CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 8 (Fitnah yang Menghancurkan)


__ADS_3

“Ayah… ada apa Ayah? Ayah kenapa? Dan mengapa aku harus berhati-hati?” suaraku bergetar hebat. Telepon pun terputus. Aku benar-benar tidak tahu, apa yang terjadi sekarang ini. Dari suaranya, ayah benar-benar terlihat sedang ada musibah. Sejenak aku mendengar bisik-bisik anak muda yang juga menikmati makanannya di seberang kami duduk.


“Kau sudah lihat berita? Pabrik sepatu ‘Sonaricka’ yang terkenal akan brandnya di kalangan anak-anak gadis itu dikabarkan terbakar tadi sore!” ucap pemuda yang menggunakan baju kuning.


“Iya, aku sempat lihat tadi beritanya. Katanya isteri pemilik pabrik itu sempat selingkuh, dan selingkuhannya itulah yang membakar pabrik milik suami sahnya,” kata pemuda satu lagi. Dengan sigap aku langsung mengklarifikasi omongan dari kedua pemuda tadi.


“Apa kau bilang? Pabrik ‘Sonaricka’ terbakar? Dibakar oleh selingkuhan isteri pemilik pabrik? Mana mungkin…? Kalian bohong, kan?” teriakku dihadapan mereka. Pandangan mereka mendadak aneh melihatku. Kak Wisnu segera mendekatiku dan berusaha menenangkanku.


Terlihat Kak Wisnu mampu membaca situasi yang aku alami sekarang ini. Air mataku terus bercucuran walaupun tidak ada sedikit pun suara isak tangis yang keluar dari bibirku.

__ADS_1


“Rick… tenangkan dirimu! Kita ke mobil sekarang!” Kak Wisnu mendekapku dan menggiringku menuju mobilnya. Aku masih melihat pemuda tadi yang melihatku seakan tidak tahu apa yang aku katakan. Pengunjung yang lain pun masih menatap kami. Mungkin terdengar aneh ketika aku berteriak tadi.


“Ricka, ada apa denganmu...?” bisik Kak Wisnu yang aku yakin dia sangat terkejut dengan sikapku yang berteriak pada orang lain, karena jelas bukan sifat asliku.


Aku pun membuka layar ponselku. Mencari berita terhangat hari ini. Dan benar ternyata, tiga jam yang lalu ramai banyak website berita memposting mengenai pabrik sepatu Sonaricka yang terbakar. Tubuhku terasa lemas tak bertulang. Air mataku terus berjatuhan. Usaha yang ayah rintis sejak puluhan tahun terakhir akan berakhir dengan isak tangis.


Aku menyerahkan ponsel yang di layarnya masih terdapat berita tentang kebakaran yang menimpa pabrik ayah. Kak Wisnu membacanya dengan teliti.


“Iya Kak.” Pandanganku kini beralih ke luar jendela mobil.

__ADS_1


“Ah…!” Kak Wisnu melenguh seakan ikut merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku terdiam. Aku berusaha menghubungi ayah tapi tidak ada jawaban. Aku berusaha menghubungi bunda, tapi sama, tidak ada jawaban.


Akhirnya kami berhenti di sebuah taman di pinggiran kota. Mungkin Kak Wisnu tak sanggup melanjutkan perjalanan melihat kondisiku seperti ini. Aku pun turun dari mobil menuju sebuah kursi panjang. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memanggil ayah dan bunda sekeras-kerasnya. Aku tidak mempedulikan jika ada orang mendengarku.


Dalam berita yang di publish tadi, tertulis juga ayah terjebak hutang ratusan juta bahkan hampir 1 Milyar Rupiah. Dan sekarang ayah menjadi buronan renternir yang terkenal kejam. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa ayah tadi berpesan begitu? Aku harus mandiri? Aku harus menjaga diri? Apa itu artinya, aku juga menjadi sasaran renternir itu? Aku benar-benar sedang dalam kondisi terendahku saat ini. Belum lagi masalah Kayla, sekarang ditambah ayah dan bunda yang terkena masalah. Aku menangis sambil menutupi kedua wajahku. Seakan aku tak kuat menghadapi hidupku esok hari.


“Menangislah jika itu membuatmu menjadi lebih baik,” suara lembut Kak Wisnu yang duduk di sampingku. Akhirnya, aku kembali menangis lebih keras. Menumpahkan segala masalahku selama ini. Kak Wisnu mendekatiku memelukku dari samping tempatnya duduk. Aku menangis sesunggukan dalam pelukannya.


Kak Wisnu sudah ku anggap seperti Kakakku. Aku tidak peduli apa persepsinya terhadapku. Saat ini aku benar-benar butuh sandaran. Sahabatku yang tiba-tiba menghilang, ayah dan bunda yang tiba-tiba saja sulit dihubungi. Benar-benar membuat aku ingin menangisi segala takdir yang aku alami.

__ADS_1


Setelah reda tangisku, Kak Wisnu mengajakku pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Aku merasa bersalah kepada Kak Wisnu. Kenapa harus dia yang menyaksikan kondisiku seperti ini? Laki-laki yang mencintaiku sebisa yang ia lakukan, justru aku sakiti perasaannya. Sedangkan ia yang aku cintai entah sekarang sedang apa. Apakah sedang berkencan dengan kekasihnya atau bagaimana? Aku pun tidak tahu. Aku bahkan terlalu lelah untuk menikmati perjalanan pulang. Karena kelelahan, aku pun tertidur pulas.


__ADS_2