
Sampai rumah aku membantu tante Nari untuk mempersiapkan pesta kejutan untuk Mi-Yun. Kami menyiapkan sebuah ruangan yang berisi banyak balon dan pita di sana. Tadi di pusat perbelanjaan aku menyempatkan membeli cokelat kesukaan Mi-Yun sebagai kado ulang tahun dariku.
Dari kejauhan terlihat lilin-lilin yang di letakkan di samping kanan kiri lorong pasti membuat Mi-Yun penasaran dan mengikuti arah lilin itu menyala. Otomatis mengarahkannya ke sebuah ruangan tempat pesta kejutan ulang tahun untuknya. Saat ia masuk sepenuhnya ke dalam ruangan tersebut.
Duooooor…
suara petasan mini dan terompet diiringi lampu menyala dan ucapan ulang tahun menggema ke seluruh ruangan. Aku tahu betapa terkejutnya Mi-Yun melihat pesta kejutan spesial untuknya.
“Aaah… gomawo….” Terlihat air matanya hampir jatuh di pipinya.
Om Shoni dan Tante Nari menghampirnya dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
“Mi-Yun, Eomma sudah memasakkan semua makanan kesukaanmu ada Miyeong-Guk, Bulgogi, Gimbap, dan lain-lain,” kata Tante Nari masih memeluk Mi-Yun.
“Saengil chukahamnida!” Kami bergantian mengucapkan ulang tahun pada Mi-Yun.
(Saengil chukahamnida: Selamat Ulang Tahun)
Kami semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Korea. Sungguh momen paling hangat di rumah ini. Kami semua tersenyum ceria dalam pesta sederhana ini. Dalam akhir pesta diadakan permainan perang dansa yang dipimpin oleh Mi-Yun.
“Sekarang kita main perang dansa, kita bagi dua regu yang terdiri regu perempuan dan laki-laki. Perempuan terdiri dari Eomma, Ricka Eonni, dan Yoon-Hee Eonni. Dan dari laki-laki ada Appa, Ji-Sung Oppa dan Yoon-Jin Oppa. Dengan bersamaan kalian harus mengambil warna yang telah disediakan. Bagi warna yang cocok satu sama lain maka ia akan menjadi pasangan dansa. Biar seru pasangan akan berganti setiap dua menit setelah musik yang aku putar berganti. Bagaimana? Setuju?” usul Mi-Yun terlalu bersemangat.
Mau tidak mau kami terpaksa menuruti permintaan Mi-Yun. Aku memilih kertas berwarna ungu, Tante Nari berwarna putih, dan tinggal warna hijau yaitu Yoon-Hee. “Dalam hitungan ketiga. Kalian berbalik dan angkat tangan kalian tunjukkan kertas warna apa yang kalian pilih. Okeey?” seru Mi-Yun.
“Ne...” jawab kami serempak.
“Hana... dul… sit… berbalik dan angkat… jajaaaaannnng!” terdengar suara Mi-Yun yang keras membahana.
(Hana... dul… sit…: satu...dua...tiga)
Kami bersama-sama mengangkat kertas dan melihat ke depan siapa pasangan dansa masing-masing.
“Aku sudah tebak, kau pasti memilih warna putih,” Om Shoni menatap lurus yang disambut senyum manis oleh isterinya.
“Iuuuhh… so sweeet,” teriak anak-anaknya serempak.
Aku melihat Kak Ji-Sung tersenyum manis sambil melihatku yang juga membawa kertas berwarna ungu. Ia menghampiriku, musik telah berputar beberada detik yang lalu. Terdengar musik yang lirih dan romantis. Kini dihadapanku ada Kak Ji-Sung namun ada yang aneh dengan perasaanku. Ada sesuatu yang mengganjal di sana. Tapi sekuat tenaga aku menepis semua perasaan aneh itu. Aku berusaha tersenyum selebar mungkin untuk menunjukkan betapa bahagianya aku.
Ketika pandanganku dengan Yoon-Hee menyatu, aku merasa Yoon-Hee akan membunuhku seketika itu juga. Pandangannya begitu benci melihatku bersama dengan Kak Ji-Sung. Aku semakin tidak tahan dengan situasi ini. Saat berdansa entah sengaja atau tidak Yoon-Hee menabrakku.
“Ricka… Kwenchana?” Kak Ji-Sung menolongku. Aku hanya mengangguk.
__ADS_1
“Ricka! Waktumu berdansa sudah habis. Ini sudah lewat lima menit!” Yoon-Hee mendesakku kemudian mendekati Kak Ji-Sung. Aku melihatnya dengan ekspresi terkejut. Ketika Yoon-Hee memeluk pundak Kak Ji-Sung. Aku menatap penuh dengan keanehan di antara mereka berdua.
Tiba-tiba Yoon-Jin yang tadinya diam saja menggapai tanganku dan memeluk pinggangku untuk mendekatinya. Musik kembali mengalun dengan lembut. Pandangan kami menyatu. Menyatu bersama musik yang memenuhi ruangan pesta.
