
Sinar mentari yang hangat seakan jatuh di depan wajahku. Aku perlahan membuka kedua mataku. Samar-samar aku melihat sekeliling, aku merasa masih di dalam mobil. Iya benar, aku masih berada di dalam mobil. Aku memastikan seluruh nyawaku sudah kembali dalam ragaku. Di sampingku, Kak Wisnu pun juga terlelap. Mungkin karena rasa capek karena menemaniku seharian. Aku tidur dengan berselimut jaket yang ia kenakan semalam.
Tak lama kemudian ada suara ponsel yang berdering, sehingga membangunkan Kak Wisnu dari tidurnya. Ia pun mengangkat telponnya.
“Iya Ma, maaf semalam tidak pulang, karena ada urusan yang sangat penting,” jawabnya kemudian telepon pun berhenti.
Dia menatapku sedikit terkejut.
“Kau sudah bangun? Maaf semalam aku tidak sanggup membangunkanmu yang terlihat sangat letih.” Ia melihat ke kaca dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang sangat lucu itu.
“Maaf... aku baru pertama kali menghabiskan satu malam dengan seorang gadis!” lanjutnya merasa malu. Sungguh terlihat dari ujung hidungnya yang secara spontan berubah warna kemerahan. Aku semakin tertawa geli melihat tingkahnya itu.
“Rick... semalam aku melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang kosmu. Dan ada beberapa orang laki-laki yang mencurigakan mondar-mandir di depan kosmu!” Kak Wisnu kini menatapku dengan serius.
Aku terdiam. Senyumku kembali terkulum dalam bibirku. Mendadak aku gemetar. Apa ini yang dimaksudkan ayah? Apa renternir itu mencariku? Bahkan sekarang mereka berhasil menemukan kosku?
__ADS_1
“Tapi tenang saja, setelah mendengar perkataan dari pemilik kos, sekawanan laki-laki itu pergi.” Kak Wisnu menghempaskan udara yang keluar dari hidungnya.
“Bagaimanapun, aku merasa tidak tenang Kak, aku seperti buronan yang melakukan kesalahan fatal sehingga patut untuk segera ditangkap!” ujarku perlahan.
“Tenang Rick, aku akan selalu ada di sampingmu.” Ia menggenggam tangan kananku sambil tersenyum ke arahku.
“Mulai sekarang, kau jangan keluar kos dulu ya! Sampai ayahmu mempunyai solusi demi keamananmu. Kalau kau butuh apa-apa tinggal hubungi aku. Kalau kau mau kuliah biar aku antar jemput. Aku tidak mau kau jalan Kaki sendiri karena takut sewaktu-waktu renternir itu menemukanmu. Apa sebaiknya kita lapor ke polisi saja ya, Rick?” Pandangan kami bertemu.
“Jangan Kak, percuma, renternir itu renternir kelas Kakap. Tak ada gunanya kalau kita melapor. Mereka punya banyak mata-mata dan Kaki tangan!” Aku melihat matanya menyimpan kekhawatiran yang besar.
“Ricka… makasih ya?” suara Kak Wisnu terdengar bergetar.
“Buat apa Kak?”
“Telah menemaniku seharian.”
“Harusnya aku yang berterimakasih, Kakak sudah banyak membantuku.”
__ADS_1
“Terimakasih telah membiarkan aku berada di sisimu seharian.” Kini ia tersenyum manis.
Aku membalas senyumnya dan kemudian keluar dari mobil berjalan menuju gerbang kos. Tak lupa aku menoleh ke arah mobil Kak Wisnu dan melambaikan tanganku mengiringi kepergiannya.
Aku berjalan menuju lorong sempit arah kamar kosku. Lirih tapi jelas, aku mendengar banyak bisikan dari berbagai arah. Aku tahu pasti mereka membicarakanku. Hanya Risa yang berani menyapaku.
“Kak… Kakak baik-baik saja, kan?” nada bicaranya penuh khawatir.
Aku tersenyum dan menjawabnya “Tidak apa-apa Ris, memangnya ada apa?”
“Wah, untung Kakak semalam tidak pulang. Semalam ada tamu berpenampilan seperti mavia mencari Kakak. Serem banget, Kak! Untung sebelumnya Pak Toni pemilik kos bilang untuk tidak buka mulut tentang Kakak. Kami semua khawatir Kakak dalam bahaya!” Kini Risa menggenggam kedua tanganku dengan erat. Aku meliriknya, aku yakin matanya sedang berkaca-kaca sekarang, menandakan ia benar-benar mengkhawatirkanku.
“Ris… tidak apa-apa. Lihatlah aku masih bisa berdiri di depanmu sekarang. Itu artinya aku tidak apa-apa, kan?” nada bicara aku buat sesantai mungkin. Aku tidak mau Risa semakin khawatir melihat ketakutan luar biasa dalam diriku.
“Kak… aku turut berduka cita atas semua yang menimpa Kakak sekeluarga,” Risa kemudian melangkahkan Kaki dan memelukku. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya. Risa memang sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Selain Kayla, Risa-lah yang paling dekat denganku.
Aku pun memasuki kamarku. Merebahkan diri dan memejamkan mata sejenak. Pinggangku yang cukup kaku karena hampir seharian duduk di mobil membuatku ogah untuk bangun. Sebenarnya ini ada jadwal kuliah. Tapi aku malas untuk datang. Lebih tepatnya takut. Aku belum siap menerima tatapan orang-orang di sekitarku. Entah tatapan kasihan, atau tatapan cemooh yang akan mereka lontarkan kepadaku.
__ADS_1