CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 50 (GOMAWO-MIANHE-SARANGHAE ~1)


__ADS_3

“Hari ini, Yoon-Jin, diperbolehkan pulang…” kata Kak Ji-Sung yang menemuiku di taman depan rumah sakit.


Aku menjawab dengan senyuman ringan.


“Gomawo… Kak Ji-Sung!” Aku melihat ke arahnya.


“Buat apa?”


“Semuanya… entah mengapa sekarang aku sudah menemukan orang yang tepat. Bahkan orang yang sudah aku temui bertahun-tahun lamanya…”


“Nugu-ya?”


(Nugu-ya: siapa?)


“Yoon-Jin… dia yang selama ini selalu hadir dalam mimpiku. Awalnya aku bingung, mengapa Yoon-Jin bisa ada dalam mimpiku selama ini.”


“Itulah takdir kalian….”


“Aku belum mengetahui bagaimana perasaanya terhadapku, tapi yang jelas, kini aku tahu, bahwa orang yang selama ini aku cari adalah Yoon-Jin.”


“Takdir kalian sudah tertulis jauh sebelum kalian dipertemukan, maka jagalah takdir itu! Percayalah, takdir tidak akan membuat manusia menderita.” Kak Ji-Sung menepuk bahu kananku.


“Aku tahu, takdir Kakak dengan Yoon-Hee akan jauh lebih bahagia.”


“Kita mempunyai takdir masing-masing yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya.”


Setelah Yoon-Jin keluar dari rumah sakit, kami langsung terbang menuju ke Seoul. Dokter meminta Yoon-Jin untuk banyak istirahat karena racun yang masuk di dalam tubuhnya sempat menjalar ke organ dalamnya. Walaupun semua racun sudah berhasil di keluarkan, namun tubuhnya masih terlalu lemah. Sampai di rumah kami dikejutkan dengan banyak hadiah. Ternyata para Dreamer yang mengirimkannya.


“Wooah…ternyata kau benar-benar menjadi artis sekarang…!” Mataku melihat beberapa kado yang tersebar di ruang tamu.

__ADS_1


“Begitulah…” Ia menunjukkan kebanggaannya. Aku melihatnya dengan jengah.


Aku membuka salah satu kado berwarna pink itu. Di depan kado itu ada bertuliskan:


Yoon-Jin Oppa… Saranghaeoooo… Get Well Soon…!!


“Ini kenapa bertuliskan saranghae-saranghae semua?” gerutuku pelan.


“Ricka-ya… kenapa kau banting-banting semua kadonya?” teriak Yoon-Jin terlihat kesal.


“Isssh… jadi kado para perempuan yang mencintaimu ini sangat berharga ya buatmu?” tanyaku dengan nada tinggi.


Tanpa ba-bi-bu ia mendekatiku kemudian memelukku.


“Apa-apaan…” bisikku. Tapi ia tetap memaksaku untuk diam dalam pelukannya.


“Ah… anniya… sebelum Yoon-Jin bilang kalau ia menyukaiku aku tidak akan menganggap berarti pelukan ini. Tapi tak ada masalah bukan, kalau aku juga menikmati pelukan ini?” bisikku dalam hati sambil nyengir kuda.


“Mwo? Kau suka?” Dan seperti terhipnotis kepalaku mengangguk dengan sendirinya.


“Na-do… kau ingat saat dulu kita pertama bertemu di bandara? Aku sungguh ingin berlari dan memelukmu!” Perkataan Yoon-Jin membuatku membeku beberapa detik. Perlahan aku melepaskan perlahan pelukannya.


“Jadi, sebelumnya kau sudah mengenalku?” Mataku menatap lurus ke arahnya.


“Ne… aku sudah melihatmu jauh bahkan bertahun-tahun sebelum pertemuan pertama kita.”


“Mwo? Kenapa kau tidak bilang? Ah… tahukah kau sampai-sampai aku salah paham dengan seseorang?”


