CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 41 (Memory in Namsan Seoul Tower)


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang kami menuju ke station Cable Car, Yoon-Jin mengajakku naik transportasi yang paling aku ingin naiki selama ini. Aku begitu menikmati pemandangan yang luar biasa. Terdapat kumpulan pohon-pohon yang begitu indahnya begitu kontras dengan bangunan-bangunan yang tinggi menjulang.


Tampak bunga cherry blossom yang menghiasi di beberapa bagiannya. Tak terhindar pula pemandangan di sekitar kami berdiri. Tampak beberapa pasangan yang sangat mesra, di antaranya bergandengan tangan, berpelukan, bermanja-manja.


Mungkin hanya aku yang terlihat kesepian di sini. Walaupun bersama Yoon-Jin, tapi ia terlihat asik dengan ponselnya.


Aku sibuk dengan mengabadikan momen-momen dengan ponselku. Aku mengambil kesempatan untuk mengambil gambar Yoon-Jin saat ia sedang asik dengan ponselnya. Aku memandanginya dari layar ponselku, betapa cool-nya dia. Dengan wajah yang manis walau terlihat dingin dengan bibir merah muda serta lesung pipi menambah keindahan wajahnya.


Cahaya matahari yang menembus kaca dan menampar seluruh wajahnya seakan membuatnya bercahaya. Dengan menggunakan kaos panjang berwarna abu-abu dan jam tangan di tangan kanannya ia tampak seseorang yang mengagumkan. Merasa aku perhatikan, segera ia melihat ke arahku.


“Mwo? Apa yang kau lakukan?”


Aku bergidik ngeri melihat tatapannya.


“Anniya… aku hanya selfi saja!” Aku menoleh ke arah lain, aku harap kali ini ia tidak tahu kalau wajahku memerah.


Beberapa menit kemudian kami turun dari cable car dan melewati jalan yang menanjak menuju ke pelataran Namsan Tower. Sungguh perjuangan yang membutuhkan pengorbanan.


Sampai di ujung jalan napasku terasa terengah-engah. Memperlihatkan aku yang jarang berolah raga. Sampailah kami di pelataran Namsan Tower. Terdapat halaman yang lebar di kelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi.


“Apa kau ingin naik ke atas menara?” Yoon-Jin bertanya kemudian melihatku.


“Jika itu bersamamu, aku mau...,” jawabku dengan anggukan bersemangat. Ia melihatku dengan tatapan jijik. Tapi aku menyukainya.


Setelah Yoon-Jin membayar tiket, kami menuju lift. Ada perasaan berdebar di saat memasuki lift. Ini membuatku sedikit lebih takut dari pada naik cable car tadi. Tak sengaja aku menggandeng tangannya dengan memasang wajah takut.


“Kau takut?” Ia melihatku sambil menaikkan salah satu alisnya.


“Jhanggaman… bolehkah aku memegang lenganmu? Sampai perjalanan lift ini selesai... aku janji,” kataku memelas.


(Jhanggaman: tunggu sebentar)


Tanpa menjawab pertanyaanku Yoon-Jin memelukku dari samping. Sekejap jantungku berdetak berirama namun terasa sangat cepat. Tiba-tiba saja lampu lift padam dan menampilkan pemandangan yang luar biasa.

__ADS_1


Lampu-lampu bintang dan pemandangan seperti luar angkasa tercetak di atap lift. Aku benar-benar tidak merasa seperti di dalam lift. Aku seperti terbang ke angkasa. Aku tertegun melihat semua fenomena di dalam lift. Hingga beberapa detik kemudian pintu lift pun terbuka.


“Gomawo Yoon-Jin-ah…” kataku sambil melihatnya. Kini aku merasa kegugupan tergambar dalam wajahnya.


“Kau tidak seperti sedang pusing atau trauma naik lift….” Ia mengamati perubahan ekspresi di wajahku.


“Untuk pertama kalinya aku benar-benar menikmati perjalanan menggunakan lift,” jawabku dan menuju keluar menara bagian atas. Pemandangan yang luar biasa di sana. Sinar jingga matahari seperti menjadi selimut hangat di kota Seoul ini. Hembusan angin musim semi yang dingin dan sejuk menghempaskan helaian rambutku.


Aku menatap wajah seseorang yang di sampingku sekarang. Wajahnya berubah warna ke jingga-an karena terpantul cahaya matahari yang hendak kembali ke sarangnya.


“Yoon-Jin-ah, apakah aku bisa melihat Indonesiaku dari sini?” tanyaku kepadanya. Ia pun menoleh ke arahku.


