CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 39 (Pulau Jeju?? Woaah...)


__ADS_3

Sampai rumah tampak Om Shoni dan Tante Nari sedang menonton televisi di ruang tengah.


“Maaf Om, Ricka pulang telat.” Aku menundukkan kepalaku memberi hormat.


“Iya, Ricka. Terus mana Yoon-Jin?” Om Shoni melihat di sekitarku.


“Emm… Ricka pulang sendiri Om.”


“Tadi Om minta dia untuk menjemputmu.”


Jeglek…


Terdengar pintu depan terbuka sudah pasti itu Yoon-Jin. Dia hanya berlalu tanpa melihatku. Mungkin ia masih marah dengan perkataanku tadi.


Aku meminta ijin untuk beristirahat di kamar. Aku melewati kamar Yoon-Jin yang tertutup rapat. Aku mendekati pintu itu, tidak ada suara apa pun dalam kamar itu. Tapi aku yakin Yoon-Jin pasti di dalam kamarnya.


Tok…tok…


Aku mengetuk pintu. Sekian detik pintu itu pun terbuka. Sang pemilik kamar keluar dan melipat tangannya ke atas dada. Ia menatapku dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Ah… aku merindukan tatapannya beberapa waktu lalu saat kita makan ramyeon di minimarket tadi.


“Mwo-ya?” Ia bertanya dengan ekspresi yang menakutkan.


Aku mengambil lembaran uang dan kartu elektronik yang diberikannya kepadaku tadi saat di rumah sakit dan berkata,


“Gomawo… aku hanya ingin mengembalikan ini.” Ia menerima benda itu. Aku melanjutkan kalimatku,


“Mianheo… mengenai perkataanku tadi jika itu menyinggungmu. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu.” Aku melihat ia membuang napasnya kasar dan kemudian membuka pintu kamarnya dan masuk begitu saja.


“Issh… segitu kecewanya kah dia? Kenapa sampai semarah itu?” bisikku dalam hati.


Aku masuk ke kamarku dan langsung merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Badanku terasa penat sekali. Aku kembali memikirkan Kayla, aku sudah menjadi sahabat yang bodoh dan selalu berprasangka buruk terhadapnya. Padahal ia benar-benar menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Beban dalam hatiku pun berkurang, karena sudah bertemu dengan Kayla dan ia dalam keadaan bahagia sekarang. Sekarang yang aku pikirkan adalah keadaan ayah dan bunda. Bagaimana mereka sekarang? Om Shoni melarangku untuk menghubunginya langsung karena takut kalau Shantowi dapat melacak keberadaanku.


Tak terasa musim dingin pun berlalu. Tak ada perubahan berarti yang terjadi di antara aku, Kak Ji-Sung dan Yoon-Jin. Tapi akhir-akhir ini aku melihat Yoon-Jin berlatih lebih keras bersama teman band-nya. Yang aku tahu, Yoon-Jin bukanlah vokalis dalam band-nya, namun seorang drummer. Meskipun begitu ia tak kalah populer dari teman-temannya.


Buktinya banyak sekali perempuan-perempuan muda yang berkunjung ke rumah dengan memberi banyak hadiah. Aku sempat bingung dari mana perempuan-perempuan itu melihat band Yoon-Jin yang belakangan aku tahu bernama Dreams itu.


Suatu pagi yang cerah memasuki musim berikutnya yaitu musim semi. Kami sekeluarga berkumpul untuk sarapan bersama. Hari ini sarapan terasa lengkap karena Kak Ji-Sung yang biasanya jarang ikut sarapan kini ikut bergabung.

__ADS_1


“Appa… sepertinya aku tertarik dengan tawaran Appa kemarin, akan lebih mudah jika itu teman Appa yang menawarkan rekaman untuk Dreams,” kata Yoon-Jin melihat serius ke Om Shoni.


“Apa kau yakin untuk menekuni bidang itu? Apa kau tidak tertarik dengan perusahaan Appa-mu? Appa sangat membutuhkanmu untuk melanjutkan perusahaan Appa.” Kini Om Shoni membalas tatapan Yoon-Jin tak kalah serius.


“Tapi Appa….”


“Jangan membebani Ji-Sung lagi. Ia sudah cukup kerepotan mengembangkan karirnya. Ia sangat mengharapkan dapat meneruskan karir yang diimpikan mendiang appa-nya,” potong Om Shoni.


“Ne… aku akan menerima tawaran Appa mengenai perusahaan yang Appa maksud. Tapi apakah aku tidak bisa mewujudkan mimpiku dari kecil? Aku janji, jika mimpiku itu terwujud, aku akan menuruti semua yang Appa inginkan. Bukankah lebih baik aku mendalami dua bidang sekaligus? Dan mungkin juga akan bermunculan ide-ide di sana. Misalkan ketika kita membutuhkan promosi dan lain-lain? Apa Appa bisa mempertimbangkannya dulu?” Yoon-Jin meletakkan sumpit yang ia pegang.


Aku melihat seluruh otot wajahnya menegang menunggu jawaban dari ayahnya.


“Emm… jikalau itu yang kau inginkan. Bisakah kau mengisi konser penyambutan musim semi di Jeju minggu depan? Karena perusahaan ayah akan menjadi sponsor utamanya. Jikalau kau berminat, kau dan teman-temanmu bisa menjadi tamu undangan di sana. Meski konsernya gratis untuk semua pengunjung, siapa tahu, kalau kemampuanmu akan lebih diakui di sana. Karena jika kau hanya ingin rekaman saja tanpa melihat apakah penikmat musikmu itu ada. Tentu semua itu akan sia-sia.” Om Shoni kembali menghabiskan sarapannya.


“Mwo? Aaa… aku setuju Appa. Itu lebih baik sepertinya. Aku akan berusaha semaksimal mungkin!” Ada sekelumit senyuman di wajah Yoon-Jin.


“Bagaimana kalau kita semua ke sana untuk melihat pertunjukan Yoon-Jin?” kata Kak Ji-Sung tiba-tiba.


“Woaaah... sepertinya bukan ide yang buruk. Aku tidak pernah benar-benar berlibur ke Jeju kecuali jika sedang ada pemotretan di sana,” sahut Yoon-Hee

__ADS_1


“Sepertinya itu ide yang bagus,” sambut Tante Nari. Sehingga kami sepakat untuk berlibur akhir pekan ke sana.


Aku tidak menyangka akan ke pulau Jeju? Woooahh… akankah aku bisa melihat cherry blossom bermekaran di sana. Pasti sangat indah.


__ADS_2