“Nu-gu? Kau salah paham dengan siapa? Jadi kau selama ini mengira aku yang ada dalam mimpi itu orang lain? Yaa…! Apa daya ingatmu serendah itu?” Ia menaikkan nada bicaranya satu oktaf dari sebelumnya.

__ADS_1


“Woaaah… kenapa kau tiba-tiba menjadi kasar begini? Bukan salahku ketika bangun dari setiap mimpi-mimpi itu, wajahmu sama sekali tidak bisa aku ingat bahkan berubah menjadi orang lain. Namun saat aku pertama kali kesini wajah itu berubah menjadi buram dan tidak jelas. Aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Hanya saat ketika kita kritis dan bertemu di pinggir tebing itulah mimpi terakhir kita. Aku baru benar-benar bisa mengingatmu!”


“Jadi, selama ini kau menyukai orang lain? Bukan aku?” tanyanya.


“Ne…” jawabku perlahan.


“Isssh… tahukah kau, aku hampir gila menahan perasaan ini, ha?”


“Salah siapa kau tidak bilang dari awal!”


“Aku sempat bingung, kenapa bisa kau melihatku dengan tatapan yang biasa saja? Padahal aku melihatmu dengan tatapan kerinduan yang mendalam!” katanya.


“Kau sebut apa? Tatapan kerinduan yang mendalam? Kau membuatku merinding tiap kali melihat matamu itu. Menyeramkan! Seakan kau bilang ‘sedang apa kau di sini? Enyahlah kau!’ ” ujarku dengan membesarkan suaraku.


Ia tertawa ringan. “Anniya… aku berusaha mengatakan, ‘kenapa kau tidak mengenalku?’ Aku sempat ragu, apa benar kau hanya fantasiku belaka atau benar adanya? Appa selalu menunjukkan fotomu tiap ia berkunjung ke Jakarta. Bahkan kita sempat bertemu sekitar dua tahun yang lalu, tapi saat itu kita tidak banyak bicara karena kau sedang sibuk dengan kerja lapanganmu sehingga kau hanya berkata seperlunya saja. Padahal kau tahu? Aku ingin bertanya banyak hal kepadamu!”


“Woaaah… bagaimana bisa orang yang keluar dari masa kritisnya langsung memiliki kepribadian ganda sepertimu?” sindirku.


“Yaa… aku sebenarnya ya seperti ini. Waktu itu, aku hanya terkesan cool saja!” Ia melipat kedua tangan ke depan dadanya.


“Kajja… kau harus segera istirahat!” Aku menggandeng tangannya ke tangga menuju kamarnya.


Bukannya menerima ajakanku tetapi ia malah menarik pergelangan tanganku dan kembali memelukku.


“Yaa… neol mychoseo? Kalau ada yang lihat bagaimana? Ah… bisakah kau bertindak sewajarnya?” Aku berusaha melepaskan pelukannya.


“Katakan kalau sebenarnya kau juga tidak ingin melepaskan pelukanku…! Ah… aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Kenapa hatiku terasa longgar sekali… tiap kali aku melihat matamu, ingin rasanya menarikmu ke arahku seperti ini. Ingin rasanya melakukan seperti apa yang kita lakukan ketika dalam mimpi. Entah takdir apa yang mempertemukan kita dalam mimpi yang indah seperti itu. Aku tidak pernah percaya yang namanya takdir, tapi mungkin hingga saat ini kau masih dalam pelukanku, aku sangat-sangat percaya bahwa takdir indah telah mempertemukan kita!”


Aku terdiam dalam pelukannya, seperti ada aliran elektron-elekton listerik yang menjalar ke dalam pori-pori tubuhku. Elektron-elektron itu seakan membawa muatan positif sehingga membuatku sangat bahagia. Tuhan, aku mohon pada-Mu, jangan jadikan ini hanya sekedar mimpi manis di Seoul.

__ADS_1


__ADS_2