
Berbeda dengan sosok yang paling dewasa di antaranya yaitu Kak Ji-Sung. Laki-laki dewasa yang berpakaian ala kantoran menyambutku dengan tatapan yang lebih hangat dari udara di Korea. Senyumnya tipis menebar di seluruh bibirnya. Manis sekali.
Ia melihatku dengan tatapan yang seperti telah lama mengenalku. Padahal dapat aku pastikan aku baru pertama mengenalnya. Ia lebih tua dari yang lain, belakangan aku tahu kalau usianya sudah menginjak kepala tiga. Ia terlihat lebih muda dari usianya.
“Ji-Sung-ah, apa kau bisa mengantarkan Ricka pulang kerumah dulu? Sementara kami pergi kerumah Mr. Downyk yang merayakan ulang tahun pernikahannya,” kata Om Shoni kepada sosok yang aku panggil Kak Ji-Sung.
(panggilan -ah adalah panggilan yang biasa digunakan di Korea Selatan terletak di belakang nama. jika belakalng mana huruf vokal bukan -ah tapi -ya)
“Mhian Appa. Aku dan Paman Park ada pertemuan dengan klien yang baru saja tiba dari Jepang. Emm... apakah Yoon-Jin tidak langsung pulang? Bagaimana kalau kau pulang bersama Ricka?” kata Kak Ji-Sung sambil melempar pandangan ke Yoon-Jin.
(Mhian\=maaf)
Terlihat aneh mereka berdua. Seperti bukan tatapan seorang kakak ke adiknya.
__ADS_1
Yoon-Jin yang dari tadi memainkan ponselnya terkejut mendengar namanya disebut. “Yaa…! Kenapa kau mengalihkan tanggung jawabmu kepadaku?” tanyanya seakan tidak terima.
“Karena aku rasa kau yang bisa menemani Ricka malam ini!” nada suara Kak Ji-Sung membuatku bingung menafsirkannya.
Aku berada di posisi sulit. “Baru awal saja sudah merepotkan begini,” bisikku dalam hati.
“Om... Tidak apa-apa. Aku ikut Om dan Tante saja.” Aku berjalan mendekati Om.
“Jangan Ricka, kau pasti kecapekkan kalau ikut kami.” Om Shoni menatap kedua pria yang tadi sama-sama menolak mengantarkanku.
“Oke… Rickka-ya... Tharrawa!” terdengar suara laki-laki yang bernama Yoon-Jin sambil berjalan melewati keluarganya yang lain.
(Tharrawa\= ikuti aku)
__ADS_1
Aku berjalan di belakangnya. Pria di depanku ini bahkan dari belakang kharisma yang ia miliki begitu kuat. Berbeda dengan pria-pria yang aku kenal di Indonesia.
Ah… aku seperti pernah melihatnya. Iya, aku baru mengingatnya. Yoon-Jin wajahnya sebelas dua belas dengan salah satu aktor drama Korea. Iyaa… mirip sekali! Aku pun ceriwis di dalam hati. Sampai-sampai aku tidak melihat kalau ia berhenti di depanku dan tak sengaja aku menabraknya dari belakang.
“Aw…!” teriakku sambil mengelus dahiku. “Haisssh... mhian Yoon-Jin,” kataku perlahan sambil membenarkan poniku yang rusak karena menabrak punggungnya.
(Mhian\=maaf)
Dia hanya diam, dengan isyarat matanya ia menyuruhku masuk ke dalam mobil berwarna putih. Mobil berjalan menuju jalanan yang semua asing bagiku. Jalan yang begitu terang dan sangat rapi. Kanan dan kirinya terdapat tulisan-tulisan yang membuat mataku keriting. Huruf-huruf hangeul yang sama sekali aku tak bisa membacanya.
“Aku pasti terlihat bodoh sendiri di sini,” gerutu perlahan.
Mobil masih melaju kencang. Entah seberapa lama nanti akan sampai di rumah Om Shoni. Udara di luar sangat dingin. Untung tadi Kak Wisnu memberikan jaketnya yang tebal untukku. Aku menggenggam lengan jaket mengingat beberapa jam lalu aku masih di Indonesia dan berkumpul dengan orang-orang yang mengenalku. Sedangkan sekarang, aku hanya mengenal Om Shoni saja. Yang lain belum begitu akrab. Apalagi serumah dengan Yoon-Jin, pria dingin melebihi suhu terdingin di Korea.
__ADS_1
Ia masih menggunakan headsetnya sambil sesekali mengetukkan jari-jarinya di lingkaran kemudi. Suasana di antara aku dan Yoon-Jin sangat Kaku. Tapi mungkin tidak dengannya, karena ia terlihat sangat enjoy mendengarkan musik dari ponselnya. Sedangkan aku? Aku hanya bersandar di pinggir kaca jendela. Tak ada yang bisa aku nikmati. Karena baru beberapa menit aku di Korea aku sudah merindukan Indonesiaku.