja. Pertanda setelah salju turun akan datang musim semi. Aku hanya menatap lurus kedepan sama yang dilakukan oleh Yoon-Jin. Tanpa kata hanya suara alunan musik pelan tapi aku tak maksud dengan liriknya. Setelah kurang lebih tiga puluh menit kami tiba dalam sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dalam hati aku berdecak kagum.
__ADS_1
Meskipun di Jakarta sering melihat apartemen-apartemen dengan nuansa mewah, namun baru kali ini melihat pemandangan apartemen yang begitu besar dan benar-benar mewah. Orang yang lalu lalang menggunakan jas tebal dengan fashion ala-ala orang kaya semua. Aku sempat berdiri beberapa detik mengagumi lingkungan sekitar.