
“Apa Nona baik-baik saja?” tanya Paman Park.
“Aku baik-baik saja Paman, sebenarnya aku belum siap pergi secepat dan mendadak seperti ini. Tapi bagaimana Paman bisa sampai ke Indonesia secepat ini? Bukannya perjalanan Korea ke Indonesia memakan waktu enam sampai tujuh jam?” tanyaku penasaran.
“Saya sampai di Indonesia kemarin siang karena ada sesuatu yang saya kerjakan di sini,” jawab Paman Park sambil tersenyum ramah.
“Apa? Kemarin? Seyakin itukah Om Shoni, kalau aku akan menyetujui untuk tinggal beberapa waktu di Korea?” dengusku.
“Mr. Shoni memintaku tak peduli Nona Ricka setuju atau tidak, saya harus bisa membawa Nona ke Korea.” Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Paman Park.
“Dan beruntungnya saya mudah membawa Nona.” Kini senyumnya semakin lebar.
__ADS_1
Aku pun membalas senyumnya dan kemudian berkata, “Oh ya Paman. Paman bisa bahasa Indonesia lancar sekali, daebaaak (luar biasa)” sambil menunjukkan kedua jempol tanganku ke arahnya.
Ia tertawa lepas. “Saya sering diajak Mr. Shoni perjalanan bisnis ke Indonesia. Apa lagi kalau bekerja pribadi dengan Mr. Shoni, saya harus membiasakan diri berdialog dengan bahasa Indonesia. Saya tidak hanya bisa bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggris, China, Jepang dan beberapa negara lain yang merupakan partner kerja dari Mr. Shoni,” ucapnya sambil menoleh ke arahku.
“Keren sekali!” ujarku berdecak kagum.
“Iya, dengan mempelajari bahasa akan memudahkan komunikasi dalam berbisnis juga,” sahutnya.
Kini rencana yang selama ini aku susun bersama Kayla akan terasa sia-sia untuk berlibur ke Korea Selatan setelah wisuda. Saat ini perasaanku sungguh campur aduk. Antara sedih, bahagia, cemas, takut dan lain sebagainya. Aku hendak menghidupkan ponselku yang sempat tadi aku matikan. Dan aku tidak menemukannya. Ah... aku baru ingat ponselku tadi aku taruh di saku jaket tipis yang sebelumnya aku pakai.
“Nona, mencari apa?” tanya Paman Park melihat kebingunganku.
__ADS_1
“Ponsel, aku lupa menaruhnya, kemungkinan tertinggal di kos…,” jawabku yang terlihat kebingungan.
“Kalau kita kembali, kita akan tertinggal pesawat, Nona. Apa saya suruh orang
untuk mengambilnya?”
“Tidak usah Paman, lagi pula di Korea aku sudah tidak membutuhkan itu. Jikalau ayah dan bunda ingin menghubungiku, kan bisa langsung lewat Om Shoni,” jawabku. Aku berusaha tidak khawatir mengenainya.
Hanya saja yang aku takutkan akun sosialku. Aku takut sewaktu-waktu Kayla menghubungiku.
Mobil mengantarkan kami ke bandara internasional Soekarno Hatta. Kami menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Tak lama pun kami memasuki tempat duduk pesawat. Penerbangan lima menit lagi. Aku membenarkan posisi dudukku. Paman Park duduk di sampingku. Entah kenapa seperti ada kekhawatirannya terhadapku. Entah takut kalau aku kabur atau takut ada anak buahnya Shantowi yang mengenaliku. Aku tidak terlalu memikirkannya. Saat ini yang penting adalah aku selamat dari tangan Shantowi. Aku sungguh tidak sanggup kalau harus dijadikan isteri ke empat olehnya. Bisa hancur hidupku kalau sampai itu terjadi.
__ADS_1
Pesawat telah lepas landas. Langit yang sedikit mendung sama sekali tidak memperlihatkan satu bintang pun. Semendung dan sekalut pikiranku sekarang. Tapi hal itu segera aku tepis. Aku memantapkan dalam hati bahwa ini adalah keputusan terbaikku. Bukan kabur dari segala masalah. Lebih tepat aku menyebutnya memberi waktu ayah untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang yang bernama Shantowi.