CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 12 (Bersiap)


__ADS_3

“Korea??” suaranya membesar karena mulutnya yang penuh dengan makanan.


Aku mengangguk. Dia meletakkan styrofoam itu dan terus melihatku.


“Kau… akan berangkat kapan?” tanyanya dengan suara rendah.


“Nanti jam lima sore orang utusan om akan datang menjemputku.” Aku masih tetap melahap makananku.


“Rick… kau masih bisa menelan makananmu?” Aku mendengar suara Kak Wisnu dengan nada suara semakin tinggi.


“Emang kenapa Kak?” aku bertanya kemudian pandangan kami bertemu.


“Ricka… semudah itukah kau meninggalkanku?” Sorot matanya semakin tajam, makanan yang tadinya semangat ia makan masih tergeletak utuh semenjak ia mendengar rencanaku meninggalkan Indonesia.


“Aku tak punya pilihan lain.”


“Apa tidak ada tempat lain sebagai tempatmu bersembunyi? Apa tidak bisa kau pergi bersamaku saja? Aku akan membantumu semampuku, Rick! Tapi tolong jangan menjauh dari pandanganku!” Kini Kak Wisnu menatapku dalam-dalam, aku bisa melihat kesedihan dan emosi yang memancar dari sorot matanya.

__ADS_1


“Tidak bisa semudah itu, Kak! Lawan bisnis dari ayahku cukup kuat. Aku tak mau melibatkan Kakak dalam masalah ini.” Aku meletakkan styrofoam yang isinya sudah bersih tak bersisa.


“Aku yakin semua masalah pasti bisa kita atasi bersama. Aku yakin Rick…!” Ia masih berusaha meyakinkanku.


“Tidak semudah itu, Kak,” aku menundukkan kepalaku.


“Tidak bisakah kau bertahan demi aku. Aku tak apa jika kau tak pernah melihatku. Tapi yang penting aku bisa melihatmu.”


“Maaf kan aku Kak.”


“Tak perlu minta maaf. Karena maafmu tidak akan pernah cukup untuk menghapus kesalahanmu.”


“Mengerti apa?”


“Sekarang aku tanya, Kakak minta aku bertahan, jika pada akhirnya aku akan dipaksa menikah ataukah meminta aku pergi sementara waktu dan kembali bertemu dengan Kakak?” aku bertanya dan menatap matanya tajam. Kami berhenti beberapa detik yang terasa sangat panjang. Tampak sekali dia terkejut dengan hal yang barusan aku katakan.


“Menikah?” ia bertanya ragu-ragu.

__ADS_1


“Ya, ayahku dijebak oleh lawan bisnisnya. Dan ia menjadikan aku sebagai sasaran untuk dijadikan isteri ke empat!” Aku menarik napas panjang, kemudian melanjutkan,


“Sekarang Kakak minta apa? Aku pergi atau aku bertahan?” Aku merasa mataku mencair.


Kak Wisnu masih terdiam. “Jika kau kembali lagi apakah ada jaminan kau akan menerimaku?” Sorot matanya berubah lebih redup.


Sekarang giliranku terdiam. “Aku... Aku…” Aku tak sanggup melanjutkan kalimat berikutnya.


“Kau tak bisa menjawabnya, bukan?” Ia membuang muka.


“Maafkan aku, Kak, tapi Kakak perlu tahu, saat ini Kakak adalah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Kakak tidak sakit hati ketika aku tak bisa menerima perasaan Kakak. Kakak masih bertahan dengan segala masalah yang aku hadapi saat ini. Walaupun kita jauh, aku tidak akan pernah melupakan Kakak.”


“Berapa lama? Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan?”


“Tak tahu Kak,”


“Ah… pasti lama? Bertahun-tahun, kan? Apa aku sanggup...?” Ia mengucek rambutnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu. Tak terasa mataku berkaca-kaca. Baru sesaat bisa menikmati pertemanan yang hangat dengan Kak Wisnu. Kita harus terpisah oleh keadaan.

__ADS_1


Kak Wisnu membantuku mengepak beberapa barangku. Seperti pesan dari Om Shoni aku tidak membawa banyak barang. Hanya beberapa potong baju. Tak lupa aku membawa jam beker hadiah dari Kayla yang kedua sisinya terdapat figura kecil. Di sebelah kanan berisi foto ayah dan bunda dan sebelah kiri fotoku bersama Kayla.


__ADS_2