CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 32 (Bertemu Kayla di Korea)


__ADS_3

Semenjak kejadian Yoon-Hee meninggalkanku di tengah jalan. Aku tidak pernah berbicara dengan Yoon-Hee lagi. Ia seperti sangat membenciku. Aku mendapatkan kembali ponselku dari Yoon-Jin. Aku sempat menanyakan alasan Yoon-Hee meninggalkanku kemarin, namun ia tidak mau menjawab pertanyaanku. Aku sungguh bingung dengan sikapnya itu. Tak mungkin aku menanyakannya pada Om Shoni maupun Tante Nari, karena akan membuat posisiku semakin tidak enak. Akhirnya aku melupakan kejadian itu. Aku anggap Yoon-Hee tidak sengaja melakukannya.


Sejak peristiwa itu pula Yoon-Jin berubah sikapnya terhadapku. Walau sikapnya tidak seramah seperti Kak Ji-Sung, tapi sikap dinginnya itu sudah sedikit mencair. Walaupun kita tidak pernah bercakap berlama-lama tapi tatapan matanya melihatku sudah berbeda. Kadang diselipkan senyuman di antara tatapan itu. hubunganku dengan Kak Ji-Sung berlangsung baik-baik saja, seperti layaknya pasangan yang lain. Aku selalu berbagi perasaan dengan Kak Ji-Sung terutama mengenai sikap Yoon-Jin. Kak Ji-Sung selalu menanggapi dengan santai akan hal itu. Entah tidak ada perasaan cemburu setiap aku membicarakannya.


Suatu hari Tante Nari memintaku untuk menemaninya belanja karena nanti malam akan ada acara makan malam sepesial kejutan untuk ulang tahun Mi-Yun.


“Ji-Sung-ah, apa nanti jadwalmu padat?” tanya Tante Nari kepada Kak Ji-Sung.


“Wah... Iya Eomma. Nanti ada partner bisnis yang minta ditemani keliling di beberapa pabrik. Wae?” jawab Kak Ji-Sung sambil mengunyah sarapannya.


“Aah… Eomma dan Ricka mau belanja beberapa kebutuhan rumah. Paman Park tidak bisa mengantar karena hari ini menjemput anaknya ke luar kota. Kalau naik taksi akan kerepotan bawa belanjaannya,” ujar Tante Nari.


“Yoon-Jin pasti longgar hari ini,” sahut Yoon-Hee yang dari tadi diam saja.


“Wae…? Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja yang sesama wanita, ha?” Yoon-Jin melempar pandangan sewot ke arah Yoon-Hee.


“Aku ada pemotretan hari ini!” Yoon-Hee menjawab keras.


“Issh…” Yoon-Jin manyun.


“Aaah… bagaimana Yoon-Jin? Bisakah kau mengantar Eomma kali ini? Kau selalu banyak alasan tiap mengantar Eomma belanja!” Kini giliran Tante Nari yang manyun.


“Yee…” jawab Yoon-Jin lemas. Aku tertawa geli melihatnya.


Sekitar pukul sebelas kami sudah siap berangkat. Ini kali kedua aku naik mobil Yoon-Jin. Di kanan dan kiri jalan hanya terlihat benda serba putih. Walaupun salju telah berhenti tapi tumpukannya tidak serta merta hilang. Perjalanan sekitar dua puluh menit kami tiba ke pusat perbelanjaan yang sangat ramai. Banyak orang wara-wiri menenteng belanjaan. Kami segera masuk ke bagian kebutuhan rumah tangga. Aku hanya membantu tante membawa troli belanjaanya.

__ADS_1


“Ricka... bolehkah Tante minta tolong?” Tante Nari menoleh ke arahku.


“Ya Tante…,” jawabku.


“Tolong ambilkan telur di sebelah sana, ya?” Tante Nari menunjuk salah satu arah. Aku mengangguk dan mencari benda bernama telur. Setelah menoleh ke sana dan kemari akhirnya aku menemukan sebuah bak yang berisi telur yang sudah Tante Nari tunjukkan.Tapi, tanpa sengaja aku menyenggol seseorang sehingga telur-telur itu jatuh dan pecah.


