
Seminggu sejak kejadian di Pulau Jeju, aku yakin baru merasakan indahnya hidup saat detik-detik belakangan ini. Entah darimana sejarahnya mengapa langkah kaki laki-laki itu terasa lebih merdu dari deburan ombak di pantai, tatapan mata namja itu lebih indah dari pada pelangi di langit Seoul, sentuhan hangat telapak tangannya melebihi hangatnya mentari musim semi di Negeri Gingseng ini.
Aku tahu, semua orang di rumah ini menyadari kedekatan kami. Bahkan Om Shoni kemarin sempat membahas kembali mengenai perjodohan antara aku dan Yoon-Jin. Tapi aku menolaknya, Yoon-Jin baru merintis karirnya di bidang entertainer, bagaimana reaksi fans-fans nya mendengar perjodohan antara aku dengan Yoon-Jin nantinya?
Belakangan ini pertemuan kami sangat singkat, Yoon-Jin dan seluruh personil Dreams sedang disibukkan rekaman dan pembuatan album. Siapa sangka sekarang Yoon-Jin sungguh menjadi artis terkenal. Aku melihatnya beberapa kali menjadi tamu undangan di acara televisi ternama.
Aku tidak mengharap lebih, jika perasaan ini nantinya akan membawaku dan Yoon-Jin selamanya atau bahkan akan berakhir mengenaskan. Aku tidak terlau ambil pusing, aku sudah lama ingin menikmati detik-detik bahagia ini kenapa harus dirisaukan dengan perasaan yang tidak jelas?
Senja telah datang, aku melihat mobil Yoon-Jin memasuki garasi. Aku melihatnya dari jendela kamarku. Ternyata ia juga melihatnya dan melempar senyum termanis yang pernah aku lihat selama ini. Ia melambaikan tangan kanannya ke arahku kemudian memintaku turun. Dengan segera aku keluar kamar dan turun ke lantai bawah untuk menemuinya. Secara reflek aku mendekatinya kemudian kembali memeluknya.
“Kau sudah pulang?” bisikku pelan aku tidak mengharapkan ia mendengar suaraku.
“Ne… mianheo karena meninggalkanmu terlalu lama…” suara yang sangat aku rindukan.
“Anniya… cukup melihatmu sekilas itu sudah membuatku bahagia.” Aku mempererat pelukanku.
“Kau ada waktu? Bagaimana kita jalan-jalan? Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”
“Aku ingin ke tempat yang tenang dimana hanya ada aku dan kau saja.” jawabku.
__ADS_1
“Kajja…”
“Aaa… aku ganti baju dulu. Ambil tas dulu…” aku melepas pelukannya dan hendak kembali ke kamar.
“Anniya… seperti ini sudah lebih dari cukup…!” Ia menariku masuk ke dalam mobilnya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, rasanya aku berada dalam mobil paling indah selama hidupku. Seakan semua sudut mobil ini penuh dengan taman bunga yang ada di musim semi.
“Kita mau kemana?” Aku menoleh ke arahnya yang sedang fokus memperhatikan jalan di depannya.
“Ke tempat yang hanya ada kita berdua…seperti katamu tadi?” jawabnya sambil melirik nakal ke arahku.
“Yaaa… maksudku bukan itu! Ah… awas kalau otak mesummu itu kumat di saat-saat seperti ini!” Aku menutup kedua wajahku karena malu.
“Kau pernah kesini, kan?” Yoon-Jin menatapku teduh.
“Ne… aku sering kesini bersama Kak Ji-Sung”
“Arra-yo… aku sering mengikutimu sampai sini.”
__ADS_1
“Mwo-ya? Mengikutiku?” tanyaku sambil keluar dari mobil. Kami sekarang berada tepat di tepian Sungai Han.
“Ne… aku melihatmu dari jauh ketika kau kesini bersama dengan hyung.” Ia menatap jauh ke depan. Kemudian kembali berkata, “Kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Aku sungguh-sungguh ingin menarikmu ke arahku, ireoke…” ia menarikku dalam pelukannya.
“Mengapa tidak kau lakukan?” Air mataku entah sejak kapan menetes ringan melewati pipiku. Aku sedikit lebih cengeng semenjak mengenal Yoon-Jin lebih dekat.
“Aku takut…,” Ia berhenti sejenak, kemudian kembali berkata, “aku takut kau kecewa ketika melihatku, aku takut kau keberatan menerimaku, aku takut ketika perasaan ini semakin menggila dalam dadaku namun akan berakhir dengan sakit yang mendalam. Aku sempat takut bahwa mitos mengenai cinta pertama akan berakhir mengenaskan seperti perasaanku terhadapmu. Karena kaulah cinta pertamaku, dan aku berharap kau jugalah yang terakhir.”
Aku melepas pelukannya. Merasakan angin musim semi menampar tubuhku dengan mesra. Aku memejamkan mataku, dan menarik napas panjang menikmati setiap butir-butir oksigen yang masuk ke dalam paru-paruku.
“Jinjaa? Aah… kau benar-benar membuatku melayang sekarang. Tahukah Yoon-Jin-ah... aku saat ini merasa berada dalam momen paling bahagia dalam hidupku. Aku belum merasakan perasaan seperti ini selama di kehidupanku yang hampir 23 tahun ini. Apakah ini yang namanya cinta? Ah… kenapa aku bisa mengatakannya dengan semudah ini? Benarkah ketika kita benar-benar merasakan cinta kalimat percintaan itu sangat mudah untuk di katakan…?” pandanganku tertuju pada aliran tenang Sungai Han yang tampak semakin menjingga karena terpaan langit yang hampir gelap.
“Mungkin. Dan kau akan terkejut jika mengetahui bagaimana tersiksanya perasaanku selama ini. Mungkin aku adalah laki-laki pengecut yang takut mengakui perasaanku kepadamu. Sarangahaeo Ricka-ya… Chongmal Saranghaeo… perkataan singkat itu mungkin belum cukup menampung semua perasaanku terhadapmu.
Dari awal perjumpaan kita, aku tak henti-hentinya ingin selalu berada di dekatmu. Aku sungguh ingin bunuh diri rasanya ketika melihat kedekatanmu dengan hyung. Aku tahu, itu semua karena keegoisanku, kau ingat saat aku pulang dengan kondisi yang mengenaskan?” Ia menatap ke arahku.
“Ne… saat kau pulang dalam keadaan basah kuyup dan kau demam, iya, kan?” jawabku sambil tersenyum mengingat masa lalu.
Ia membalas senyumanku. “Aku tak bermaksud untuk menolak perjodohan itu, aku hanya ingin memastikan bagaimana perasanku terhadapmu dan juga sebaliknya. Aku sempat frustasi dan ingin menyerah mengenai perasaan aneh yang aku alami selama ini, namun aku tak bisa. Kau tahu, setiap malam aku selalu berada di luar pintu kamarmu, ingin rasanya mengetuk pintunya dan mengatakan… ‘bogosi-pho’, tapi langkah kaki ini enggan untuk melakukannya.
__ADS_1
Aku selalu mengikutimu kemana kau dan hyung melangkah, hingga ada tempat yang tidak bisa aku jamah saat itu…” Ia berhenti sejenak.
Beberapa detik kemudian ia kembali berkata, “Saat salju pertama turun, aku sempat mendengar Yoon-Hee ingin mengajakmu ke suatu tempat.