
Sepertinya hari ini Yoon-Jin sangat bahagia. Terlihat ketika ia hendak menuju ke kampus, ia menuruni anak tangga dengan penuh langkah semangat dan senyum manisnya tak henti-henti menghiasi wajahnya.
Kami bertemu di ujung tangga lantai dasar. Aku sengaja menyapanya karena perilakunya sangat menarikku hari ini,
“Kau terlihat bersemangat sekali hari ini.” Ia terlihat melebarkan senyumannya sembari menatapku, tatapan yang lebih hangat dari udara awal musim semi ini.
“Ehmm… apa kau ingin ikut bersamaku?” Ia melihatku dengan senyumnya.
“Mwo?? Apa aku tidak salah dengar?” Aku terkejut dengan ajakannya.
“Wae? Aaa… lebih baik kau jawab tidak mau, dari pada itu merusak hubunganmu dengan hyung.” Kemudian ia melangkahkan Kaki menjauhiku.
“Aaah… tunggu Yoon-Jin-ah... mau… mauu…” seruku.
“Yaa… apa kau tidak minta ijin pada oppa-mu dulu?”
“Aigoo… sudah berapa kali aku bilang kalau aku dengan Kak Ji-Sung tidak mempunyai hubungan apa-apa. Aku nyaman berada di dekatnya. Itu saja!”
“Terserah lah... cepat siap-siap aku tunggu di mobil. Lima menit dari sekarang!”
Sekian detik kemudian aku langsung lari menaiki anak tangga. Dengan menggunakan celana jins dan switter tidak begitu tebal serta tas selempang aku pun berlarian menuju mobil Yoon-Jin. Tanpa aba-aba dari pemilik mobil pun aku langsung memasuki mobilnya.
“Tidak kah kau bisa berdandan lebih feminin sedikit? Kenapa pakaianmu begitu terus dari awal sampai ke sini hingga setelah berbulan-bulan di sini?” Ia menyalakan mesin mobilnya.
“Isssh… aku tidak ingin merubah penampilanku walaupun aku berada jauh dari komunitasku. Beginilah diriku sebenarnya!” jawabku dengan santai sambil mengucir rambutku ke belakang.
“Emm… lebih baik terurai saja…!” Ia merampas ikat rambutku.
“Yaa…! Aku tidak terbiasa mengurai rambutku di depan banyak orang…!” aku berusaha merebut ikat rambutku yang dirampas Yoon-Jin.
Betapa terkejutnya aku ketika ia justru membuangnya keluar mobil.
“Apa yang kau lakukan, ha?” teriakku.
Ia hanya tersenyum tipis melihatku manyun.
Aku menatap keluar jendela mobil. Terlihat banyak orang lalu lalang baik menggunakan bus maupun berjalan Kaki.
“Aah… sungguh indah kota ini. Mungkinkah aku bisa menikmati ini setiap hari? Jikalau ayah dan bunda sudah menyelesaikan masalah mereka, akankah aku akan kembali ke tempat asalku?” aku bergumam pada diriku sendiri.
“Kenapa kau melamun?” Yoon-Jin mengejutkan lamunanku.
“Anniya… aku hanya menikmati suasana kota ini. Aku punya firasat kalau sebentar lagi aku akan meninggalkan kota ini,” kataku
“Aigoo… kau ingat rumahmu juga akhirnya. Aku kira kau begitu menikmati tinggal di sini,” Ia tersenyum puas mengejekku.
“Ne… aku memang menikmati berada di sini. Tapi ada yang aku rindukan di Indonesia.”
“Nu-gunde? Woaah, apa kau punya pacar juga di Indonesia? Yaa… kenapa kau rakus sekali, punya pacar di Indonesia dan di sini, ha?”
(Nu-gunde?: siapa?)
“Yaa! Aku heran kenapa kau tiba-tiba saja secerewet ini? Hmmm… berbulan-bulan di sini baru kali ini aku melihat kau secerewet ini,” teriakku. Aku hanya meliriknya yang sedang manyun melihatku.
Kami tiba di depan sebuah studio musik tidak tahu namanya karena semua tulisan di depannya berhuruf hangeul. Kalau tidak salah Yoon-Jin menyebutnya Red House. Tampak seperti kios namun terkesan mewah karena catnya berwarna merah menyala berkombinasi silver.
Tampak suasana masih sepi. Namun terlihat ada beberapa mobil sedan terparkir di sana. Tanpa disuruh aku mengikuti langkah Yoon-Jin yang berjalan di depanku. Begitu memasuki ruangan terlihat beberapa gadis berwajah oriental yang bekerja sebagai customer service.
