
Aku merasakan badanku membaik setelah berada di sebuah ruangan yang hangat. Perlahan aku mulai membuka mataku. Aku melihat langit-langit ruangan itu. kemudian melihat di sekelilingnya. Ada sosok yang perlahan mulai aku kenali wajahnya.
“Kak Ji-Sung….” Aku melihatnya dan kemudian berusaha bangun dari tidurku. Ia pun segera mendekatiku. Menggenggam tanganku.
“Kwenchana? Neo mychoseo? Kenapa kau jalan-jalan sejauh itu? Kau tadi keluar dengan siapa?” tanya nya terlihat sangat panik.
(Kwenchana? Neo mychoseo?: kau tidak apa-apa? apa kau sudah gila?)
“Aah…Yoon-Hee… Apa kau menemukannya juga? Kenapa ia tidak ada di sini? Kenapa ia tadi tidak kembali? Ia bilang kalau di tempat tadi akan ada festival musim dingin dan ia mencari lokasi parkir mobilnya. Tapi… ia tak kunjung kembali..” suaraku bergetar.
“Yoon-Hee…?”
“Yaa….” jawabku.
“Wae…? Kenapa kau begitu bodohnya percaya Yoon-Hee yang jelas-jelas tidak menyukaimu? Dan kenapa kau meninggalkan ponselmu begitu saja? Kau benar-benar membuatku khawatir!” suaranya lebih tinggi dari awal menyapaku tadi.
“Kak Ji-Sung… Mianhe….” Aku menunduk.
“Mian? Aa… Rasanya aku tak sanggup kehilanganmu….” Ia memelukku. Rasa hangat semakin menjalar ke tubuhku. Aku hanya diam terpaku menerima pelukannya.
“Kak Ji-Sung… Bisakah kau antar aku pulang?” kataku perlahan.
“Pulang? Sebaiknya kau menginap di sini saja.” Ia melepas pelukannya.
“Andwee… aku takut Om Shoni dan Tante Nari berfikir yang tidak-tidak tentang kita.”
Akhirnya ia setuju untuk mengantarku pulang. “Mian, aku tidak bisa menemanimu masuk. Karena aku harus kembali ke apartemen sebelum salju turun deras. Karena ada beberapa dokumen penting yang harus aku pelajari untuk rapat besok pagi.” Ia masih melihat lurus ke depan.
“Aa… Kwenchana....” jawabku.
Mobil pun sampai tepat di gerbang depan rumah. Aku segera berlari menuju pintu. Cuaca dingin ini sungguh tidak sesuai dengan tubuhku. Semakin dan semakin dingin merasuk dalam jaket tebalku. Aku memencet bel pintu sebanyak yang aku bisa. Namun tak ada jawaban.
“Apa iya Om Shoni dan Tante Nari sudah tidur dan tidak mendengar bel pintu?” pekikku dalam hati. Setelah sekian lama akhirnya aku mendengar gagang pintu diputar. Ternyata yang membuka adalah Yoon-Jin.
__ADS_1
“Yoon-Jin-ah… kenapa kau lama sekali buka pintunya?” Aku sedikit marah.
“Aku kira kau tidak akan pulang,” jawabnya sambil kembali menutup pintu.
“Wae…? Memang kau tahu aku dari mana? Yoon-Hee sudah pulang?”
Dia hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Aah… tatapan itu datang lagi. Sungguh membuatku ingin bertanya, “Kenapa setiap kali melihatku selalu meluncurkan tatapan aneh itu? Haissh... bikin risih!” bisikku dalam hati.
“Sepi sekali, Om dan Tante sudah tidur, kah?”
“Appa dan Eomma sedang menginap di hotel berbintang di acara pertunangan anak dari rekan bisnisnya.”
“Oh… Mi-Yun?”
“Dia sudah tidur jam segini, dia tidak mungkin mendengarmu. Karena kebiasaanya tidurnya yang selalu menggunakan headset. Kau sungguh cerewet banyak tanya. Cepat masuk kamar dan ganti pakaianmu. Kamu bisa sakit!”
Aku pamit dan langsung menuju kamar untuk istirahat. Aku sungguh merasa suhu tubuhku sangat tidak karuan. Istilahnya meriang. Dingin dan panas yang ku rasa. Hingga tengah malam aku bermimpi sangat buruk. Aku seperti dikejar ratusan serigala yang membuatku sangat takut. Aku menggigil kedinginan. Ingin rasanya bangun dari mimpi buruk itu. Namun sekejap kemudian mimpi itu seperti berpindah scene menjadi mimpi yang sering aku lihat. Seperti aku melihat laki-laki yang biasa aku lihat di mimpiku selama ini. Ia mendekatiku dan terus mendekatiku. Wajahnya sama sekali belum jelas. Suaranya terdengar seperti robot-robotan.
“Kau bermimpi? Kau demam! Tunggu aku ambilkan obat!” Ia menghilang dari pandanganku. Aku membelalakkan kedua mataku.
