
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur nan empuk. Menikmati seluruh aliran darahku mengalir dengan lancarnya. Aku menikmati udara yang masuk ke paru-paru. Dengan perlahan aku mulai menutup mata. Yang ada dalam otakku hanya senyum Yoon-Jin sekarang.
Aah... benarkah kali ini aku jatuh cinta?
Setelah bebersih diri aku menuju ke dapur karena hawa dingin musim semi membuat tenggorokanku menjadi kering.
Setelah puas meneguk air, aku berniat menuju ke tangga dan kembali ke kamar. Namun aku menghentikan langkahku ketika aku mendengar sayup-sayup percakapan beberapa suara yang aku kenal. Aku melihat dari balik pintu yang terbuka ternyata di sana ada Kak Ji-Sung, Yoon-Jin dan Yoon-Hee. Sepertinya mereka sedang ada pembicaraan yang serius.
“Kau sepertinya menikmati umpan yang aku lemparkan tepat di hadapanmu!” kata Kak Ji-Sung sambil melipat kedua tangannya.
“Aku bingung dengan sikapmu. Kau begini karena kau cemburu atau terlalu senang aku menangkap umpanmu?” Yoon-Jin melempar pandangan sinis.
“Dua-duanya…” jawab Kak Ji-Sung santai.
“Oppa… kau tidak serius telah melupakan aku, kan? Oppa… kau janji, jika aku membuat Ricka dan Yoon-Jin bersama kau tidak akan pernah meninggalkan aku!” Yoon-Hee sedikit terisak .
Deg…
kenapa ada namaku di percakapan mereka? Apa maksud perkataan Yoon-Hee? Membuat aku dan Yoon-Jin bersama? Aah... apa ini?
Dadaku mulai sesak antara mau dan takut mendengar percakapan mereka selanjutnya.
“Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi kau yang meninggalkan aku!” kata Kak Ji-Sung.
Aku sangat jelas melihat tatapan kekecewaannya ketika melihat Yoon-Hee.
__ADS_1
“Oppa… aku sama sekali tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku hanya ingin merintis hobi yang sekarang menjadi karirku… Oppa… saranghae….”
(saranghae : aku mencintaimu)
Aku sangat jelas melihat titik air mata yang terjun bebas di kedua pipi mulus Yoon-Hee.
*What? Yoon-Hee bilang apa tadi? ‘Saranghae’? Apa benar kalau Yoon-Hee itu sebelumnya memiliki hubungan dengan Kak Ji-Sung? Ini sebenarnya ada apa*? Benar-benar membuat aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Yoon-Jin hanya diam memaku melihat saudara kembarnya seperti mengemis cinta terhadap hyung angkatnya itu.
“Tak bisa kah kau menjadi anak yang lebih membanggakan orangtuamu, ha? Tak bisakah kau menjadi sedikit berguna? Ya… aku akui, awalnya aku tertarik dengan Ricka, tapi aku tahu bagaimana perasaanmu sejak awal bertemu dengannya!” Kak Ji-Sung bersuara dengan nada yang mulai merendah.
“Yoon-Jin-ah… mengapa kau terlalu sulit untuk jujur akan perasaanmu? Selama ini kau selalu alergi dengan gadis-gadis di kampus hanya karena ingin bertemu dengan sosok yang membuatmu tidur nyenyak, bukan?” Kini Yoon-Hee angkat bicara. Pandangannya tajam melihat Yoon-Jin. Yoon-Jin pun membalas dengan tatapan tajam pula.
Aku masih bingung dengan arah percakapan mereka? Perjodohan? Yoon-Jin di jodohkan dengan siapa? Dan apa hubungannya dengan Kak Ji-Sung? Ah... aku masih bingung dengan apa yang mereka bicarakan itu.
“Kau sadar saat ia pertama datang kesini? Aku yang menyuruh Yoon-Hee dan Mi-Yun untuk ikut acara perusahaan appa yang padahal mereka sangat tidak tertarik mengikutinya. Dan lagi, ketika aku, appa, dan eomma ke Jepang urusan bisnis, aku yang menyesuaikan tanggalnya agar kalian bisa tinggal berdua dalam satu atap. Aku sangat puas ketika melihatmu cemburu dengan kebersamaanku dengannya. Kau ingat ketika Yoon-Hee mengajaknya ke Hoehyeon-Dong dan meninggalkannya sendiri? Itu aku yang menyuruhnya. Aku pura-pura bertanya panik kepadamu, dan aku sangat tahu saat itu kau panik bukan main dan ikut mencari Ricka. Namun lagi-lagi harga diri yang kau dewa kan itu seakan membuatmu tertahan untuk menghampirinya, bukan? Kau hanya berdiri mematung melihat Ricka yang pingsan di pinggir jalan sehingga terpaksa aku yang menolongnya. Saat itu aku sangat marah, dan sengaja membawa Ricka ke apartemenku! Aku pun tahu kau mengikutiku. Namun Ricka tidak mau menginap di apartemenku, sengaja aku menelpon appa dan eomma untuk menghadiri acara pertunangan sahabatku menggantikan aku. Dengan demikian kalian berdua pasti akan bersama lagi,” kata Kak Ji-Sung panjang lebar diiringi tawa yang menakutkan.
