CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 21 (Bukan Andra?)


__ADS_3

Tak terasa kami belajar selama dua jam. Banyak yang aku pelajari dan beberapa kosa kata yang sebagian sudah aku hafal sebelumnya. Hal itu tak lepas dari hobiku menonton drama Korea selama ini.


Waktu makan malam pun tiba, kami berkumpul di meja makan yang berbentuk persegi panjang. Aku berada di dekat kak Ji-Sung yang kini telah berpenampilan lebih santai dari sebelumnya. Di depan posisi dudukku adalah Yoon-Jin dan di sampingnya adalah Yoon-Hee. Sampai sekarang aku masih mendapati mereka menatapku dengan pandangan yang sama-sama sulit membuatku mengerti.


“Ji-Sung-ah, apa sebaiknya kau menginap di sini saja malam ini?” Om Shoni memulai percakapan. Seluruh penghuni meja makan menatap lelaki paruh baya itu.


“Anni Appa… aku harus pulang. Karena masih banyak berkas yang harus aku pelajari malam ini untuk survey lokasi besok.” Kak Ji-Sung masih kembali mengunyah makanannya.


(Anni\=tidak)


Om Shoni hanya menjawab dengan anggukan. Aku menatap Kak Ji-Sung dengan pandangan aneh. Ingin sekali aku menanyakannya. ‘Bukannya kau menginap di sini? Kau mau pulang kemana?’ tapi bibirku hanya diam dan mengunyah makanan yang masuk ke dalamnya. Hanya mataku yang seakan bertanya seperti itu.


Sepertinya Kak Ji-Sung sadar bahwa aku sedang melihatnya. Sehingga ia berhenti makan dan berkata padaku.


“Apa yang ingin kau tanyakan, tanyakan besok saja!” Ia mengusap poniku perlahan. Aku sedikit terkejut karena Kak Ji-Sung seakan sudah mengetahui apa yang akan aku tanyakan.


Malam semakin larut. Setelah Kak Ji-Sung berpamitan, aku ingin segera merebahkan diri ke tempat tidur. Walaupun seharian ini aku tidak melakukan kegiatan yang berat, tapi pengaruh perubahan cuaca yang ekstrim ini sedikit membuat tubuhku dipaksakan untuk menyesuaikan diri.

__ADS_1


Aku menaiki tangga dan menuju kamarku. Dari kejauhan aku melihat Yoon-Jin berdiri di depan pintu kamarku.


“Ngapain dia mematung di depan kamarku?” gumamku dalam hati sambil mengernyitkan dahi.


“Kenapa kau berdiri di sini?” Aku menatapnya lekat-lekat.


“Tidak. Aku hanya….” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.


“Hanya apa?”


Aku terdiam mendengarkan pertanyaan konyolnya itu. Lidahku? Memangnya kenapa? Aah… mungkinkah ia khawatir karena kemarin makan ramyeon dalam keadan masih panas?


“Oh… tentu saja. Aku makan dengan lahap hari ini...,” jawabku sekenanya.


“Baiklah, sepertinya kau tadi makan kimchi terlalu banyak. Ini... minum sebelum tidur agar tidak sakit perut keesokan harinya.” Ia memberiku sebotol obat.


(kimchi\=acar lobak makanan khas Korea Selatan)

__ADS_1


“Aku baik-baik saja Yoon-Jin-ah, aku sudah terbiasa makan kimchi. Asal kau tahu, dulu di Jakarta aku sering makan di restoran Korea. Jadi tidak begitu kaget dengan makanan yang namanya kimchi.” Aku mengembalikan botol berisi obat itu kepadanya.


“Tapi kau belum pernah merasakan kimchi buatan eommaku, kan? Bukannya itu sedikit lebih hot?” Ia menaikkan salah satu alisnya.


“Ne, kebetulan aku juga suka makanan yang hot,” jawabku sambil tertawa renyah.


Yoon-Jin kembali menatapku dengan pandangan aneh dan berlalu begitu saja. Aku merebahkan diri di atas tempat tidur dan menghempaskan seluruh udara dalam paru-paruku. Berharap semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini akan kembali normal.


Aku sangat merindukan ayah dan bunda. Sedang apa mereka? Bagaimana keadaannya? Apakah sama sekali mereka tidak mengkhawatirkan aku yang seorang diri di negara asing ini?


Ingin teriak rasanya. Air mataku kembali banjir. Mengenang masa lalu bersama ayah, bunda, Kayla, dan semua kenangan di Jakarta. Seketika sekelebat mimpi yang pernah aku alami sehari sebelum ke Korea muncul. Dimana ketika aku bertemu dengan ayah, bunda, Kayla, dan Andra yang tiba-tiba berubah dengan sosok yang belum pernah aku temui sebelumnya.


Ah ya... Andra kenapa tiba-tiba ia hilang dari pikiranku? Kenapa bahkan untuk sekarang aku sangat sulit membayangkan wajahnya? Aku memejamkan mataku, mencoba meminta otakku untuk menayangkan sosok Andra yang selama ini –lebih tepatnya dulu sangat mudah aku bayangkan– tapi untuk saat ini kenapa tiba-tiba menjadi suatu hal yang sulit?


Aku berusaha mengorek masa laluku ketika saat SMP dan SMA. Aku menatap sesosok yang paling lembut dari semua sosok yang ada di sana. Tapi, kenapa tidak muncul? Kenapa hanya sosok yang berwajah buram saja di sana? Aku mendekati bayangan itu.


Semakin dekat. Aku rasa ia menatapku sempurna. Tapi kenapa dengan perasaan ini? Aku berusaha sekuat tenaga membelalakkan kedua mataku, tetap tidak bisa menembus keburaman itu. Apa ia bukan Andra? Lalu Siapa? Perlahan mendekat, tapi sosok itu seakan berjalan mundur dan menjauh dariku, tak lelah aku pun mempercepat langkahku untuk mendekatinya guna mendapatkan jawaban pasti, tapi hasilnya nihil, ia mundur lebih cepat dari langkah kakiku. Dan…

__ADS_1


__ADS_2