CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 47 (Pangeran Narsis Vs Putri Malu)


__ADS_3

Kami berjalan beriringan, aku berada tidak jauh di depannya. Bayangan kami yang tercetak di jalanan seakan barisan takdir yang sulit kami gambarkan. Aku menghentikan langkahku, dan menoleh kebelakang. Sosok yang aku lihat tampak kaget karena aku secara tiba-tiba menghentikan langkahku.


“Wae…?” tanyanya.


“Emm… aku jadi penasaran. Apa kau mengikutiku sejak tadi? Jarak antara aku salah jalan cukup jauh…,” Ia berjalan menyetarakan barisan dengan tempatku berdiri.


“Ne… tadi aku sempat melihatmu mencariku ke ruang istirahat.”


Kami memelankan langkah kaki. Aku tak mau melihatnya, hanya melihat lurus ke depan.


“Woaah… aku tidak mencarimu kok!”


“Jinjja? Bahkan semua orang di sana tadi tahu kalau kau sedang mencariku.”


“Isssh… dasar pangeran narsis!”


“Yaa… apa kau bilang pangeran narsis? Dasar kau putri malu!”


“Yaaa! Apa kau bilang? Putri malu?” Aku membelalakkan mataku.


“Wae..? Kau berani?” Ia juga membelalakkan matanya.


“Aisssh…” dengusku dan mempercepat langkahku.


Entah jam berapa kami sampai di villa. Yang jelas karena mungkin terlalu penat aku langsung terlelap di atas tempat tidur. Dalam lelapku aku melihat seberkas cahaya menuntunku ke sebuah mimpi yang selama ini menghiasi tidurku.


Ah… betapa nyamannya ketika aku berada di sini. Seakan aku adalah putri yang tengah tertidur ribuan tahun lamanya bersama dengan pangeran mimpiku.


“Eonni… irona… Eonni… irona…” suara itu menghapus semua mimpi yang tengah aku nikmati.


(irona: bangun)


“Mi-Yun-ah…wae-gereo?” Aku mengucek mata dengan malas. Rasanya aku hanya tertidur tak lebih dari tiga jam. Mataku masih sangat ingin terpejam.


“Kita mau jalan-jalan ke kebun… Eonni mau ikut?” Mi-Yun masih mengguncang-guncangkan tubuhku.

__ADS_1


“Aku ngantuk…,” jawabku.


“Eonni… kau masih punya banyak waktu untuk tidur setelah pulang ke Seoul. Tapi untuk jalan-jalan di pulau ini, kau hanya punya waktu pagi ini. Karena appa sudah memesan tiket kepulangan kita siang nanti. Okeee… jangan menyesal ya…,” suara itu seperti segelas air yang mengguyur kepalaku.


“Mwo..? Siang ini kita pulang? Aaah… bukannya terlalu cepat…? Aku ingin di sini beberapa hari lagiii….” Bisikku sambil merenggangkan otot-otot tubuhku.


“Appa dan eomma ada acara mendadak sehingga tidak bisa berlama-lama di sini. Yoon-Hee Eonni nanti malam juga ada jadwal pemotretan dan aku juga tidak bisa kalau ijin terus sebentar lagi mau ujian. Eonni mau di sini sendirian?” gumam Mi-Yun sambil membenarkan tali sepatunya.


“Anniya... Geureo… geureo… aku akan siap dalam lima menit. Tunggu aku di bawah ya....” Aku langsung meloncat dari tempat tidur.


“Okkey...” jawabnya. Aku menuju ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan membersihkan muka.


Tampaknya yang lain sudah pergi dari tadi. Tinggal aku dan Mi-Yun yang berjalan Kaki menyusuri pohon-pohon yang menjulang sangat tinggi. Rerumputan yang baunya terasa basah dan kicauan burung yang seakan bernyanyi riang lengkap menghiasi pagi yang indah di musim semi ini.


“Eonni… kau mencari Yoon-Jin Oppa atau Ji-Sung Oppa?” pertanyaan Mi-Yun sungguh tidak terduga.


“Ah… anniya… aku sedang tidak mencari siapa-siapa,” jawabku gugup. Mungkin ketahuan karena mataku sedang melirik ke segala arah seperti mencari sesuatu.


“Tapi... Eonni terlihat seperti mencari seseorang…,” Mi-Yun belum melanjutkan kalimatnya kemudia berteriak, “Oppaaaaaa…”


“Mengapa cahaya pagi ini membuat wajahnya begitu berseri?” tanyaku dalam hati.


Mungkinkah aku selalu jatuh cinta ketika melihatnya? Isssh… sungguh memalukan.


Aku memberi salam kepada Kak Ji-Sung, Yoon-Hee dan Yoon-Jin. Tatapan kami beradu,


ah rasanya apakah semalam ketika aku dengannya melihat kunang-kunang itu hanya sekedar mimpi? Kenapa ketika pagi hari tatapannya itu seperti tatapan dingin saja? Kenapa tatapannya itu seakan berubah-ubah dan tidak menentu?


