CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 36 (Jawaban dari prasangka terdahulu)


__ADS_3

Kini Kayla tampak menggulung gimbab yang telah selesai digulungya, kemudian melanjutkan ceritanya,


“Ji-Hyun bercerita bahwa ia sudah pernah menikah sekitar dua tahun yang lalu. Namun, karena ayahnya segera menginginkan cucu sebagai pewaris perusahaan, akhirnya ia menikah dengan anak dari teman ayahnya. Setelah beberapa bulan menikah isterinya dinyatakan mandul oleh dokter. Karena tidak kuat menahan kekecewaan, isterinya sering minum-minum dan tak jarang pula tertidur di sebuah club malam. Hingga pada suatu malam, ia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk berat dan mengalami kecelakaan sehingga meninggal di tempat. Kematian isterinya disembunyikan dari publik karena menyangkut kehormatan perusahaan mertuanya. Ji-Hyun sempat shock mendapat musibah itu. Namun karena ayahnya meminta segera untuk mencari isteri lagi, hingga akhirnya kita dipertemukan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, seminggu setelah pertemuan pertama, ia langsung melamarku.”


Aku terdiam, beribu pikiran berkecamuk dalam hatiku. Kenapa Kayla sampai tidak menceritakannya kepadaku dan lebih memilih merahasiakannya?


“Mian... aku tidak bercerita dari awal….” Ia tak berani melihatku.


“Kau pasti punya alasan…,” jawabku.


“Pernikahan kami memang tidak dirayakan secara besar-besaran. Karena bisa dikatakan pernikahan kami bersifat sangat rahasia, setiap kali aku hendak bercerita, perasaan takut selalu menyelimutiku. Karena saat itu aku menyadari, bahwa aku tidak akan lama lagi bersamamu. Pasti ketika perutku lebih membesar, Ji-Hyun akan menjemputku. Aku takut, ketika kau mengetahui aku akan pergi jauh, kau akan semakin sedih. Dan itu membuatku ragu untuk meninggalkanmu. Sehingga aku memberanikan berjanji kepadamu untuk bercerita ketika kita bertemu. Dan akhirnya takdir pun mempertemukan kita sehingga mengharuskan aku menepati janjiku untuk bercerita kepadamu,” katanya sambil tersenyum.


“Kau ingat ketika aku pingsan di alun-alun dan aku dinyatakan hamil? Saat itulah aku merasa sangat bahagia. Bahwa apa yang sangat dinantikan suamiku akhirnya terwujud. Walau saat itu seribu pikiran mencambukku. Aku paham betul kau akan berpikir negatif bahkan kau akan membenciku. Tapi, kau semakin memperhatikanku. Sejak saat itu aku diam-diam memeriksakan kandunganku dan terus mengikuti perkembangannya. Aku takut kalau mau mengajakmu, kau pasti akan berpikir aku bangga mempunyai anak hasil hubungan gelap, padahal aku hamil dalam keadaan bersuami.” Ia tersenyum ringan.


“Iyaaa… aku ingat. Aku pernah menemukan foto USG di meja kamarmu. Dan sejak saat itu aku mulai merasa tenang dan berpikir kau menikmati kehamilanmu,” ujarku sambil menata irisan gimbab ke dalam piring.


“Iya, sejak perutku semakin membesar, tekanan anak-anak kampus begitu menggangguku sehingga membuatku stres dan kandunganku terganggu. Hingga akhirnya Ji-Hyun menjemputku dan kami langsung kesini dan Ji-Hyun memintaku untuk memutuskan semua akun sosialku agar aku bisa lebih fokus dengan kandunganku, sekali lagi aku minta maaf, Rick,” Kayla menatap kosong ke depan seperti mengenang kembali kenangannya


.


“Sepertinya, aku pernah bertemu dengan suamimu. Ehmmm… laki-laki yang berpakaian serba hitam yang pernah berhenti di depan kos kita, bukan?” tanyaku sambil mengernyitkan kening.


“Iya, pagi hari saat kita berangkat kuliah. Sebenarnya ia menjemputku pagi itu, tapi karena aku takut kau akan mengetahui kepergianku, akhirnya aku memutuskan untuk mengundurnya hingga siang hari,” jawabnya.


Aku tersenyum dan kembali memeluknya sambil berkata,


“Iya Kayla sayang… sekarang takdir telah mempertemukan kita. Kita sedang berada di satu atap sekarang. Rasanya aku ingin seharian bersamamu, Kay.”


