CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 37 (Bersamamu, seperti di drama-drama yang sering aku tonton)


__ADS_3

“Gomawo Yoon-Jin, Jika tadi kau tidak ada, aku tidak tahu bagaimana paniknya aku melihat kondisi Kayla seperti itu.” Aku menoleh ke arahnya.


Ia hanya menjawab dengan anggukan ringan. Aku melihat sudut kelelahan dalam wajahnya. Keringat yang tadinya bercucuran, sekarang telah kering. Aku heran kenapa ia bisa berkeringat dengan suhu serendah ini. Hari sudah gelap. Kami masih duduk di ruang tunggu gedung berwarna putih bersih itu. Tidak banyak orang yang lalu lalang di sini dan situasi terlihat sunyi. Hanya suara tik-tik jam yang bergerak di setiap detiknya. Lorong yang kanan kirinya dipenuhi huruf hangeul itu menghiasi pandanganku. Aku mencubit lenganku, memastikan bahwa ini tidak di dalam mimpi. Aku berada di rumah sakit Korea. Aku membayangkan beberapa drama yang syuting di lokasi rumah sakit. Ada Descendant of the Sun, Doctor, Good Doctor, dan masih banyak lagi, aku tak menyangka akan bisa berada di tempat ini.


“Situasi ini mengingatkanku saat eomma akan melahirkan Mi-Yun. Saat itu aku baru berusia sepuluh tahun. Eomma merintih kesakitan sedangkan appa sedang ke luar kota. Beruntung ada hyung yang kebetulan ada di rumah. Ia langsung menghubungi taksi dan membawa eomma ke rumah sakit.” Perkataan Yoon-Jin memecah keheningan di antara kami.


“Pasti saat itu kau juga panik, bukan?” Aku menatap wajahnya.


“Tentu saja aku panik.” Ia menjawab tanpa melihat ke arahku.


“Woaah… Kak Ji-Sung memang sudah baik dari dulu,” gumamku. Sekian detik kemudian ia menatapku. Tapi aku tidak berani menatapnya.


“Issh…” desahnya.


“Wae? Kau terlihat tidak menyukai hyung-mu?” Aku membalas tatapannya.


Namun ia segera membuang pandangannya ke depan.


“Tentu saja kau bilang baik. Dia kan namja cingu-mu!” Ia tertawa sinis.


(namja cingu: kekasih laki-laki)


“Mwoo? Anni… kita tidak pacaran, kok!” sanggahku.


“Neo baboo-ya? Pacaran itu tidak perlu diucapkan dalam bentuk perkataan. Dalam bahasa tubuh pun semua orang tahu!” Ia menatapku sinis.


(Neo baboo-ya?: apa kau bodoh?)


“Aku masih bingung mengenai perasaanku terhadapnya.”

__ADS_1


“Wae… apa yang kau bingungkan? Bukannya kau selalu berpelukan dengannya? Apa ada orang berpelukan dengan sembarang orang sepertimu?”


“Isssh… kenapa kau sekarang yang sewot? Aku hanya meminta waktu untuk berpikir... karena masih ada sesuatu hal yang masih sangat menggangguku.”


“Apa itu yang masih mengganggumu?”


“Aku masih bertanya-tanya, kenapa Yoon-Hee sampai sekarang terlihat sangat membenciku.”


Kami terdiam beberapa menit, tiba-tiba sesuatu terdengar sangat berisik. Seperti suara perut yang sedang keroncongan.


Krucuuk… krucuuk…


“Aaa… perutmu berbunyi!” Aku meliriknya. Ia terlihat gugup mendengar ucapanku dan sontak memegangi perutnya.


“Hahaha… ternyata suara bunyi perutmu lebih nyaring dari yang aku bayangkan. Aaah… tadi kau belum sempat memakan gimbab yang aku buat di rumah Kayla,” Aku melihatnya dengan tatapan kasihan.


“Bagaimana kalau kita cari makan di luar?” Aku berdiri dari tempatku duduk.


“Okey...,” jawabnya dengan bersemangat kemudian bertanya,


“Apa yang ingin kau makan?”


“Sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin aku coba….”


Selang beberapa menit kemudian...


“Yaa…! Apakah ini yang ingin kau makan sekarang?” Ia menatapku terkejut.


Kami berada di depan sebuah minimarket terdekat dari rumah sakit dan duduk di kursi yang disediakan minimarket tersebut. Di depan kami terdapat dua botol air mineral dan dua mangkuk ramyeon yang telah diseduh dengan air panas.

__ADS_1


“Ne… bukannya berasa nikmat dingin-dingin begini menikmati ramyeon sambil melihat mobil-mobil yang lalu lalang. Belum lagi rumah sakit Kayla terlihat dari sini, jadi sewaktu-waktu kita bisa berlari menuju kesana dengan cepat!” Aku mengaduk ramyeon-ku.


“Yaaa…! Tahukah kau? Aku belum makan dari pagi. Dan aku ingin makan makanan yang mengenyangkan. Bukan ramyeon!”


“Aisssh… tadi kau yang tanya aku ingin makan apa?”


“Aigooo… bukannya kita bisa kapan saja menikmati ramyeon di rumah? Ini sekalinya jalan bersamaku kau hanya ingin makan ramyeon?”


Aku tertawa renyah sambil berkata,


“Aku sudah menikmati makanan-makanan yang lain bersama kak Ji-Sung beberapa waktu lalu. Lagi pula di rumah ada tante Nari yang selalu masak makanan lezat. Aku hanya ingin makan ramyeon langsung dari minimarket seperti di drama-drama Korea yang pernah aku tonton.”


“Apa sekarang kau merasa hidupmu sama seperti di drama-drama? Isssh... bersikaplah rasional sedikit! Alasan itu kah kau mengencani hyung-ku? Kisah cinta romantis itu tidak ada di kehidupan nyata, melainkan hanya di drama-drama saja!” nada bicaranya sungguh menjengkelkan.


“Aku tidak kencan dengannya!” teriakku dengan mulut masih penuh dengan mi.


“Kalau tidak kencan, kenapa waktu lalu kalian hampir berciuman?”


“Mwoooo? Kami tidak pernah….” Aku belum melanjutkan kalimatku dan mengingat momen itu di saat Yoon-Jin keluar dari kamar mandiku.


“Kami belum pernah melakukan itu…,” kataku terbata-bata dan menaruh ramyeon ke atas meja.


“Kenapa kau selalu ikut campur urusanku, ha!” tanyaku gugup.


“Isssh….!” Ia membuang napas kasar.


Aku melihat ia menikmati ramyeon-nya yang terlihat sudah lebih dingin. Aku memandangi wajahnya. Dari sudut mana pun terlihat menarik. Menarikku untuk selalu menatapnya. Namun ketika pandangan kami bertemu aku segera membuang muka ke arah lain. Dan mungkin benar adanya kalau kisah cintaku tak mungkin seindah seperti drama Korea lainnya. Pasti akan lebih menyakitkan. Aku sendiri belum mampu menguasai perasaanku sekarang.


Apa yang terjadi ketika aku berhadapan dengan Kak Ji-Sung dan Yoon-Jin aku belum mampu menjawabnya. Aku berusaha untuk lebih tenang agar dapat memastikan bagaimana perasaanku sebenarnya. Untuk laki-laki di hadapanku ini. Entah kenapa, aku sangat canggung ada di depannya, tapi sangat berat jika berada jauh darinya. Aku berharap kutukkan yang aku takutkan itu tidak akan pernah menghampiriku.

__ADS_1


__ADS_2