“Apa kau benar-benar ingin segera kembali ke negaramu?”


“Tentu saja, aku kesini hanya kabur dari semua masalah, dan aku ingin kembali melanjutkan hidup yang biasa aku lalui.” Kami terdiam beberapa menit.


“Lagi pula aku di sini hanya menjadi beban semua orang,” lanjutku.


Yoon-Jin hanya diam. Tampak raut wajahnya berubah sejak aku mengatakan ingin kembali ke Indonesia. Aku menikmati pemandangan yang sekarang ada dihadapanku. Pepohonan, bangunan-bangunan, dan cherry blossom yang seakan tersenyum mesra kepadaku. Aku tidak akan mampu membayangkan akan meninggalkan kota yang indah ini. Terlebih meninggalkan sosok yang saat ini di sampingku.


Hari semakin gelap dan aku memutuskan untuk turun dari menara. Dari percakapan singkat kami tadi, kami masih terdiam dalam kebisuan. Walaupun ia tetap menerima genggaman tanganku ketika turun menggunakan lift. Aku merasakan sikapnya yang lebih dingin dari ketika naik menara tadi.


“Katakanlah kalau kau tak ingin aku pergi,” batinku berbisik.


“Yoon-Jin-ah… tidakkah kau mengajakku untuk melihat-lihat museum boneka beruang di sini atau mengajakku minum di coffeshop juga boleh!” Aku berusaha mencairkan suasana yang beku di antara kita. Ia masih tetap diam, namun akhirnya ia menggiringku mengelilingi museum beruang dan mengajakku minum di coffeshop yang terletak di lantai dasar.


“Yoon-Jin-ah, bolehkah aku bertanya satu hal? Kenapa sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Korea ini kau menyambutku dengan pandangan yang sangat menjengkelkan itu?” Pertanyaanku sontak membuatnya terkejut dan mengalihkan pandangannya ke seberang.


“Mwo-ya? Ada apa dengan pandanganku? Aku melihat dengan cara normal sekarang.”


“Bukan seperti itu! Seakan matamu mengatakan. ‘Hai Ricka… enyahlah kau dari pandanganku!’ begitu lah.”


Ia tertawa renyah.

__ADS_1


Tawa itu, aaah… kenapa seperti salju di tengah padang pasir? Aku begitu menginginkannya. Aku begitu ingin memilikinya. Perasaan apa ini? Perasaan ini seolah mendorongku tak ingin jauh darinya. Berbeda ketika aku dekat dengan Kak Ji-Sung. Melihatnya saja sudah cukup. Tuhan tolong kuatkan aku untuk menghalangi perasaan ini! Kenapa perasaan ini semakin kuat setelah beberapa saat aku bersamanya?


“Yaaa… apa yang kau lihat?” Ia membuyarkan lamunanku. Seketika aku terbatuk-batuk karena terkejut.


“Kau tidak berpikiran mesum, kan? Kau melihatku tanpa mengedipkan mata!”


Sontak wajahku memerah mendengar perkataannya.


“Mwo? Kenapa kau pede sekali?” Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.


Ia tampak tersenyum dan aku tak mau melihatnya.


Aku tak mau perasaan ini semakin subur di hatiku. Aku tak ingin kutukkan ini benar-benar menghampiriku. Aku merasa akan lebih menderita dari kisah cintaku sebelumnya.


“Ayo kita pulang!” Aku berdiri dari tempat dudukku. Menuju ke teras menara. Aku melihat segerombolan gembok beraneka bentuk dan warna.


“Ah... kenapa kita ke sini saat malam hari? Tidak begitu menarik jadinya karena gelap,” ucap Yoon-Jin.


“Aku sengaja kesini malam hari,” jawabku sambil memegangi beberapa tumpukan gembok di pagar.


“Wae?”


“Aku tak mau merasa seperti perempuan yang tidak beruntung,” jawabku.


“Apa maksudmu?”


“Yaaa… mungkin aku adalah satu-satunya wanita yang tidak memasang gembok di sini!” aku sedikit berteriak.


Ia tertawa singkat.


“Kalau gitu ayo kita pulang sekarang!”


Aku mengikutinya dari belakang kaluar area menara. Pemandangan malam yang luar biasa. Kota Seoul yang penuh gemerlap lampu seperti ribuan mutiara di tengah lautan. Akhirnya kami tiba di rumah, suasana rumah sudah mulai sepi.

__ADS_1


“Segera ke kamar dan istirahat…!” seru Yoon-Jin. Aku hanya menjawab dengan senyuman ringan dan anggukan kepala.


__ADS_2