
Selesai menikmati ramyeon dan menghabiskan air mineral kita kembali ke rumah sakit.
Terlihat dokter bercakap-cakap dengan Yoon-Jin. Aku hanya paham sedikit mengenai percakapan mereka. Intinya Kayla melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat.
“Jinjja? Laki-laki? Woaaah… benar-benar pangeran kecil pewaris perusahaan!” Aku mengatupkan kedua telapak tanganku.
(Jinjja?: sungguh?)
“Kenapa setiap perempuan selalu mengidam-idamkan pewaris kekayaan, ha? Apa tidak ada tujuan hidup selain menjadi kaya raya?” Ia menaikkan sebelah alisnya.
“Tentu saja, tak bisa dipungkiri setiap wanita itu lebih mementingkan masa depan bersama anak-anaknya untuk bisa hidup layak!” sahutku.
“Termasuk kamu?” Ia menatapku dalam-dalam. Aku sedikit gugup dibuatnya.
“Ne… pasti itu! Sebagai contoh, Kak Ji-Sung tak hanya rupawan dan baik hati, tapi ia juga menguasai beberapa saham di perusahaan besar dan pabrik-pabrik yang dikelola ayahmu. Hebat bukan? Siapa pun yang akan menjadi isterinya pasti mempunyai masa depan cerah!” Mataku berbinar-binar.
“Pabrik itu… awalnya appa yang memberiku tanggung jawab untuk mengelolanya. Tapi karena malas aku biarkan saja hyung mengambil alih,” ujarnya.
“Neo baboo-ya? Apa kau tidak berfikir masa depanmu? Kau hanya berhura-hura sana-sini. Main musik sampai larut. Bahkan sampai saat ini tak ada yang bisa appa-mu banggakan dari mu!” sindirku.
“Yaa…! Kau bilang Aku bodoh?” ia tersentak.
Aku hanya diam. Terlihat sorot matanya berubah menjadi amarah.
__ADS_1
“Ishh… laki-laki ini mudah sekali marah…,” bisikku.
“Neo… lihat saja! Aku akan berhasil dengan caraku sendiri!”
(Neo: Kau)
“Kalau gitu buktikanlah….” Aku menatap matanya.
Ia memberiku beberapa lembar uang dan kartu elektronik yang biasa digunakan untuk naik bus.
“Kalau kau melihat pertigaan besar dekat rumah, pencet saja tombol yang di dalam bus. Aku yakin, dari jalan itu kau akan tahu jalan pulang,” katanya kemudian Ia pergi meninggalkanku sendiri.
Aku hanya melihat punggungnya yang semakin jauh. Sekelebat bayangan dalam mimpiku berlalu dalam pandanganku. Aku seperti pernah melihat punggung itu dalam mimpiku.
Aku hendak mengejarnya. Tapi gengsi membuatku enggan bergerak dari langkahku. Aku pun berbalik dan masuk ke ruangan Kayla yang sudah dipindahkan ke ruangan inap.
“Selamat ya, Sayang….” Aku memeluk Kayla yang masih terbaring di tempat tidur pasien.
“Terimakasih… kalau tadi kau tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan,” ia berhenti beberapa detik dengan melihat ke sekitarku kemudian bertanya, “tapi mana Yoon-Jin? Aku belum sempat berterimaksih kepadanya.”
“Dia pulang.”
“Terus kau?”
__ADS_1
“Aku nanti bisa naik bus.”
“Memangnya kamu tahu arah pulang?”
“Anni… ya nanti bisa tanya-tanya orang sekitar, kan?”
“Memangnya kau sudah mahir berbahasa Korea?”
“Ah... entahlah, aku juga bingung. Tapi kau tenang saja,”
“Supir kami bisa mengantarkanmu,” tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang memasuki ruangan. Laki-laki itu adalah suami Kayla.
“Mian... tidak menemanimu, Sayang.” Ji-Hyun kemudian mencium kening istrinya.
Sungguh pemandangan yang hangat yang kini ada di depanku. Aku bahagia karena sahabatku bisa hidup bahagia bersama laki-laki yang dicintainya.
Terkadang perasaan itu mengusikku. Kayla tak pernah bercerita kepadaku tentang sosok yang dicintainya. Bahkan aku tidak tahu siapa cinta pertamanya. Mungkinkah Park Ji-Hyun adalah cinta pertama Kayla? Sungguh menyenangkan jika cinta pertama menjadi akhir bahagia seperti ini.
“Kay, sudah malam. Besok aku akan mengunjungimu lagi,” kataku memotong percakapan mereka yang begitu mesra.
“Maaf, Rick, aku tidak bermaksud mengacuhkanmu..” Kayla menatapku.
“Oh… tidak apa-apa. Ini memang waktuku untuk pulang,” aku berpamitan.
__ADS_1
Ji-Hyun menghubungi seseorang yang tak lama kemudian orang itu masuk ke kamar Kayla. Ji-Hyun berbicara pada orang itu dengan bahasa Korea yang intinya memintanya untuk memastikan aku selamat sampai rumah.