
“Rick, ke sini sebentar!” Kak Wisnu tiba-tiba memelukku dari belakang. Sontak aku terkejut dibuatnya. Ternyata dia menyalakan kamera depan ponselnya. Wajahku terpajang sangat aneh dengan ekspresi terkejut. Kak Wisnu tertawa renyah melihat fotoku di dalam ponselnya itu.
“Apaan sih Kak?” Aku berusaha merebut ponselnya.
“Buat kenang-kenangan.” Ia segera menyimpan ponsel di saku celananya.
“Rick, kau suka sekali dengan benda berbentuk bintang, ya? Melihat dekorasi kamarmu yang banyak sekali aksesoris bintang, dan hampir di setiap bajumu ada gambar bintangnya.” Ia mengamati sekeliling kamarku dan menunjuk ke berbagai arah. “Dan itu anting berbentuk bintang, gordin pun bintang, sandal motif bintang. Kau terobsesi berat dengan bintang, ya?” selidiknya.
Aku terkekeh mendengar perkataannya. “ Iya, Kak, aku memang maniak segala barang yang berbentuk bintang.” Aku melihatnya sambil tersenyum. “Bintang mengingatkanku pada seseorang,” kataku.
“Bintang? Apa orang yang kau sukai itu bernama Bintang? Kok dari tadi aku tidak menemukan foto seorang laki-laki selain foto ayahmu?” Ia memutar kepalanya.
“Bukan, hanya saja bintang selalu mengingatkanku tentangnya. Aku tidak pernah menyimpan fotonya. Karena tanpa fotonya pun aku selalu bisa melihatnya.”
“Segitukah?”
__ADS_1
“Kakak mau tidak berjanji padaku?”
“Janji apa? Untuk menunggumu? Bahkan tanpa kau meminta, aku akan selalu menunggumu,”
“Bukan! Janji kalau suatu hari Kayla datang, tolong sampaikan padanya, aku sangat merindukannya. Aku minta Kakak jangan pernah menungguku. Karena aku takut tidak bisa memenuhi janjiku, Kak,” kataku perlahan tanpa berani menatapnya. Kami terdiam beberapa menit, berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 16.30 WIB setelah berpamitan dengan semua penghuni kos dan mengucapkan banyak terima kasih telah melindungiku kemarin malam.
Di sudut kamar yang aku tempati tiga tahun terakhir ini, menyimpan banyak kenangan manis. Kenanganku bersama Kayla, dan teman-teman yang lain terus bergantian berputar dalam otakku. Tak disangka aku semakin jauh dengan Andra. Apakah dengan ini aku akan mudah melupakan Andra? Atau bahkan sebaliknya aku akan sangat tersiksa nantinya?
“Aku pakai ini aja, Kak.” Aku menolaknya dengan halus.
“Udah, jangan ngeyel… cepet lepaskan!” Ia masih memaksaku.
Apa boleh buat aku tak bisa menolak permintaannya.
__ADS_1
Pukul 17.00 WIB tepat. “Kak, jemputannya sudah datang,” teriak Risa dari luar kamar. Aku perlahan menuju keluar kamar. Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba lenganku tertarik hingga badanku berbalik kebelakang.
Deg…. Kak Wisnu memelukku. Aku terdiam dan tercengang menerima pelukannya.
“Aku tak yakin bisa melupakanmu. Dan aku juga tak yakin bisa untuk tidak menunggumu,” suaranya terasa berat.
Aku membiarkannya memelukku sejenak. Tidak ada yang aku rasakan. Jantungku baik-baik saja. Tak ada yang istimewa dengan pelukan itu. Hanya pelukan perpisahan antar sahabat yang aku rasakan saat ini.
“Maafin aku ya, Kak,” ujarku perlahan. Aku melepaskan pelukannya berjalan keluar menuju gerbang dan bertemu dengan utusan Om Shoni.
“Kenalkan aku Park Do Yoon,” kata laki-laki yang berusia sekitar hampir limapuluhan sambil membungkukkan punggungnya. Khas seperti warga asli Korea Selatan.
“Saya Ricka,” jawabku seramah mungkin.
Kemudian Paman Park memintaku memasuki mobil dan membawakan koperku.
__ADS_1
Aku menatap semua teman-teman kos, terlebih Risa. Tampak matanya sembab melihat kepergianku. Tak lupa aku melihat Kak Wisnu yang terlihat dari tadi hanya diam. Aku melihat matanya memerah. Bahkan aku sendiri tak kuasa menahan tangis ketika berpisah dengan mereka. Mobil berjalan melaju sangat cepat.