Kami berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang hanya muat untuk satu orang saja. Tempat apa ini aku juga belum tahu, yang jelas semacam kebun yang begitu subur dengan penuh bunga-bunga kecil. Aku jalan paling belakang, dan tepat di hadapanku adalah punggung Yoon-Jin.


Ah… biarlah sekali-kali aku merasa lebih serakah. Mungkin dengan hanya melihat punggungnya, rasa akan kehausan untuk selalu melihatnya sedikit terobati.


Aku masih mendengar kelakaran Yoon-Hee dan Mi-Yun mengenai penampilan saudaranya semalam yaitu Yoon-Jin dan kawan-kawan Dreams.


“Oppa… aku akan menjadi Dreamer sejatimu!” kata Mi-Yun di sertai tawanya yang ringan.

__ADS_1


“Dreamer? Jadi para fans Dreams di sebut Dreamer? Keren juga…” timpal Kak Ji-Sung kemudian melanjutkan perkatannya,


“Yoon-Jin-ah, Akhirnya kau bisa membuat appa dan eomma bangga, semalam aku mendengar appa banyak sekali mendapat pujian mengenai konser musik yang sukses menarik banyak penonton. Sepertinya sebentar lagi kau akan kedatangan kontrak bejibun!”


“Bukan hanya itu, semalam heboh penampilan Dreams di Youtube! Dalam semalam meraih lebih dari ribuan penonton dan likers….” Yoon-Hee sedikit histeris.


“Woaaaah… daebaaak… chukaeo Oppa…,” Mi-Yun merajuk.


Aku hanya senyum ringan mendengar percakapan mereka. Aku tak berani berkata-kata. Aku hanya menyampaikan kekagumanku dalam diam.


Ah… semoga dia tahu betapa terpesonanya aku semalam melihat penampilannya. Terutama saat penampilan terakhir menutup aksi panggungnya, itu sungguh-sungguh mengesankan.


Aku menangkap gelagatnya yang sekali-kali menoleh ke belakang ke arahku.


“Mwo-ya? Kenapa kau terus menoleh kebalakang Yoon-Jin-ah?” aku memberanikan diri bertanya kemudian disambut dengan sindiran Mi-Yun yang membuat aku malu.


“Aaah… dari tadi Ricka Eonni selalu diam, mungkin Yoon-Jin Oppa ingin mendengarkan kalimat kekaguman yang keluar dari bibir Eonni…,” perkataan Mi-Yun bagaikan peluru di siang bolong.


“Aaah… chukaeo Yoon-Jin-ah….” aku terbata-bata disusul dengan gelak tawa Kak Ji-Sung, Yoon-Hee, dan Mi-Yun.


Untung mereka sekarang ada di depanku sehingga mereka tidak akan melihat wajahku berubah merah seperti batu bata. Aku hanya melihat Yoon-Jin tersenyum ringan ke arahku.


“Isssh… apakah benar kata Mi-Yun? Kenapa sama sekali ia tidak marah? Menjengkelkan…,” gerutuku.


Saat aku menggerutu dalam hati betapa terkejutnya aku ketika Yoon-Jin hampir menginjak seekor ular yang sedang menggeliat di dekat kakinya. Tanpa pikir panjang aku berlari kecil dan mendorongnya sekuat tenaga karena aku melihat ular itu bersiap-siap mematuk kaki Yoon-Jin.


Tapi mungkin keberuntungan tidak memihakku. Justru ular itu sekarang telah berhasil mematuk kaki kananku. Rasanya seperti disuntik dengan suntikan yang mematikan. Seketika aku rubuh tepat di punggung Yoon-Jin.


“Ricka-ya… wae-gereo? Mwo-ya? Apa yang terjadi? Kau kenapa?” samar-samar aku mendengar suara Yoon-Jin dekat dengan telingaku.


“Oppa…! Lihat itu… Kaki Ricka Eonni tergigit ular…” seru Mi-Yun. Aku melihatnya sudah berkaca-kaca.


“Aku tidak apa-apa, tenanglah kalian!” kataku. Aku sadar ular yang mematuk kakiku tadi sangat berbisa, beberapa menit kemudian badanku melemas, dan pandanganku menjadi buram.


“Ricka-ya…! Kau bisa mendengarku…? Ricka-ya… kau tidak boleh pingsan di sini...!” aku mendengar suara Yoon-Hee yang panik.

__ADS_1


Entahlah kenapa suara orang-orang yang tadinya begitu ceria seketika menjadi suara yang sangat ramai. Aku melihat langit biru di atasku. Kenapa begitu indahnya. Telingaku seperti berdengung dengan sangat keras.


__ADS_2