
Sepertinya aku menabrak sesuatu yang lebih besar dariku. Hampir saja aku teriak sekuat tenaga tapi seketika ada sebuah tangan menyumbat mulutku.
Mataku membelalak dengan sempurna. Aku melihat leher seseorang yang sangat dekat. Dekat sekali sampai aku merasakan hembusan napasnya di sela-sela rambutku.
Karena terkejut yang amat sangat sampai aku tidak sadar telah menjatuhkan biskuit dan susu yang semula aku pegang. Perlahan aku mendongak ke atas mencari wajah orang yang mengejutkanku. Betapa terkejutnya aku melihat sosok itu. Yoon-Jin yang sedang membekapku sekarang. Dengan reflek aku mendorong sosok itu dari hadapanku.
“Apa yang kau lakukan, haa? Benar-benar menakutkan…!” suaraku bergetar hebat.
“Harusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan malam-malam mengendap di rumah orang?” Ekspresinya begitu menyebalkan.
Aku pun kebingungan menjawab pertanyaan Yoon-Jin. Tapi tampaknya para pendemonstran di perutku ini lah yang memberi jawaban kepadanya alasanku datang ke sini.
Kriiiuuukkk… Kriiiuuuk….
“Isssh… berisik! Tak kusangka suara yang begitu berisik dari samping kamarku itu berasal dari perutmu.” Kemudian ia berbalik mengambil sesuatu di lemari atas dapur.
“Yaa… aku manusia juga. Aku belum makan dari tadi siang…,” kataku perlahan.
Yoon-Jin hanya diam saja. Aku melihat gelagatnya sepertinya mengambil sesuatu dari lemari atas dapur. Iya, aku melihat dengan jelas. Ia mengambil dua bungkus ramyeon dan beberapa sayuran serta telur dari dalam lemari es.(ramyeon \= mi instan)
Dengan cekatan ia mengerjakan itu semua. Aku mendekatinya dengan harapan mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu. Baru saja mendekatinya, ia langsung mencegahku.
”Bisakah kau kembali di tempatmu semula? Aku sedang tidak ingin diganggu!” Tanpa mengalihkan pandangan dari masakannya yang hampir matang di atas kompor.
Harum ramyeon semerbak memenuhi ruangan dapur. Perutku semakin kencang bersuara seakan tidak sabar ingin segera mendapat jatah merasakan masakan Yoon-Jin yang terlihat sangat menggiurkan.
“Mmmm… mungkinkah Yoon-Jin membagi ramyeonnya untukku? Ah… aku bingung dengan sikap dinginnya itu,” aku berbisik di dalam hati.
Ia membawa dua mangkuk ramyeon dan menaruhnya di atas meja makan.
__ADS_1
“Wooahh...,” aku mengagumi ramyeon yang terlihat sangat enak itu. Di tengahnya terdapat telur mata sapi yang hampir meleleh kuning telurnya. Kuahnya berwarna kejinggaan dan terasa hangat di mata.
Yoon-Jin memposisikan duduknya di seberang aku duduk.
“Sluuuuurrrrrpppp....” suara Yoon-Jin menghisap ramyeonnya sungguh menggugah selera.
Aku pun menelan ludahku yang kering membayangkan kenikmatan dari semangkok ramyeon panas yang ada di hadapanku. Aku tak berani memegangnya. Karena Yoon-Jin tak menawarkan ramyeon satunya untukku.
“Apa kau hanya duduk dan menonton? Barusan kau bilang kau lapar, bukan?” tanyanya sambil menelan ramyeon yang sebagian masih di luar bibirnya.
“Haa?” tanyaku dengan ekspresi yang super bahagia dan langsung mencaplok ramyeon yang masih mengeluarkan hawa panasnya.
“Isssh... bisa kah kau makan pelan-pelan? Jika kau makan secepat itu, aku bisa jamin besok pagi lidahmu akan lecet!”
Namun aku tak memedulikan apa katanya. Dan terus melahap ramyeon itu hingga tak bersisa.
“Apa kau baru pertama kali makan ramyeon, haa?” ia memandangku aneh.
“Apa mungkin... kau benar-benar kelaparan?” tanyanya.
“Ne…” aku menjawab dengan meneguk kuah terakhir.
(Ne\= iya)
“Wooah… kau bisa berbahasa Korea?”
“Anniya… aku hanya bisa beberapa kata saja. Karena di Indonesia aku suka sekali nonton drama Korea…”
(Anniya\=tidak)
__ADS_1
“Issshh… tak ku sangka semua wanita sama saja.”
“Mwo?”
(Mwo\=apa)
“Ne… semua wanita memang suka mengkhayal kisah hidupnya semanis drama Korea,” katanya sinis.
“Hahaahaha….” tawaku renyah membahana.
“Wae…?”
(Wae\=kenapa)
“Annimnidaa….”
(Annimida\=tidak apa-apa)
“Waeee... Kenapa kau tertawa selebar itu?”
“Aku hanya berfikir kau iri, tidak bisa seromantis para aktor drama Korea.”
“Mwoo?” Kini nada suaranya semakin tinggi.
“Yoon-Jin-ah... Gomawoo, aku kenyang sekarang. Hoaaaheemm… Dan aku ngantuk….”
(Gomawo\=terimakasih)
Aku beranjak dari kursi kemudian berjalan menuju ke tangga.
__ADS_1
Aku tidak memedulikan Yoon-Jin yang mungkin menggerutuiku. Tapi yang jelas mataku benar-benar berat kali ini. Mungkin para pendemonstran dalam perutku sudah berhenti dari aksinya, sehingga membuat perutku nyaman dan mataku sangat mengantuk. Aku pun menuju kamarku dan tidur dengan nyenyak.