
Pagi yang indah. Walau suasana sangat berbeda ketika aku bangun tidur selama di kos. Aku segera membersihkan diri dan turun ke lantai dasar. Di ruang tengah aku melihat Om Shoni yang sedang menikmati teh hangat ditemani dengan isterinya.
“Annyeong haseo…,” Aku menyapa Tante Nari dan Om Shoni.
(Annyeong haseo\=hai...)
“Ricka, kalau di rumah kau tidak usah berbahasa Korea. Kami semua di sini paham apa yang kau katakan.” Tante Nari menatapku dengan senyuman.
“Iya Tante… tapi sekarang Ricka sedang di Korea untuk beberapa waktu ke depan. Ricka harus terbiasa dengan bahasa sini. Kalau tidak, bisa-bisa Ricka tidak punya teman.” ucapku dan duduk di samping Om Shoni yang hanya melihat dengan tersenyum kepadaku.
“Iya, betul itu. Kau mau tidak mau harus bisa bahasa Korea juga. Biar bisa banyak teman,” Om Shoni menimpali.
“Kalau gitu biar Yoon-Hee saja yang mengajarimu, ya?” Tante Nari menuangkan segelas teh hangat untukku.
“Aku sibuk Eomma,” kata Yoon-Hee yang sudah rapi sembari menuruni anak tangga.
(Eomma\= ibu)
“Yoon-Hee-ya…!” seru Tante Nari.
“Aku beneran sibuk Eomma… di kampus sedang banyak tugas dan ditambah jadwal pemotretan sangat padat. Biar Yoon-Jin aja yang membantunya belajar.”
Yoon-Hee menoleh ke arahku kemudian dengan cepat menoleh ke arah Yoon-Jin yang akan menuruni tangga.
__ADS_1
“Andwee Eomma! Yoon-Jin banyak… ehm… banyak tugas kampus juga…,” suaranya terdengar gugup.
(Andwee\=tidak/jangan)
Aku lagi-lagi berada diposisi sulit. Kenapa seakan semua anak dari Om Shoni ini tidak menyukaiku? Aku terduduk lesu. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang depan.
“Biar aku saja Eomma, yang membantu Ricka,” suara itu lebih dulu terdengar dari pada kemunculan raga si pemiliknya.
“Kak Ji-Sung…,” tatapan kami bertemu.
“Ji-Sung-ah… bukannya kau selalu sibuk di kantor?” tanya Tante Nari sedikit terkejut.
“Tidak apa-apa Eomma, selalu ada waktu di sela-sela pekerjaanku. Asal Ricka mau aku yang menentukan jadwalnya, tak jadi masalah.” Kini ia menatapku dengan senyumnya yang manis membuat jantungku berdetak tak berirama.
(Eonni\=panggilan kakak perempuan oleh adik perempuan)
“Mi-Yun-ah...!” bisik Tante Nari. Walaupun berbisik aku sangat mendengarnya.
“Oke lah, biar Ji-Sung saja. Tidak apa-apa, kan, Ricka?” Om Shoni berdiri dari tempat duduknya.
Aku hanya mengangguk kecil sambil tersenyum lirih. Dalam hati sungguh malunya luar biasa. Malu karena kenapa wajahku memerah ketika tadi Kak Ji-Sung bertanya padaku. Tatapannya yang sehangat mentari membuat jantungku tak berirama seperti biasanya. Aku menatapnya sambil masih tersipu. Wajahnya begitu teduh. Membuatku benar-benar terpesona.
“Andweee…. Oppa… kenapa kau malah menawarkan diri? Bahkan untuk mengajariku saja kau tak pernah mau!” teriak Yoon-Hee sambil melihatku sinis.
__ADS_1
(Oppa\=panggilan untuk kakak laki-laki oleh adik perempuan)
“Yoon-Hee-ya… ada apa denganmu?” Kak Ji-Sung melihatnya dengan tatapan yang sulit aku artikan.
“Sudah… jangan bertengkar pagi-pagi. Bukannya kau ada janji bertemu dosenmu pagi ini?” sahut Yoon-Jin dan menarik Yoon-Hee keluar rumah.
“Yoon-Jin-ah… Yoon-Hee-ya… kalian tidak makan dulu?” teriak Tante Nari dari ruang makan.
“Tidak Eomma… kami makan di kampus saja!” teriak Yoon-Jin.
“Issh… anak itu!” bisik Tante Nari.
“Appa... Eomma… Ji-Sung ke kantor dulu… aku sudah sarapan tadi. Sampai ketemu nanti, ya, Ricka?” Ia menatapku sambil menundukkan kepalanya. Aku pun membalas dengan menundukkan kepalaku juga.
(Appa\=ayah)
“Apa? Nanti katanya? Wah… secepat itukah? Untuk melihatnya saja kok jantungku seperti ini. Padahal kalau orang lain tidak sampai seperti ini!” gumamku sambil memegang dadaku.
“Ada apa, Ricka?” Om Shoni melihatku dengan pandangan khawatir.
“Tidak apa-apa, Om….” Aku menjawab pertanyaan Om Shoni dengan cepat, agar kegugupanku tidak terlihat olehnya.
“Ayo kita sarapan dulu.” Om Shoni bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Aku sangat tidak menikmati sarapan pagi ini. Karena lidahku yang seperti mati rasa. Jadi teringat kata-kata Yoon-Jin semalam. Karena terlalu bernafsu memakan ramyeon yang masih panas, lidahku seperti lecet-lecet.