
Konser musik telah usai ketika MC mengucapkan selamat tinggal. Aku hendak menemui semua personil Dreams dan mengucapkan selamat untuk mereka. Namun aku urungkan ketika mereka telah disibukkan dengan banyak fans yang sekedar meminta foto dan tanda tangan.
“Wah… sepertinya perasaan ini akan semakin sia-sia,” gumamku lirih dan pergi dari tempat itu.
Aku melihat Yoon-Jin yang begitu banyak dikelilingi fans yang didominasi berjenis kelamin perempuan.
“Aku harus sadar diri, ini adalah mimpinya. Dan aku tidak boleh sakit hati apa lagi cemburu,” bisikku lagi.
Aku berjalan di jalan setapak dengan sinar lampu di kanan kirinya dan puluhan bunga cherry yang berjajar rapi.
“Ah… kenapa bunga itu begitu cantik di saat hatiku yang sedang sedih begini?” gumamku diiringi senyum miris.
Aku berjalan sendirian sambil menikmati dinginnya musim semi. Mungkin ini adalah keputusan yang paling aku sesali karena menolak ajakan Tante Nari untuk makan malam bersama kolega Om Shoni. Sudah pasti Mi-Yun bersamanya sekarang. Kalau Yoon-Hee aku yakin malam ini ia menghabiskan waktu bersama dengan Kak Ji-Sung. Karena ia sempat minta ijin akan pulang terlambat. Sedangkan aku? Sepertinya aku akan menangis di atas kebahagiaan mereka. Sekelebat bayangan Yoon-Jin kembali terngiang di otakku. Betapa sibuknya ia bersama dengan fans-fans barunya itu. Ah… itu sedikit membuatku jengah.
“Ah… mengapa jalan ini terasa sangat panjang dari saat berangkat tadi…,” aku menggerutu dalam hati.
“Yaa… apa kau melamun sambil berjalan?” Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakangku. Seketika aku menoleh ke belakang betapa terkejutnya aku ternyata itu adalah Yoon-Jin.
“Yoon-Jin-ah, kau di sini?” tanyaku. Aku sedikit menyembunyikan ekspresi bahagia ketika melihatnya.
“Apa kau tidak sadar berjalan ke arah mana, ha? Harusnya kau belok kanan ketika sampai di pertigaan tadi. Kenapa kau ambil jalan lurus?”
“Aaah… jadi aku tersesat rupanya…,” kataku lirih.
“Dan kau baru mengetahuinya?” Ia berjalan mendekatiku.
“Mianheo…,” jawabku lirih.
Entah kenapa sejak sosok itu mendekatiku hawa dingin berubah menjadi sedikit hangat dari sebelumnya. Angin yang berhembus seakan lebih menenangkan. Seketika bunga cherry yang tadinya seperti tenang mendadak menjatuhkan kelopak-kelopaknya bagaikan salju yang turun di musim semi.
“Mwo-ya…? Aaah… mengingatkanku pada sesuatu,” bisikku.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Yoon-Jin mendekatkan wajahnya ke arahku. Sontak aku kaget dan menjauh darinya.
“Aaah… hanya sebuah drama fantasi yang aku tonton dulu. Bunga cherry bermekaran secara tidak wajar di musim-musim yang seharusnya bunga itu tidak bermekaran. Bahkan kelopak-kelopaknya dengan indah jatuh diterpa angin. Kau tahu apa artinya itu?” Aku melihatnya yang sekarang berdiri tepat di dekatku.
“Apa?” tanyanya sambil melangkahkan Kaki.
“Sang Goblin telah jatuh cinta….” Aku melihatnya menghentikan langkah kakinya.
“Wae… kenapa kau menghentikan langkahmu? Aaah… kau itu bukan Goblin yang sedang jatuh cinta, kan?” Aku menatapnya aneh.
“Yaaa… mana ada cerita seperti itu. Bunga cherry selalu bermekaran di musim semi. Dan kau sepertinya overdosis dalam menonton drama!” Ia membalas tatapanku. Lagi-lagi aku yang kalah.
“Yaa…! Kenapa kau justru jalan terus? Katamu seharusnya kita tidak mengambil jalan ini, bukan?” Ia masih melanjutkan langkah kakinya.
“Tharawwa… kau akan terkejut jika melihatnya!” Aku mengikuti langkahnya dari belakang.
Tak lama kemudian kami tiba di sebuah tanah lapang yang sangat luas. Dan pemandangan yang tak kalah membuatku takjub.
“Mengapa banyak sekali cahaya berterbangan di sana-sini?,” gumamku kagum.
“Jinjja? Benarkah keinginanku akan terkabul saat aku berhasil menangkap seekor kunang-kunang. Sungguh sulit dipercaya…,” gumamku.
“Coba saja…,” suaranya terdengar menantangku.
Aku pun mulai berlarian menangkap kunang-kunang yang jumlahnya sangat banyak itu. Seperti seekor anak ayam yang mencari induknya berlarian kesana-kemari. Aku melihat Yoon-Jin juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Namun sepertinya sia-sia usaha kami untuk menangkap kunang-kunang itu. Bahkan seekor pun tidak ada yang berhasil kami tangkap.