Setelah bercakap-cakap sebentar Yoon-Jin memasuki sebuah ruangan yang terdapat di paling pojok sebelah kanan.
__ADS_1
Yoon-Jin langsung membuka pintu ruangan itu dan betapa terkejutnya aku ketika memasuki ruangan itu.
Terdapat empat pemuda lain yang berada di dalamnya. Mereka sedang memegang tugas masing-masing. Ada yang memegang microphone, piano, bass, dan gitar.
Woaah… mimpi apa aku semalam bertemu dengan makhluk Tuhan seindah mereka. Aku sempat melongo dan membelalakkan mataku beberapa saat ketika melihat mereka yang sekarang sedang tersenyum menatapku.
“Yoon-Jin, sebaik inikah kau kepadaku mengajakku ke tempat seperti ini?” bisikku dalam hati.
“Yaaa! Bisakah kau bersikap biasa saja? Issh… memalukan!” Yoon-Jin menggertakku menyadari aku yang dari tadi melongo melihat teman-temannya.
“Annyeonghaseo… Na neun Ricka imnida.”
Aku memperkenalkan diriku sembari melemparkan senyum semanis-manisnya.
“Annyeong….” Mereka menjawab serempak.
Aku mendengar percakapan Yoon-Jin dengan teman-temannya yang intinya meminta Yoon-Jin mengenalkan mereka kepadaku.
“Ricka… kenalkan ini Park Hae-Sung sebagai vokalis, Kang Jung-Su memegang piano, Cha Young-Suk memegang bass, dan Baek Dae-Young memegang gitar,” kata Yoon-Jin disusul anggukan para teman-temannya.
“Mannaseo-pangap-seumnida...,” seru mereka hampir bersamaan.
(Mannaseo-pangap-seumnida: senang berkenalan denganmu)
Aku seperti berada di taman dengan penuh bunga bermekaran. Mereka sangat memesona. Aah… mungkin saja mereka bisa terkenal lebih cepat karena wajah mereka yang luar biasa ini. Walaupun berbalut kaos putih sederhana tapi aura mereka sungguh sangat menarik hati, khususnya bagi kaum hawa sepertiku.
“Kau duduk sini. Lihat kami latihan dilarang komen dan bersuara apa pun. Arrha?” Yoon-Jin menatapku tajam kemudian melanjutkan kalimatnya,
“Dan juga, jangan melihat hal yang tidak pantas kau lihat!” Ia bersuara tepat ditelinga kananku membuat bulu kudukku merinding. Aku mengangguk ringan.
“Hana Deul Siet...” Hae-Sung sebagai vokalis mengaba-aba temannya.
Seketika suara menggema di dalam ruangan. Terdengar nyaring namun sangat enak di dengar. Alunan musik yang terbentuk dari kombinasi drum, piano, bass, serta gitar begitu indahnya. Ditambah lagi dengan suara Hae-Sung yang lembut dan nyaris mampu membelah hati seseorang.
Aku tidak begitu paham dengan lirik yang di sampaikan sang vokalis itu. Tapi yang aku rasakan sungguh sedih, alunan lagu yang menemani seseorang yang telah mengalami kegagalan cinta.
“Are you crying?” tanya sebuah suara yang menyapaku. Ternyata itu suara Hae-Sung.
“Aah... Can you speak Engslih?” Aku mengusap air mataku.
“Not very good….” Ia memperlihatkan giginya yang berjajar rapi.
“Good song…but so depressing!” Aku masih mengusap air mataku.
“A song written by him….” Hae-Sung melirik Yoon-Jin yang beberapa kali terlihat membetulkan posisi alat drumnya.
Hae-Sung tersenyum manis melihatku. Aku pun tersipu melihat tatapan teduhnya itu. Aku sangat yakin, meskipun sikapnya begitu lembut Park Hae-Sung ini termasuk namja yang pandai memikat yeoja. Ia benar-benar menarik.
(namja: laki-laki)
“If you are interested to listen to the next song?” Ia kembali melihatku. Aku tidak kuat untuk terus menatapnya justru aku menolehkan pandanganku ke arah Yoon-Jin.
Tatapan kami bertemu, ia terlihat kesal terhadapku. Mungkin ia masih mengira aku menggoda Hae-Sung. Oh Tuhan, sama sekali aku tidak berniat begitu. Hae-Sung lah yang pertama kali mendekatiku.
“Hello?” suara itu terdengar lagi.
“Aaah…of course… i like to hear it…,” aku terbata-bata. Tiba-tiba saja suara drum Yoon-Jin terasa menggema dengan penuh semangat. Ah tepatnya penuh emosi di dalamnya. Musik kembali terdengar namun terasa lebih bergairah.