Jantungku seakan berhenti mendengar perkataan Kak Ji-Sung barusan. Jadi selama ini mereka mempermainkan aku? Jadi sebenarnya Om Shoni hendak menjodohkan aku dengan Yoon-Jin dan kemudian Yoon-Jin meminta Kak Ji-Sung lah yang menerima perjodohan ini? Aah… apa apan ini? Permainan macam apa ini?
Aku sudah tidak kuat mendengar percakapan mereka. Dengan langkah yang mantap aku berjalan mendekati mereka. Tak kuasa aku menahan air mata yang aku tahan dari awal mereka menyebut namaku tadi.
“Apa aku terlihat seperti piala bergilir buat kalian? Atau bahkan aku terlihat seperti sampah yang tidak diinginkan oleh semua orang di sini?” Aku melihat mereka bertiga terkejut dengan kehadiranku.
Yoon-Jin dengan cepat menggandeng tanganku, ah lebih tepat menarik tanganku kembali masuk ke dalam rumah. Aku sudah tidak kuasa untuk menolak tarikannya. Saat sampai di tangga, aku berhenti dan menatapnya tajam-tajam.
__ADS_1
“Setega inikah kau? Jikalau kau tidak menyukaiku dan menolak perjodohan ini. Semudah itukah kau melempar perjodohan ini ke orang lain? Seperti melempar sesuatu yang tidak berharga dan membuat seseorang mengambil sesuatu yang telah kau buang? Sebegitukah egomu membuatmu menjadi semenakutkan itu!” teriakku sambil terisak.
“Jangan bicara di sini. Kalau sampai appa dan eomma dengar, akan menjadi runyam masalahnya. Berurusan dengan orang tua akan semakin merepotkan!” ia setengah berbisik.
Ia kembali menarik tanganku, namun aku tetap tak bergerak sedikit pun. Tiba-tiba ia menggendongku, sehingga membuatku sedikit teriak.
“Ssssstt….” ia mendesis tepat di depan wajahku.
“Kalau kau teriak kau akan menyesal!” suara Yoon-Jin membuatku merinding.
Dengan terpaksa aku menutup mulutku serapat mungkin, selain takut dengan apa yang akan dilakukan Yoon-Jin, aku lebih takut kalau Om Shoni dan Tante Nari melihat kami dengan posisi seperti ini.
Dengan sigap Yoon-Jin menggendongku, satu per satu anak tangga berhasil ia lewati. Namun ia tak juga menurunkanku ketika sampai ke lantai atas. Ia berjalan melewati kamarnya dan kamarku. Ternyata menuju ke teras kecil lantai dua yang menghadap ke halaman belakang. Ia meletakkan aku di atas sofa yang menghadap ke teras tersebut.
Aku menatap lurus ke depan. Seakan dunia tak adil memperlakukanku. Di negaraku sendiri aku terpaksa kabur untuk menghindari perjodohan dengan suami beristeri tiga, dan di sini aku pun dijodohkan dengan laki-laki yang… Ah aku harus bahagia atau sedih aku pun tak tahu harus bagaimana. Jikalau semudah itukah aku mendapatkan Yoon-Jin tapi bagaimana perasaanku ketika Yoon-Jin menolak perjodohan ini dan melemparkannya kepada orang lain yang jelas-jelas kekasih saudara kembarnya? Bisa gila aku.
Yoon-Jin menatapku. Kebekuan terjadi beberapa menit hingga akhirnya ia mulai angkat bicara, “Ricka… mianheo….”
Aku menatapnya dengan pandangan kosong kemudian bekata, “Aku tahu, aku tidak pantas berada dimana pun. Di negaraku aku dipaksa menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai, dan di negeri ini pun aku dijodohkan dengan lelaki yang tidak mencintaiku. Kenapa perasaan gila ini selalu muncul? Aku merasa diriku tak lebih dari seonggok sampah di jalanan!” Aku mengusap air mata yang jatuh di pipiku.
“Anni, bukan itu maksudku!” Ia menatapku dalam-dalam.
“Aku harus kembali ke Indonesia secepatnya,” kata terakhirku malam ini untuk Yoon-Jin.
Aku berdiri kemudian berjalan ke arah kamarku. Sampai di depan pintu kamar aku melihat siluet sosok Yoon-Jin yang masih belum bergerak dari tempat duduknya. Aku benar-benar tidak bisa membaca jalan pikirannya. Aku hempaskan tubuhku di atas balai tempat tidur. Menutup wajahku dengan bantal serapat-rapatnya. Ah… aku sangat merindukan ayah dan bunda. Sampai kapan takdir ini menyiksaku. Aku pun terlelap dengan penuh keputusasaan.
__ADS_1