Ia hanya mengangguk ringan dan kemudian mengubah ekspresinya.


“Tapi, siapa laki-laki yang mengantarmu tadi kalau bukan kekasihmu? Aku rasa kalian merupakan pasangan serasi. Dia jauh lebih tampan dari Andra loh….”


“Bukan dia. Sebenarnya saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan laki-laki yang merupakan anak angkat dari Om ku yang aku tumpangi. Entah kenapa perasaanku pada awalnya memilih dia. Tapi, saat ia memilihku juga, perasaanku tiba-tiba berubah. Tepatnya sejak seseorang selalu menemuiku dalam mimpi.”


“Siapa itu?”


“Entah, sehari sebelum aku kesini. Aku bermimpi orang-orang yang aku sayang berada di dekatku. Ayah, bunda, kamu, dan Andra. Tapi seketika wajah Andra berubah sosok, Kay, dan sampai sekarang aku belum bisa memastikan siapa orang itu.” Aku berhenti sejenak kemudian menarik napas panjang dan berkata,

__ADS_1


“Sejak saat itulah sosok berwajah buram itu selalu menghampiriku. Sepertinya dalam mimpiku aku begitu mengenalnya. Namun ketika aku bangun dari mimpiku wajah itu sama sekali tidak bisa aku ingat.”


“Apa laki-laki itu ada di depan kita?” Kayla berbisik dan melihat ke arah Yoon-Jin.


“Mungkin… tapi belum bisa aku pastikan.”


“Waaaaah… kebetulan sekaliii… Yoon-Jin –Ssi…!” Kayla berteriak dengan keras sehingga Yoon-Jin yang sedang memainkan ponselnya menoleh ke arah dapur.


“Kay… please… stop…!” Aku menutup mulutnya.


“Ricka… kalau kau terus menyembunyikan perasaanmu. Kapan kau akan menikmati hidup ini dengan penuh cinta? Ha?” Kayla mendengus kasar ke arahku.


“Please… stop… dia mempunyai telinga yang sangat tajam, Kay!” bisikku ke telinganya.


“Biarin, biar dia tahu!” Kayla benar-benar menyebalkan.


“Kay… ini sangat sulit bagiku. Masalahnya, ia tidak pernah berhubungan baik denganku. Ia seperti membenciku. Ini lebih sulit menghadapinya dari pada berhadapan dengan Andra dulu. Aku harus bertemu dengannya setiap hari dengan perasaan yang sangat tidak menentu ditambah sikapnya yang selalu menyebalkan malah cenderung menakutkan. Ah sungguh sulit…!” Aku menekankan setiap kata di kalimatku.


“Rick... kau tidak akan tahu perasaanya sebelum kau mencobanya.”


“Mencoba apa? Apa kau gila? Bagaimana aku mencoba kalau mengingat perilakunya yang begitu dingin terhadapku. Dia begitu berbeda dengan Kakak laki-lakinya yang begitu lembut dan peduli terhadapku. Kay, apa ini kutukkan yang lebih menakutkan lagi setelah kutukkan cinta bertepuk sebelah tanganku dengan Andra berakhir? Ah… kenapa nasib begitu membawaku ke perasaan yang begitu menyedihkan!”


“Ya... kita lihat saja, Kay… kemana takdir dari mimpi itu akan membawaku,” kataku sambil melepas celemek yang aku gunakan.


“Tapi Rick… aku melihat sesuatu yang aneh ketika Yoon-Jin melihatmu. Ada perasaan aneh di dalam setiap tatapannya. Terasa lebih bermakna, berbeda sekali ketika ia menatapku.”


“Yah… kau jangan mulai lebay lagi, Kay, aku kira setelah menikah dan akan menjadi ibu kau akan lebih dewasa. Ternyata sama saja kekhayalanmu itu semakin ngaco. Bagian tatapan anehnya lebih tepat ku rasa. Ia selalu menatapku dengan pandangan aneh seakan matanya mampu berbicara. ‘Sedang apa kau di sini? Pergi saja!’ Yah… seperti itulah kira-kira,” ujarku dengan sedikit nada geregetan.


“Ah… kamu itu yang tidak peka! Ayo kita bawa ke sana dan nikmati gimbabnya!” Ia membawa piring penuh dengan gimbab menuju ke ruang tamu. Aku mengikutinya sambil membawa semangkok kimchi.


“Yoon-Jin –Ssi… silahkan menikmati hidangannya!” kata Kayla.


