
Malam telah tiba. Sampai detik ini dari kejadian di kamar mandi pagi tadi aku sama sekali belum melihat Yoon-Jin. Aku berjalan ke luar rumah. Melihat hawa yang semakin dingin menusuk pori-poriku. Aku melihat ke atas. Tidak ada bintang di sana melainkan awan tebal menggulung menakutkan.
Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Aku mulai kebingungan. Ajumma yang biasanya membantu pekerjaan rumah sudah pulang dari tadi. Tinggal lah aku sendiri di rumah sebesar ini.
(Ajumma: Panggilan untuk wanita yang lebih tua semisal bibi)
Seketika aku mendengar hujan yang sangat deras mengguyur. Terlihat sesekali petir membentang memantulkan cahayanya dari samping jendela rumah. Aku menggigil.
Ah… kenapa Yoon-Jin belum datang juga? Dan kenapa pula aku percaya kalau dia akan pulang menemaniku?
Malam semakin larut dan hujan semakin kencang. Gelap seketika. Ternyata listrik padam. Aku panik karena tidak tahu di mana sakelar utamanya. Aku berusaha menguasai ketakutan.
Samar-samar aku mendengar suara sebuah mobil memasuki garasi. Dengan menggunakan pencahayaan dari ponsel aku pun menuruni tangga dan menuju pintu depan. Aku benar-benar mengharap kedatangan Yoon-Jin. Aku melihat sekeliling kenapa begitu gelapnya. Aku mendekati pintu. Tapi suasana tetap hening, hanya terdengar petir ringan dan suara air yang membludak jatuh membasahi bumi.
“Ah... apa tadi hanya perasaanku saja? Apa sebaiknya aku kembali ke kamar? Menutup selimut dan kemudian tertidur?” bisikku dalam hati.
Aku benar-benar tidak mengharapkan rasa takut mulai menguasaiku. Aku berjalan menuju tangga. Baru satu anak tangga yang berhasil aku lalui, tiba-tiba aku mendengar pintu seperti diketuk beberapa kali. Aku terkejut bukan main.
Apa aku salah dengar?
Aku berusaha mengacuhkannya. Namun setiap anak tangga yang aku lalui, aku pun mendengar ketukan pintu itu. Ketukan pintu itu sangat mengganggu pendengaranku. Sekelebat wajah-wajah menyeramkan yang pernah aku tonton di drama bergenre horor Korea memenuhi otakku saat ini. Antara percaya dan tak percaya aku kembali menuju ke arah pintu. Perlahan dan perlahan suara ketukan itu tetap ada tapi semakin melemah.
Aku mulai membuka pintu perlahan. Rasa takut dan penasaran seperti mix dalam hatiku. Tak ada siapa-siapa yang ku lihat. Mungkin karena gelap dan pencahayaan yang kurang membuatku kesulitan melihat keluar.
Tiba-tiba...
bugggg...
Ada sesuatu yang jatuh ke arahku. Benda besar dan berat itu menindih tubuhku. Sebisa mungkin aku bertahan untuk tetap tegak. Aku merasakan sesosok manusia bersandar di tubuhku.
“Siapa ini?” batinku dengan ekspresi terkejut bukan main. Samar-samar wajahnya terlihat saat kilatan petir memantul ke arah kami.
__ADS_1
“Yoon-Jin… ? Wae geoereo?” kataku sambil mencoba membopongnya. Aku merasakan hawa panas tubuhnya.
(Wae geoereo: ada apa denganmu)
Aku dapat menarik kesimpulan, bahwa badan Yoon-Jin sedang demam tinggi.
“Gelap sekali, Eottokke….” Aku mulai panik.
(Eottokke?: bagaimana ini?)
Aku menidurkannya di sofa ruang tamu karena tidak memungkinkan membopongnya ke lantai atas karena tubuhnya yang jauh lebih besar dariku. Aku melepas sepatunya dan mengganti bajunya yang basah.
“Yoon-Jin-ah... Kau seperti anak kecil yang main hujan-hujan kemudian terkena demam,” gumamku.
Aku menghidupkan lilin yang aku temukan di kamar Yoon-Jin saat mengambil baju dan selimut untuknya. Aku tak kuasa memberinya obat karena walaupun aku sudah sedikit menghafal huruf hangeul aku tetap ragu memberikannya. Aku juga tidak tahu nama dan alamat dokter terdekat. Tak ada yang bisa ku lakukan kecuali mengompresnya.
