
Perjalan pulang yang terasa sangat cepat. Rasanya ingin berduaan lebih lama bersama Kak Ji-Sung. Meluapkan perasaan yang selama ini aku bingungkan. Mengumpulkan bukti kuat bahwa aku benar-benar menyukai Kak Ji-Sung.
Sampai rumah tepat saat jam makan malam, aku membantu tante Nari menyiapkan makanan di meja makan.
“Yoon-Hee-ya, panggil Yoon-Jin, katakan kita sudah menunggu di ruang makan,” kata Tante Nari sambil menata gelas di meja makan.
“Yoon-Jin tidak ikut makan malam Eomma, karena tadi sudah makan di traktir teman kampusnya yang sedang ulang tahun,” jawab Yoon-Hee.
“Oo… hari ini kamu menginap sini, kan Ji-Sung?” kini pandangan Tante Nari mengarah ke Kak Ji-Sung.
“Emmm... Ne, aku dan Ricka akan melanjutkan pelajaran yang kemarin sempat tertunda,” jawab Kak Ji-Sung sambil melirikku.
“Apa kau capek?” ia bertanya kepadaku.
“Anniyo, justru aku terlalu bersemangat untuk belajar malam ini,” jawabku dengan nada yang seperti orang menang lotre.
Setelah selesai makan malam, kak Ji-Sung langsung menuju ke kamarku. Aku sudah mempersiapkan beberapa buku-buku yang sebelumnya aku pelajari bersama kak Ji-Sung.
“Aaa… kemarin kita sudah belajar beberapa kosa kata, apa kau sudah menghafalnya?” Ia menatapku serius.
“Belum, aku terlalu sibuk memikirkan Kak Ji-Sung” rayuku dan seketika membuatnya terkejut dengan perkataanku.
Kak Ji-Sung tertawa lepas,“Wooah… belajar dari mana kata-kata itu?”
Aku hanya menjawab dengan senyuman tipis.
“Ricka… Kita mulai pelajarannya.” Ia membuka salah satu buku yang paling tebal.
__ADS_1
“Ne…” jawabku dengan semangat.
Kak Ji-Sung begitu sabar mengajariku beberapa susunan kata yang menurutku sangat asing aku dengar. Beberapa kali aku mempraktekkannya selalu salah. Pola kalimat yang jauh berbeda dengan bahasa Indonesia membuatku bingung merangkainya. Belum lagi huruf hangeul yang menurutku lebih rumit baik bentuk dan cara menulisnya dengan huruf latin membuat mataku tidak kuat berlama-lama mempelajarinya.
“Kak…” Aku menatapnya lekat-lekat.
“Ne?” sahut Kak Ji-Sung tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang ia pegang.
“Bagaimana perasaan Kak Ji-Sung terhadapku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku. Aku pun terkejut mengapa aku mengeluarkan kata-kata itu secepat ini.
Ia menatapku dan menutup bukunya,
“Apa kau tidak merasakannya?” pertanyaan yang sangat sulit aku jawab. Kemudian selang beberapa detik kemudian ia mendekatiku, semakin dekat. Aku merasa tangannya menyentuh daguku mendongakkan ke atas untuk berani menatapnya. “Saranghae….” kata itu keluar dengan sangat lembutnya. Sampai aku ragu apakah aku mendengarnya atau tidak.
(Saranghae: Aku mencintaimu)
Ah… Apa yang harus aku lakukan? Otakku sama sekali tidak memerintahkan seluruh bagian tubuhku untuk bergerak menjauhinya, namun hatiku seakan memintaku untuk menghindarinya dan menolak ini semua. Tidak mungkin kalau ini bisa terjadi padaku. Aku berharap akan ada ponsel berdering lagi, ah... Kak Ji-Sung pasti tidak membawa ponselnya dan ponselku dalam keadaan silent sekarang. Ah… Bagaimana ini? Aku memejamkan mataku perlahan. Seakan menerima wajahnya yang semakin mendekat ke wajahku. Aishh... Aku benar-benar tak menyangka kalau sampai itu terjadi. Tapi ah… apa ini akan terjadi dengan perasaan mengganjal seperti ini? Aku ingin menangis rasanya. Aku ingin teriak tetapi kenapa seluruh tubuhku terasa sangat Kaku? Aku benar-benar menginginkan sesuatu terjadi agar otakku mau menurutiku. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku semakin merasakan kedekatan wajahnya yang hanya tinggal beberapa senti dari wajahku. Pada saat itu juga….
Braaaaaaakkk…
Suara yang cukup keras terdengar dari pintu kamar mandi di kamarku. Sontak membuatku tersadar dan menutup wajahku karena terlalu terkejut dengan kondisi yang sedang aku alami. Kak Ji-Sung pun reflek melihat ke arah sumber suara.