Ia hanya mengangguk pelan. Aku mengambil gimbab buatan Kayla dan duduk di seberang Yoon-Jin.


“Emm… rasanya sungguh berbeda dengan gimbab yang biasa kita beli ya, Kay? Rasanya lebih enak di sini. Seakan menyatu dengan suasana. Ini satu potongan gimbab untuk pangeran kecil sang pewaris perusahaan besar….” Aku menyuapi Kayla dan mengelus perutnya yang besar. Kayla dengan lebar membuka mulutnya dan menerima suapan gimbab dariku.


“Tapi, Kay, kapan perkiraan dokter waktu kelahiran bayimu?” tanyaku sambil menikmati gimbab kedua yang masuk dalam mulutku.

__ADS_1


“Perkiraan dokter sih hari ini. Tapi sampai detik ini aku belum merasa apa-apa. Walaupun dari tadi berasa kencang dan sedikit kontraksi tapi masih bisa aku tahan,” katanya sambil nyengir kuda.


Aku yang mendengar perkataan Kayla pun langsung terbatuk-batuk.


“What..? hari ini? Tapi kenapa suamimu malah meninggalkanmu sendirian?” teriakku.


“Sebenarnya ia menolak untuk ke Jepang, tapi karena aku memaksanya dan memastikan kau akan menemaniku hari ini, akhirnya ia setuju untuk ke Jepang.” Kini giliran dia menyuapiku dengan sepotong gimbab.


“Haisssh… kau ini benar-benar sulit dipercaya. Dalam keadaan seperti ini kau tidak punya siapa-siapa santai sekali!” Aku melihatnya dengan tatapan aneh.


“Yaaa…! Pangeran kecil Tante, jangan lama-lama di perut ibumu, ya! Tante sudah tidak sabar untuk menggendongmu,” kataku sambil mengelus perut Kayla


“Aaah… aku juga sudah sangat menginginkannya…,” gumam Kayla.


“Rick, berikan makanan ini kepada ‘Mr.Dream’ mu itu!” Kayla menyodorkan piring berisi kimbab untuk diberikan kepada Yoon-Jin yang masih asik dengan ponselnya.


“Kay, dia punya nama. Yoon-Jin, Kim Yoon-Jin!” bisikku.


“Aaa… aku seperti pernah mengalami percakapan ini. Waktu dulu kita jalan-jalan di alun-alun, iya, kan? Kenapa kamu selalu berurusan dengan laki-laki yang masuk dalam mimpimu, sih!” gumam Kayla agak keras.


Sontak aku menutup mulutnya agar tidak melanjutkan kata-katanya karena sudah pasti Yoon-Jin akan dapat mendengar apa yang Kayla katakan.


“Aaw… Ricka, perutku sakit!” suara Kayla tertahan dengan tanganku.


“Yaaa… jangan berusaha membohongiku, ya! Kalau aku melepaskan tanganku kau pasti akan teriak, iya, kan?” Aku berbisik di telinga Kayla.


“Ah... beneran Rick... perutku tiba-tiba sakit…!” rintih Kayla. Aku melihat wajahnya yang berubah serius dan kemerahan dihiasi dengan keringat dingin di dahinya. Perlahan aku membuka tanganku.


“Kay… kau serius? Apanya yang sakit, Kay? Aku harus bagaimana? aduuh... Apa yang harus aku lakukan?” Aku mulai panik melihat Kayla meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya.


“Yoon-Jin-ah ... tolong…!” teriakku memanggil Yoon-Jin. Mendengar namanya dipanggil ia kembali menatapku.


“Wae… wae...?” Ia sedikit panik melihatku hampir menangis.


“Kayla… sepertinya akan melahirkan!” Aku sedikit berteriak.


“Mwoo? Sekarang?” Ia semakin panik.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang ia langsung menggendong Kayla dan keluar dari apartemen. Yoon-Jin dengan sigap mengemudikan mobilnya. Aku melihat dress yang digunakan Kayla sudah basah mungkin air ketubannya sudah pecah. Aku tak kalah panik melihat Kayla yang begitu merasa kesakitan. Sampai di depan rumah sakit kami langsung disambut dengan petugas UGD. Aku segera mengambil inisiatif untuk menghubungi suami Kayla yang kemarin sempat memberiku sebuah kartu nama dan ia memastikan akan segera pulang. Kami dibawa ke ruang bersalin. Aku dan Yoon-Jin masih menunggu di depan ruangan.


__ADS_2