Kenapa sosok tadi menjadi begitu jelas? Seperti benar-benar siluet manusia yang sering muncul dalam mimpiku adalah Yoon-Jin. Apa orang yang di dalam mimpiku itu adalah Yoon-Jin? Aah… Tidak mungkin! Aku memimpikan sosok itu sebelum mengenal Yoon-Jin, jadi tidak mungin itu adalah dia. Kebetulan saat aku membuka kembali mataku ia berdiri didekatku, sehingga aku mengira sosok itu adalah Yoon-Jin. Bodohnya diriku.
Tak lama kemudian masuklah Yoon-Jin ke kamarku. Ia memberikanku obat. Tatapannya sekilas berubah menjadi sedikit lebih hangat. “Apa masih dingin?” tanyanya kemudian menatapku lebih dekat. Aku menjawab hanya mengangguk. “Penghangat udara sudah full. Aku pun merasa sangat hangat di kamarmu. Mungkin karena kau sedang demam makanya hawa terasa sangat dingin.”
Aku hanya membalas dengan anggukkan ringan. Dan kemudian bertanya, “Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”
“Mwo?” Ia duduk di tempat belajarku dengan melipat kedua tangannya ke depan.
“Emm… Apa kau itu sejenis alien seperti pada tokoh Do Min-Joon yang di perankan Kim Soo-Hyun dalam drama You Who Came From The Star? Atau kau punya indera ke enam seperti pada tokoh Park-Do-Kyung yang diperankan oleh Moon Jung-Hyuk dalam drama Another Oh Hae Young? Atau jangan-jangan kau seperti Park Soo-Ha yang diperankan oleh Lee Jung Suk dalam drama I Hear Your Voice dimana ia bisa membaca pikiran orang-orang yang ada di hadapannya? Atau jangan-jangan kau itu jelmaan Goblin? Seperti pada drama terbarunya Gong-Yoo Ajussi?” aku melihatnya serius.
“Mwo…? Hahahahahaha….” Ia tertawa sangat keras menunjukkan kedua lesung pipinya serta deretan gigi yang begitu rapi. Aku hanya melongo melihatnya tertawa puas.
__ADS_1
“Apakah aku selucu itu?” Aku melihatnya sewot.
“Iyaa… Kau lucu sekali. Baru pertama kali aku tertawa sepuas ini.” Terdengar suaranya menjadi serak karena puas tertawa.
“Iya... Selama aku di sini baru kali ini aku melihatmu tertawa lepas seperti ini. Dan beruntung kali ini aku bisa melihatnya,” ujarku dengan tersenyum tipis. Ia merubah ekspresinya menjadi terdiam dan melihatku serius.
“Wae…? Apa… Aku salah mengucapkan kalimat?” tanyaku mulai takut dengan tatapannya itu.
“Anniyo…” jawabnya singkat.
“Geunde… kenapa kau tertawa begitu keras? Sampai-sampai telingaku hampir pecah dibuatnya.” Aku memasang wajah sebal.
(Geunde:lalu)
“Karena pertanyaanmu terlalu konyol!” jawabnya sambil melemparku dengan senyum yang sangat manis.
“Kau yang konyol, kau selalu menatapku dengan tatapan aneh. Belum lagi kau selalu tahu apa yang sedang aku lakukan dan apa yang akan menimpaku. Seperti dulu pertama kali aku di sini. Tidak masuk akal rasanya bunyi perutku yang sedang keroncongan terdengar sampai ke kamarmu, atau pada saat perutku sakit karena kimchi yang terlalu pedas, dan barusan kau juga di sini ketika aku bermimpi dan menangis.” Aku membeberkan beberapa peristiwa yang aku rasa sangat kebetulan. Dia tidak menjawab dan masih tersenyum lucu.
“Yaa… ! Kenapa kau tidak mau menjawabnya?” tanyaku sebal.
“Kamu tidak akan tidur?” Ia menatapku serius.
“Issh... kau mengalihkan pembicaraan,” sahutku manyun. Aku ragu mau menjawab, karena jujur aku sangat takut untuk memejamkan mata mengingat mimpi yang barusan aku alami.
“Aku sudah sangat mengantuk. Jika kau mau tidur. Tidur saja. Aku akan menunggumu sampai kau pulas. Dilihat dari matamu, kalau kau menginginkan aku di sini karena kau takut untuk tidur sendiri. Begitu bukan?” kini pandangan kami menyatu.
Deg…
Jantungku berdetak aneh. Berirama namun terasa ada yang berbeda. Sedikit lebih cepat iramanya.
“Yaa…! Kau percaya diri sekali. Aku berani, kok!” teriakku.
“Aah… begitu. Okey, aku akan kembali ke kamarku.” Ia beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Jangan…!” Aku meraih pergelangan tangannya sambil menatapnya memelas. Ia melihatku sambil tertawa menang. Perlahan aku memejamkan mataku. Sosok Yoon-Jin yang tadinya memenuhi pandanganku kini beranjak menjauh dan gelap. Aku tertidur sangat pulas. Terasa nyaman sekali.