“Yaa…! Apa tidak ada yang bisa mendengarku, ha? Apa kalian sebegitu serius belajar sehingga tidak menyadari aku yang terkunci di dalam kamar mandi?” teriak seorang laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah Yoon-Jin. Ia tiba-tiba keluar dari kamar mandiku dengan mendobrak pintunya. Aku melongo melihatnya yang sangat tidak aku sangka berada dalam kamar mandiku di saat-saat seperti ini.
“Yaa…! kenapa kau tidak memberitahuku kalau pintu kamar mandimu rusak?” Ia melanjutkan teriakannya sambil melihatku tajam dan menaikkan salah satu alisnya.
Aku pun terdiam melihatnya. Ah… Yoon-Jin adalah pangeranku kali ini. Ia menyelamatkanku dari kondisi yang sangat tidak aku inginkan. Aku terjepit antara otak dan hatiku yang saling melakukan gencatan senjata.
__ADS_1
Yoon-Jin dengan santainya berjalan keluar dari kamarku tanpa ada rasa bersalah apa pun.
“Ricka-ya… apa Yoon-Jin kerap mandi di kamar mandimu?” Kini Kak Ji-Sung bertanya padaku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
“Bahkan lebih dari itu….” jawab Yoon-Jin yang ternyata ia mendengar pertanyaan dari Kak Ji-Sung untukku.
Kak Ji-Sung dan Yoon-Jin saling bertukar tatapan yang sangat sulit aku tafsirkan. Ada kemarahan dan dendam yang bersarang di antara tatapan mereka.
“Yah… Aku beneran tidak berada dalam sebuah drama Korea, kan?” bisikku dalam hati. “Kenapa aku terjebak dalam posisi seperti ini?” gumamku lagi.
“Ricka-ya… cukup pelajaran hari ini. Lebih baik kau istirahat. Okey?” Kak Ji-Sung kembali merapikan buku-bukunya. Aku mengangguk dan melihatnya beranjak dari tempatnya. Aku melihat ia keluar dari kamarku. Seketika itu juga aku merebahkan tubuhku di tempat tidur.
“Ah… ini sungguh kegilaan,” gumamku melihat langit-langit kamarku.
Aku memejamkan mataku dan membayangkan peristiwa yang akan terjadi jika Yoon-Jin tidak muncul di saat yang tepat, pasti Kak Ji-Sung benar-benar akan menciumku.
Tapi sekejab kemudian sekelebat bayangan buram itu datang lagi.
“Ah… siapa diaaaaa??” teriakku tertahan sambil mengacak-ngacak rambutku. Aku mengatur napasku yang sudah tidak beraturan dari tadi.
“Tapi… kenapa Yoon-Jin bisa tiba-tiba di kamar mandiku? Pintu kamar mandi rusak? Sepertinya tidak, soalnya tadi terakhir aku masuk kunci dan gagang pintunya berfungsi normal. Lagi pula tadi aku benar-benar tidak mendengar teriakannya di dalam kamar mandi. Apa mungkin dia melihatku dan Kak Ji-Sung…? Aahh… Tapi bagaimanapun Yoon-Jin menyelamatkanku kali ini,” ujarku pada diriku sendiri.
Pikiranku menerawang, menerka-nerka apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Aku mengingat kata-kata Kak Ji-Sung yang baru aku dengar beberapa menit lalu. “Saranghae….” kata yang sering aku dengar di drama-drama romantis Korea. Kata yang simpel tapi punya arti yang begitu luar biasa.
Kak Ji-Sung mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aah… apa dia benar mencintaiku? Dan kenapa perasaan ini? Kenapa aku tidak menyukainya? Yaa… Aku menyukainya… Aku harus bahagia. Selama 22 tahun hidupku, aku belum pernah yang namanya mencintai lebih dari ini. Andra, aku hanya sampai di titik pengagum rahasianya. Sama sekali aku tidak pernah dekat bahkan bicara sepatah kata pun dengannya. Tapi kini, rasa yang begitu lama menghinggapiku langsung hilang seketika aku menginjakkan kakiku di Negeri Gingseng ini.
Apa setelah itu aku terbebas dari kutukkan itu? Atau nanti ketika aku kembali ke Jakarta kutukkan itu akan aku dapatkan kembali? Aah… Aku lelah dengan permainan perasaan ini. Siapa laki-laki berwajah buram yang sering mampir dalam mimpiku selalu menjadi tanda tanya besar. Setiap aku hendak memejamkan mata, aku selalu takut untuk bermimpi lagi.
__ADS_1
Aku takut bertemu dengan laki-laki buram itu, aku takut rasa cintaku dengan Kak Ji-Sung berkurang karenanya. Entah nanti endingnya aku akan bahagia dengan Kak Ji-Sung atau tidak. Aku akan buang perasaan itu. aku harus bahagia mulai sekarang. Aah…perasaan ini sungguh menyiksaku. Aku yang punya perasaan, tapi aku pula yang bingung menafsirkannya. Apa aku Ricka yang lemah yang tidak bisa mengontrol perasaanya sendiri? Oh… begitu menyedihkan.