Hae-Sung menyanyikan bait demi bait begitu lembut namun berenergi. Aku paham sedikit-sedikit dari kata dalam liriknya. Lagu ini bercerita tentang orang yang saling jatuh cinta. Setiap hari terasa lebih singkat dari sebelumnya. Hari yang begitu indah jika itu bersamamu. Malam yang dingin terasa lebih hangat ketika aku melihatmu.
__ADS_1
Yaaa… seperti itulah barisan bait yang sedikit dapat aku pahami. Hae-Sung membawakan lagu ini terasa benar-benar ia sedang jatuh cinta. Tak sekali dua kali ia menatapku sambil menunjuk ke arahku saat ia menyanyikan lagu itu.
Beginikah rasanya melihat seseorang yang memesona bernyanyi mesra tepat dihadapan kita? Aku hampir pingsan dibuatnya.
Hae-Sung mengakhiri lagunya dengan coda yang sangat lembut membuat bulu kuduk yang mendengarnya berdiri. Aku menyambut dengan tepuk tangan yang membahana.
“Daeeebaaakkk! So nice!” Aku mengembangkan senyum semanis-manisnya.
“Hae-Sung… nice voice, Chosemnida…,” pujiku.
“Thanks, kamsahamnida,” jawabnya sambil melempar senyum ke arahku.
“Ricka sepertinya kita harus pulang!” Yoon-Jin menarikku keluar.
“Yaa… kalian baru dua lagu…,” bisikku.
“Isssh… ayo cepat pulang…!” Yoon-Jin masih berusaha menarikku. Ia terlihat pamit kepada teman-temannya yang melihatnya dengan pandangan aneh.
“Annyeong hi-gyeseyo!” seruku pada teman-teman Yoon-Jin dengan melambaikan tangan kiriku karena Yoon-Jin masih menarik tangan kananku.
(Annyeong hi-gyeseyo: selamat tinggal)
“Annyeong hi kaseyo… kod poja!” jawab mereka hampir bersamaan.
Yoon-Jin berhasil menarikku keluar studio. Sampai di depan mobilnya ia melepaskan tanganku.
“Yaaa! Apa selalu begitu perilakumu di depan laki-laki, ha?” teriak Yoon-Jin hampir merusak gendang telingaku.
“Aigooo… bisa tidak kalau bicara pelan-pelan? Kau kenapa segitu marahnya?” Aku melihatnya dengan mata penuh emosi.
“Aisssh… asal kau tahu Hae-Sung itu playboy!”
“Issh... apa peduliku? Dia playboy atau playgirl aku tidak masalah! Memangnya setiap aku melihat atau dekat dengan laki-laki kau langsung mengira aku menyukainya? Apakah aku sebegitunya di matamu?” Aku mendesah kasar.
“Kalau begitu mengapa matamu berbinar-binar melihatnya? Mengapa wajahmu memerah ketika bicara dengannya? Haa…?” investigasinya.
“Aigooo… pusing kepalaku melihat sikapmu. Apa aku salah grogi bicara dengan namja setampan dia? Wanita mana pun juga pasti akan mengalaminya. Lagi pula kenapa kau sampai sewot seperti ini? Apa aku mengganggumu latihan?”
“Ne… kau mengganggu sekali!”
“Isssh… baru saja kau mengajakku ke tempat paling indah di Korea, tapi kenapa kau buru-buru mengajakku pulang? Sungguh disayangkan!” bisikku.
“Palliii…!!” teriaknya dari dalam mobil. Aku mendengus kasar ke arahnya.
(Palliii...!!: Cepaat...!!)
“Apa kita langsung pulang?” tanyaku saat ia mulai mengemudikan mobilnya.
“Apa kau tak ingin berlama-lama denganku?” Aku tertegun mendengar pertanyaanya.
Sungguh pertanyaan teraneh yang pernah aku dengar dari bibirnya. Aku melihatnya sekilas, pandangannya lurus ke depan. Tidak ada ekspresi di sana.
Aku menunduk alias bingung mau menjawab apa. “Aa… anniyo… aku bosan di rumah…,” jawabku terbata-bata.
Yoon-Jin tersenyum tipis. “Apa ada yang ingin kau kunjungi saat ini?” Ia melihatku, pandangan kami pun bertemu.
“Ada… Namsan Seoul Tower…!” teriakku tertahan.
“Woaaah… apa jika berhubungan dengan yang kau sukai matamu selalu berbinar seperti itu?” Ia kembali melihatku sekilas. Sekitar tiga puluh menit kami tiba di stasiun Myeondong sengaja kami berhenti di sini untuk menikmati makan siang.
__ADS_1