Aku menatapnya dari dekat. Wajahnya yang terpantul lilin dengan mata tertutup terasa lebih hangat dari biasanya yang menatapku dengan pandangan dingin. Aku pun menyelimutinya dengan selimut yang tebal. Aku meraba keningnya dan membandingkan dengan keningku. Panasnya sudah lebih rendah dari pertama aku bertemu dengannya. Aku hendak berdiri mengambil termometer untuk memastikan kalau panasnya sudah turun. Ketika berdiri dan hendak melangkahkan kakiku, aku merasakan ada tangan yang mencegahku beranjak dari tempat itu. Tangan itu mengenggam pergelangan tanganku begitu erat. Aku melihat pemilik tangan itu masih dalam keadaan mata tertutup.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau pulang dengan keadaan yang menyedihkan seperti ini?” Aku tidak mengharap jawaban darinya.
“Tolong... temani aku di sini...” suara Yoon-Jin terdengar lirih. Aku hanya diam dan menatapnya kosong. Terkadang aku bingung dengan sikapnya yang terkadang dingin, aneh, dan semakin membuatku penasaran. Aku tertidur di sampingnya sampai pagi datang.
Seseorang yang terbaring di hadapanku sudah tidak terlihat pucat lagi. Tak lama kemudian, ia mulai membuka matanya perlahan. Tatapan itu, kini aku melihatnya lebih teduh dari biasanya.
“Kwenchana?” Aku sambil melihatnya lekat-lekat.
(Kwenchana?: Apa kau baik-baik saja?)
Dia hanya sedikit tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Ah bukan, itu bukan sebuah senyuman, hanya terlihat seperti melebarkan sedikit setiap sudut bibirnya.
Perlahan ia bangkit dari tidurnya, aku hendak membantunya tapi ia mencegahku dengan isyarat tangannya.
__ADS_1
“Yaaaa…!!” Kini matanya terbelalak sempurna. Sepertinya ia terkejut akan sesuatu.
Aku tetap diam melihatnya dengan ekspresi yang aneh itu.
“Ricka… Apa kau yang mengganti bajuku semalam?” Ia menatapku dengan menaikkan alis sebelah kanannya.
Aku hanya menjawab dengan anggukan seperti orang bodoh.
“Mwoooo?? Neo mychoseo?” Ia berteriak keras sekali. Kali ini aku yakin ia bisa berteriak sekeras ini karena demamnya sudah benar-benar pulih.
(Neo mychoseo?: Apa kau sudah tidak waras?)
“Yaaa! Kau bilang aku gila? Kau lebih gila lagi! Pulang dalam keadaan mengenaskan!” suaraku tak kalah keras dengan suaranya. Ia menatapku terdiam dengan posisi mulut yang masih melongo.
“Lagi pula, aku bukan tipe orang yang punya pikiran cabul sepertimu!” Aku melengos ke arah lain
“Mwoo? Jadi kau sungguh berfikir aku punya pikiran mesum kepadamu, hah?” Ekspresinya sangat menjijikkan.
“Ne… kalau tidak, mana mungkin kau seenaknya masuk ke kamar mandi orang?” Aku memicingkan mata kiriku.
“Aigoo… Aku sudah bilang dengan semua alasannya bukan? Kenapa kau masih berfikir...” ia belum sempat melanjutkan kalimatnya, aku dengan cepat memotong pembicaraannya.
(Aigoo: ungkapan gemas,kalau di Indonesia seperti 'aduuuh...')
“Yaaa..! Apakah kau menyesal jika itu aku yang mengganti bajumu? Kalau begitu kenapa kamu semalam pulang? Kenapa kau tidak menginap di rumah temanmu atau kemana saja! Apa kau pikir aku manusia yang tak berperasaan melihatmu tergeletak dalam keadaan basah kuyup dan demam di luar sana? Ingat Yoon-Jin-ah... Aku baik padamu hanya karena appa-mu telah menolongku….”
Aku benar-benar merasakan kedua mataku memanas. Dia menatapku tajam, aku merasa seakan merenggut kehormatannya dengan paksa. Tapi tunggu, apa sebeginikah masalahnya? Ah entah lah, kenapa dia semakin marah melihatku.
“Jika kau merasa bersyukur, kau cukup mengucapkan terima kasih, dan jika kau merasa bersalah, kau cukup minta maaf!” Aku melanjutkan perkataanku sebelumnya.
Aku pun pergi meninggalkannya. Ada apa dengan perasaan ini? Kenapa aku merasa sedih? Seharusnya aku tak perlu merasa sedih. Aku sudah melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan. Jikalau ia salah menafsirkan kebaikanku, ya terserah. Dan kenapa tadi aku begitu mudah terpancing emosi? Yah... lagi-lagi apakah aku dipermainkan oleh perasaanku sendiri? Aku masih belum menemukan jawabannya.
__ADS_1