CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 26 (Kau... membuat jantungku berdebar)


__ADS_3

Pagi ini, aku merasa malas untuk bangun. Walaupun nyanyian burung-burung di pepohonan sudah sangat keras terdengar. Sinar hangat mentari yang menembus gordin kamarku sudah mulai terasa.


Aku melihat jam bekerku, waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Aku malas bangun, apalagi sarapan dengan Yoon-Jin. Karena om dan tante pasti sudah berangkat pagi buta tadi. Mi-Yun juga sudah berangkat diantar paman Park, kalau Yoon-Hee, aku tidak tahu ia berangkat kapan. Bodo amat.


Aku mau menghabiskan waktuku seharian dengan tidur di kamar sambil membayangkan wajah Kak Ji-Sung yang selalu menghiasi mataku akhir-akhir ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mandi. Seperti biasa aku melepas bajuku dan mengenakan handuk kimono kemudian menuju kamar mandi yang terletak di pojok ruangan kamarku. Namun ketika aku berada tepat di depan pintu, tiba-tiba gagang pintu itu terbuka dengan sendirinya dan aku melihat sosok besar keluar dari pintu kamar mandiku. Sontak kata yang pertama aku katakan adalah….


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…!!”


Mataku membelalak bulat sempurna. Sosok di depanku tak kalah terkejutnya dan juga berteriak sama denganku. Siapa lagi kalau tidak Yoon-Jin.


“Sedang apa kau di kamarku????” teriakku sangat keras dengan menutup semua wajahku menggunakan kedua telapak tangan. Karena Yoon-Jin hanya mengenakan handuk putih yang dililitkannya dari atas pusar sampai bawah lutut.


“Aaa... Mhian... air keran kamar mandiku mati. Aku tadi sudah ketuk pintu tidak ada jawaban. Lagian tadi aku lihat tidak ada orang?” jawabnya membela diri.


“Meskipun begitu, apa tidak bisa kau ke kamar mandi lain? Kenapa mesti di kamarku?”


“Mhian…” Ia menjawab dengan santai dan berjalan menuju pintu.


Aku bersimpuh lesu. Perasaan antara kaget dan marah menjalar di semua sudut tubuhku. Belum sampai Yoon-Jin membuka pintu untuk keluar, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sendirinya. Kemudian masuklah seseorang yang tidak diharapkan kali ini. Dia adalah Yoon-Hee.

__ADS_1


“Yaa!! Yoon-Jin-ah… apa yang kau….” Yoon-Hee melihat aneh ke arahku dan Yoon-Jin.


“Yoon-Hee-ya… ini tidak seperti yang kau pikirkan….” Aku membela diri.


“Ini bahkan lebih dari yang kau pikirkan!” Kini Yoon-Jin mengatakan hal yang tidak masuk akal kemudian keluar dari kamarku begitu saja.


Yoon-Hee terdiam dan mengejar saudara kembarnya meminta kejelasan tentang apa yang barusan ia lihat. Aku masih bersimpuh di posisi semula. Jantungku berdegup kencang sekali. Sungguh kencang hingga berasa akan copot dari tempatnya.


“Bagaimana bisa Yoon-Jin masuk kamarku seenaknya sendiri? Apa mungkin ia sering masuk kamarku tanpa sepengetahuanku? Atau jangan-jangan ia berpikiran mesum? Dasar otak cabul!” gerutuku dalam hati.


Aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku seketika itu juga. Aku membukanya sedikit dan melihat ke luar.


“Aku tidak mempunyai otak cabul seperti yang kau pikirkan!” Yoon-Jin berteriak setengah keras kemudian pergi kembali ke kamarnya.


Aku mengendap-endap dan melihat ke seluruh sudut kamarku dari atas sampai bawah. Tapi aku belum juga menemukan benda yang mencurigakan yang aku duga adalah cctv.


Setelah beberes diri dan tak lupa memakai krim pelembab serta sarapan aku menikmati udara yang mulai dingin semribit melalui kardigan yang aku gunakan. Aku membiarkan rambut sebahuku terurai tertiup angin. Aku melihat daun-daun yang hampir berubah warna seluruhnya. Aku menghirup oksigen sebanyak yang aku bisa. Menikmati udara segar yang masuk dalam paru-paruku.


Aku bersandar dalam bangku yang biasa aku duduki dengan Kak Ji-Sung. Aneh memang, kenapa jika aku melihatnya terasa bahagia tapi ketika tidak melihatnya aku tidak merindukannya? Yah… aku merasa aku tidak merindukannya. Seakan aku dipermainkan oleh perasaan yang selalu berubah-ubah tanpa bisa menafsirkannya.

__ADS_1


Aku memegang kedua wajahku sambil memejamkan mata. Tiba-tiba sekelebat wajah buram yang selalu hadir dalam mimpiku muncul. Suaranya menggema seperti sebuah robot yang bisa bicara. Dia hanya memanggilku “Ricka….” aku pun segera membuka kedua telapak tanganku.


“Ah… ada apa denganku? Bukannya sekarang ini aku sedang jatuh cinta pada Kak Ji-Sung?” Aku berbicara pada diriku sendiri. Beberapa saat kemudian aku melihat ponselku bergetar. Ada nama Kak Ji-Sung di sana.


“Yeoboseyo….” Aku membuka percakapan di telepon.


(Yeoboseyo: halo)


“Sungguh menyejukkan mendengar suaramu,” terdengar suara di seberang. Aku hanya membalas dengan senyuman yang aku tahu pasti dia tidak bisa melihat senyumku.


“Tahukah kau senyumanmu mampu meluluhlantakkan gelombang dalam jantungku?” Suara yang sangat jelas dari balik ponselku. Mendengarkan perkataannya barusan, membuatku hampir pingsan.


“Laki-laki yang membuatku nyaman adalah Kak Ji-Sung bukan yang lain. Laki-laki yang membuat jantungku berdetak tak berirama hanya Kak Ji-Sung!” teriakku dalam hati.


“Kak Ji-Sung… bagaimana perjalanannya?” tanyaku kepada sosok di seberang telepon.


“Membosankan…” Ia mendesah ringan.


“Andai kau ada di sini, emmm… tunggu aku, ya? Jika aku pulang nanti, kaulah orang pertama yang ingin aku temui.” Aku tersenyum mendengarnya dan kemudian ia menutup telponnya.

__ADS_1


Laki-laki blak-blakkan yang membuatku bingung dengan semua sikapnya. Lucu dan romantis.


“Bukannya seperti di drama-drama, laki-laki Korea itu tidak mengucapkan kata yang selalu diinginkan oleh seorang wanita. Misalnya… aku cinta kamu atau aku sayang kamu seperti pada orang Indonesia pada umumnya. Mereka mengungkapkan perasaanya lebih rapi, tersembunyi, dan terkesan lebih cute,” gumamku dalam hati.


__ADS_2