“Yaaa! Mana mungkin kau bisa menangkap kunang-kunang kalau kau mengejarnya seperti itu?” suara Yoon-Jin terdengar terengah-engah.
“Lalu bagaimana caranya agar aku mendapatkannya? Bahkan kau saja tidak berhasil menangkap seekor pun!” suaraku tak kalah terengah-engahnya.
Kami duduk di atas rerumputan sambil memandangi kunang-kunang yang berterbangan di sekitar kami seakan memancing kami untuk berlari kembali menangkapnya. Aku hendak berdiri dan berlari menangkap mereka namun tangan Yoon-Jin memegang lenganku.
__ADS_1
“Jangan… kau akan capek nantinya menangkap mereka….” Pandangan kami menyatu.
“Wae..? Bukannya jika aku menangkap mereka permohonanku akan terkabul? Aku sangat ingin mendapatkan mereka.”
“Andwe… bahkan jika kau menangkap satu dari ribuan dari mereka itu tidak akan berhasil. Biarkan mereka terbang sesuka hati untuk merayakan musim semi ini.” Ia tersenyum ringan menatap kunang-kunang yang berterbangan kesana-kemari.
“Bukannya kau juga menginginkan kunang-kunang itu? Itu artinya kau juga mempunyai suatu keinginan, bukan?” Aku kembali duduk di dekatnya.
Ia terdiam beberapa detik kemudian menjawab, “Anniya… aku menangkapnya untuk memberikannya kepadamu.” Jawabannya sungguh membuat hatiku beku.
“Aa… Jinjja?” Aku menatapnya penuh tanda tanya. Kemudian melanjutkan kalimatku, “Justru jika aku berhasil menangkap banyak kunang-kunang itu, aku akan memberikanmu satu di antaranya.” Pandangan kami menyatu. Apa maksud pandangan yang begitu dalam itu? Seakan sebelumnya aku sangat mengenal pandangan itu. Ah… walaupun suasana yang redup hanya diterangi lampu jalan, kenapa wajah Yoon-Jin masih tetap memesona? Jantungku serasa berdetak seirama namun lebih cepat dari biasanya. Sungguh mengganggu.
“Lalu… apa yang sangat kau inginkan hingga kau begitu semangat mengejar kunang-kunang itu?” Kini tampak napasnya sudah kembali normal.
“Anniya… bukan apa-apa,” jawabku.
Sebenarnya aku ingin menjawab, “Aku ingin menghapus perasaan ini terhadapmu. Aku sungguh sakit merasakan perasaan yang tidak jelas ini. Apa pun perasaan yang aku miliki untukmu, enyahlah! Aku ingin kau meraih mimpimu dan aku kembali menjalani kehidupan normalku. Aku tak ingin tergila-gila kepadamu bersama perasaan aneh ini.”
Namun aku tak kuasa mengatakannya, aku hanya menatapnya sejenak ku harap ia tidak akan tahu perasaan macam apa ini yang aku rasakan.
“Ayo pulang… suasana semakin dingin di sini!” Ia kemudian berdiri dan berjalan ke jalan awal yang kami lalui tadi. Ia berjalan dengan gagahnya. Menggunakan kaos abu-abu dan jaket kulit hitam. Kedua tangannya masuk kedalam saku jaketnya.
Aku mengikutinya dari belakang. Punggung yang lebar itu, kenapa semakin aku melihatnya semakin aku ingin memeluknya, lengan itu kenapa semakin aku mendekatinya, semakin aku ingin meraihnya. Seakan aku sangat merindukannya, saking rindunya hingga membuat aku sulit bernapas. Akhirnya aku berjalan lebih cepat darinya dan mendahuluinya.
“Ya…Wae-gereo? Kenapa jalanmu cepat sekali?” Ia mempercepat langkahnya di belakangku.
Aku terdiam, lebih tepatnya menjawab dalam hati, “Aku tidak ingin melihatmu, karena semakin aku melihatmu, semakin aku ingin memilikimu. Dan perasaan ini sulit aku tahan.”
“Oh ya…mengenai perjodohan itu….” Ia memulai percakapan dengan kalimat aneh.
“Andweee… jangan diteruskan…!” Aku memotong pembicaraannya.
__ADS_1
“Wae… aku hanya….”
“Stooop… andwee… andwee…! Aku tidak ingin mendengarkannya sekarang….” Aku berlari ke depan sambil menepuk kedua telingaku agar tidak mendengarkan perkataan Yoon-Jin. Entah apa yang hendak dikatakannya. Aku sungguh tidak ingin membahasnya. Aku takut, ia benar-benar menolak perjodohan ini atau justru menerimanya. Bahkan aku tidak tahu bagaimana perasaanku ketika ia menolak maupun menerima perjodohan ini. Harus bersedih atau berbahagia aku belum memutuskan hal itu. Ah… lebih baik untuk tidak membahasnya dari pada aku mendengar jawaban yang membuatku terperosok dengan ribuan perasaan yang menyiksaku.