
“Yaa! Apa kau akan berdiri saja?” suara Yoon-Jin mengagetkanku.
Aku mengikuti kemana langkahnya pergi. Kami tiba di depan pintu lift.
“Apa kita akan naik lift ini?” tanyaku ragu-ragu.
“Mwo? Apa kau ingin naik tangga saja?” Iia melihatku dengan ekspresi yang menyebalkan.
(Mwo:apa)
“Aaaah… aku benci dengan lift,” gumamku.
Pintu lift terbuka sendiri dan kami perlahan masuk. Sepertinya traumaku dulu waktu SMA kembali terulang. Aku benar-benar benci dengan lift. Aku berdiri di pojok lift sambil berpegangan di dinding lift. Sepertinya Yoon-Jin begitu paham dengan apartemen ini. Kami menuju lift dan ia langsung menekan tombolnya di angka tujuh.
“Wooaah… kau tahu lantai berapa?” tanyaku kagum kepadanya.
“Coba cek alamat di ponselmu? Bukannya jelas tertulis lantai tujuh, ha?” tanyanya.
Aku kembali mengecek line dari Kayla. Dan ternyata benar.
“Woaah... daya ingatmu sungguh luar biasa. Aku saja yang sudah baca berkali-kali lupa.” Aku nyengir sambil mempertahankan posisiku berdiri di pojok dinding lift.
“Mwoya… ada apa denganmu? Aneh sekali!” Ia melihatku dengan pandangan aneh sedangkan aku melihatnya dengan pandangan buram.
(Mwoya: ada apa ini?)
Tiiiing…
Bunyi lift tanda lift sudah berhenti di lantai yang diinginkan. Aku perlahan melangkahkan kaki keluar lift. Aku melihat ke sekelilingku semua berputar-putar. Aku kembali merasa pusing.
“Ya… Ricka-ya… wae geureo?”
(wae geureo?: Ada apa denganmu?)
__ADS_1
Samar-samar aku mendengar suaranya memanggilku. Aku berusaha menegakkan kepalaku. Menguasai lingkungan di sekitarku. Selama beberapa detik kemudian aku mendapat kesadaranku kembali.
Ahh…selalu begini setiap aku naik lift. Pusing kepala dan terasa sesak di dada.
“Ya… ada apa denganmu?” tanyanya sekali lagi.
“Anniya… selalu begini tiap aku naik lift!” jawabku sambil memijat kepalaku.
(Anniya: Tidak..)
“Isssh… kau benar-benar…” katanya sambil nyengir.
Yoon-Jin langsung mendahuluiku dan berhenti di sebuah pintu. Aku kembali memastikan nomor apartemen yang Kayla kasih. Dan tepat sekali. Setelah membunyikan bel dua kali tampak sosok ibu muda yang sedang hamil besar membukakan pintu.
“Waah... kau beneran datang Ricka….” Kayla langsung memelukku.
“Mari masuk….” Ia mempersilahkan kami masuk ke apartemennya.
“Oh ya, Kay, kemarin aku belum sempat mengenalkanmu kepadanya. Kenalkan ini Yoon-Jin dan Yoon-Jin ini adalah sahabat terbaikku, Kayla.” Mereka saling memberi hormat.
“Kau sendirian, Kay?” tanyaku sambil duduk di sofanya yang empuk.
“Iya... suamiku sedang ada perjalanan bisnis ke Jepang. Mungkin nanti malam akan pulang,” katanya.
“Kau sedang apa?” Aku melihatnya yang sedang sibuk di dapur.
“Emm… aku tadi mau membuat gimbap, kau mau membantuku?”
(gimbap: nasi yang digulung dengan lembaran rumput laut berisi sayur dan daging)
Aku mengikuti Kayla ke dapur dan melihatnya sudah menata rumput laut dengan nasi putih di atasnya.
“Aku kira kau tidak datang, Rick... Oh ya, kamu tadi naik lift?”
__ADS_1
“Yaa… apa kau tidak tahu pengorbananku sampai sini? Aishh… aku bisa naik gunung setinggi Gunung Lawu, tapi kalau untuk naik lift aku menyerah!” jawabku sambil memijit kepalaku.
“Mian… jadi ingat saat dulu kita penelitian di salah satu kantor di Jakarta. Yang lain naik lift sampai lantai lima. Kau sendiri yang naik tangga” Ia tertawa menyebalkan.
“Terus... pacarmu itu kah yang tadi menggenggam tanganmu? Aku tahu banget kau pasti akan pingsan kalau naik lift tanpa berpegangan, hahaha….” Kini tawanya menyeramkan melebihi tawa Mak Lampir.
“Wah… kau benar-benar membuatku salut Rick… pacarmu orang Korea loh! Mimpi apa kau? Hahahaa….” lanjutnya dengan tawa benar-benar hampir membuatku gila selamanya.
“Yaaa… apa kau puas? Ada apa denganmu? Bukannya kau merindukanku? Bukannya menceritakan kisahmu, tapi kau justru mengejekku!” Aku memanyunkan bibirku.
“Dia bukan pacarku! Bukannya kau lebih hebat? Kau bukan pacaran lagi dengan orang Korea. Tapi kau itu istrinya! ISTRI nya…!” Aku memperjelas kalimat terakhirku.
Kayla hanya tertawa ringan. Melihat ekspresiku.
“Apakah kau benar-benar sudah melupakan Andra?” tanyanya tiba-tiba. Aku menjawab dengan anggukan pelan.
“Waaah… jinjjaa??” Kini kedua matanya seakan mau melompat keluar.
(jinjjaa?: sungguh?)
“Haissh… bisakah kau bertindak biasa saja?” Aku melotot ke arahnya.
“Aku belum tahu pasti, Kay, tapi yang jelas Andra sekarang tidak lagi ada dalam mimpiku, seakan-akan dulu orang yang selalu ada dalam mimpiku itu bukan Andra.” Kini aku tak berani menatapnya.
Kami terdiam beberapa detik, hingga kemudian Kayla mulai angkat bicara,
“Ricka... maaf telah pergi ketika kau benar-benar membutuhkanku.”
Aku menggenggam tangannya,
“Tidak apa-apa, kau pasti punya alasan yang kuat untuk itu.” jawabku.
“Namanya Park Ji-Hyun. Aku bertemu dengannya saat liburan semester lima. Saat itu, ibuku sedang mengadakan kerja sama dengan perusahaan Ji-Hyun. Yaitu fashion ala Korea. Kau tahu, kan, sekarang ini fashion ala Korea masih digemari remaja. Kita mudah akrab satu sama lain karena ia bisa berbahasa Indonesia. Kakek dan neneknya tinggal di Bandung. Sejak saat itulah kami bertukar id line dan akun sosial lainnya. Tak lama dari pertemuan pertama kita, ia memintaku untuk menjadi kekasihnya,” Kayla menarik napas panjang.
__ADS_1