“Aaa… jeosonghamnida… chongmal jeosonghamnida!” Aku sangat terkejut dan menundukkan kepalaku.


(jeosonghamnida… chongmal jeosonghamnida: maafkan aku, aku benar-benar minta maaf)


Betapa kagetnya ketika aku melihat siapa orang yang aku tabrak tadi.


“KAYLA..?????” Aku sedikit menjerit.


“RICKA…????” Ia bahkan menjerit lebih keras dariku.


“Ya… dia sahabatku dari Indonesia,” jawab Kayla.


Kami berpelukan lama sekali. Perutnya yang besar tidak menghalangi eratnya pelukan kami. Air mataku tak bisa aku tahan. Aku menangis menumpahkan rasa rinduku kepada sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


“Ricka… bagaimana kau bisa di sini? Kamu tambah cantik, dan ini pacar kamu? Waaaah….” tanya Kayla sambil melirik Yoon-Jin yang tiba-tiba saja sudah berada di dekatku dan membantuku membereskan telur-telur yang pecah tadi. Mata Kayla berbinar-binar.


“Aaaa… bukan, ceritanya panjang, Kay! Aku sungguh merindukanmu… Aku ingin cerita banyak kepadamu. Kau… Juga masih punya hutang padaku, kan?” kataku menggodanya.


“Yaa… Iyaaa… Lain kali kalau kita bertemu akan aku ceritakan. Mian telah meninggalkanmu begitu lama.” Ia memelukku lagi.

__ADS_1


“Ini alamat apartemen kami. Lain kali kalau ada waktu kalian bisa mampir,” kata suami Kayla. Entah sudah menikah atau belum aku menjuluki laki-laki itu dengan julukan suami Kayla.


Aku dan Kayla akhirnya berpisah setelah bertukar nomor handphone. Aku tidak enak meninggalkan Tante Nari lama-lama dan membawa belanjaannya sendiri.


“Gomawo Yoon-Jin-ah,” kataku sambil melihat ke arahnya.


Dia hanya diam saja kemudian berkata, “Dia tadi….”


Aku memotong pembicaraannya, “Dia sahabatku yang kabur dulu waktu kuliah. Dia dulu berjanji kalau mau aku temani hingga melahirkan. Namun tampaknya suasana kampus yang memojokkan dirinya membuatnya kabur kesini.”


“Suaminya itu pemilik perusahaan lumayan cukup sukses. Aku pernah mendengar semua barang produksinya hampir laku keras di beberapa negara. Termasuk Indonesia.”


“Woaah… benarkah itu?”


“Ya, beberapa kali aku pernah melihatnya di majalah.”


“Woaahh… Kayla beruntung sekali mendapatkan suami seperti itu. Kaya raya, tampan, dan baik pula.”


“Yaaa! Apa kau menyukai suami orang? Bahkan itu sahabatmu sendiri? Yaaah… kau ini sungguh rakus!” Yoon-Jin memajukan bibirnya mengejekku.


“Bukan begitu…” jawabku salah tingkah.


“Lagi pula, sepertinya laki-laki itu sudah mempunyai isteri sebelum siapa tadi nama temanmu. Ka… Kayla?” perkataan Yoon-Jin barusan sukses mengejutkanku.


“Mwoooo?? Sudah punya isteri?”

__ADS_1


Yoon-Jin hanya mengangguk.


Wah… apa Kayla menikah dengan laki-laki yang sudah beristeri? Ataukah Kayla menjadi isteri simpanan? Waah... aku tak habis pikir Kayla perempuan seperti itu. Dalam perjalanan pulang aku sangat memikirkan Kayla. Segala pikiran neko-neko berkecamuk dalam otakku. Ingin segera secepatnya mengklarifikasikan dengan Kayla tentang kebenaran ini. Walaupun aku tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadinya, namun aku mengenal Kayla dari kecil. Tidak sikapnya sampai keterlaluan merebut suami orang atau menjadi selingkuhan suami orang.


__ADS_2