Perasaan yang sangat berbeda ketika berdansa dengan Kak Ji-Sung tadi. Genggaman di tangan dan pinggangku begitu erat serta tatapan tajamnya seakan mengatakan untuk tidak akan melepasku. Aku merasa bingung dengan situasi ini. Ada apa dengan Yoon-Jin yang tiba-tiba memperlakukanku seperti ini? Bukannya dia tahu aku dan Kak Ji-Sung mempunyai hubungan dekat? Matanya seakan mengurungku dan tidak memperbolehkanku untuk melihat ke arah lain.
Sejenak aku berusaha melirik ke arah Tante Nari dan Om Shoni. Mereka berdua berdansa dengan penuh romantis mengalahkan pasangan putra dan putrinya. Aku melihat jutaan cinta yang terpancar dari kedua pasang mata mereka. Aku tersenyum kecil melihat om dan tante berdansa begitu romantisnya. Kemudian pandanganku beralih ke pasangan satunya yaitu Yoon-Hee dan Kak Ji-Sung.
“Apa-apaan ini...,” bisikku lirih. Yoon-Jin menatapku dan melihat apa yang aku lihat. Tatapan antara Kak Ji-Sung dengan Yoon-Hee sungguh tatapan yang berbeda. Yoon-Hee menatap Kak Ji-Sung seolah mengatakan bahwa ia sangat merindukan momen seperti ini. Sama halnya dengan Kak Ji-Sung. Kak Ji-Sung tidak pernah menatapku seperti itu.
Ada apa dengan mereka? Apa sebelumnya mereka pernah dekat? Atau selama ini Yoon-Hee membenciku karena aku berada di tengah-tengah hubungan mereka? Ah… ini sungguh tidak asik. Anehnya lagi, aku bukan marah karena aku cemburu, justru aku marah karena aku merasa dibohongi. Kenapa aku tidak cemburu ketika kekasihku melihat wanita lain selama itu?
Kemungkinan besar Yoon-Jin mengetahui apa yang aku pikirkan. Kemudian ia berkata, “Tidakkah bisa kau hanya fokus berdansa denganku?”
“Nee…?” Aku terkejut mendengar perkataan Yoon-Jin. Ia melihatku dengan tajam sambil mengangkat salah satu alisnya.
Aku merasa gugup dengan tatapannya seolah hendak memakanku. Karena terlalu gugupnya, aku tersandung kakiku sendiri ketika hendak melangkah. Dengan reflek Yoon-Jin menangkapku. Kini wajahnya sangat dekat denganku. Jantungku seakan tidak bekerja dengan baik. Tetap berirama namun terasa lebih cepat dari keadaan normal.
Aku melepaskan tangannya yang menangkapku, dan berusaha berdiri sendiri. Namun aku salah, aku kesulitan menjaga keseimbangan tubuhku. Yoon-Jin kembali menarik tubuhku mendekapku ke pelukannya.
Seketika itu juga aku merasa telingaku dekat dengan sebuah suara yang sangat familiar. Detakan jantung yang pernah aku dengar nadanya. Sama dengan degupan jantungku. Berirama tapi dengan nada yang sedikit lebih cepat. Aku seperti berada dalam dimensi lain. Mengulang kembali memori yang tersimpan rapi dalam benakku.
Tiba-tiba alunan musik berhenti.
“Yaaa… ! Kenapa semuanya mengacuhkanku, haa?” teriak Mi-Yun keras sehingga membuat para pasangan dansa tersadar dan kembali ke situasi yang sebenarnya.
Kami semua tertawa dan minta maaf karena tidak memperhatikan Mi-Yun. Karena malam sudah hampir larut kita memutuskan untuk segera istirahat. Baru saja aku akan menaiki tangga Kak Ji-Sung menarikku ke taman belakang rumah. Tak lupa ia memakaikanku jaket tebal karena udara di luar sangat dingin.
“Apa kau bersenang-senang malam ini?” Ia melihatku dengan jarak dekat. Hawa yang sangat dingin membuat suara yang ia keluarkan mengeluarkan seperti kepulan asap.
Aku hanya terdiam melihatnya. Tanpa reaksi apa-apa.
“Wae…wae…? Kenapa kau melihatku seperti itu?” lanjutnya.
“Seharusnya itu adalah pertanyaanku, bukan?” Kini aku menatapnya dengan pandangan serius.
“Mwo-ya? Ada apa denganmu?”
“Kak Ji-Sung… entah kenapa sampai sekarang aku tidak menemukan jawaban kenapa Yoon-Hee begitu membenciku. Dan sekarang sepertinya ada tanda yang baru aku ketahui tadi. Yoon-Hee menyukaimu Kak….”
“Aaa… Anniyo… Yoon-Hee itu sudah seperti dongsaeng-ku, kok!” Ia menghindari tatapan mataku.
__ADS_1
(dongsaeng:adik)
“Tolong, alangkah baiknya kalau tidak ada yang kita sembunyikan, Kak. Lebih sakit rasanya jika semua ini berawal karena kebohongan dan berakhir dengan kebohongan pula.”
“Ricka… perasaan cemburumu sungguh keliru!”
“Anniyo…aku tidak cemburu. Dan bahkan jika kau memang benar ada hubungan dengan Yoon-Hee, aku tidak akan cemburu!”
“Wae… apa mungkin….” Ia tak berani melanjutkan perkataannya.
“Selama ini aku berusaha untuk lebih dekat denganmu, lebih tepatnya memaksakan untuk menyukaimu. Tapi perasaanku selalu berubah-ubah. Perasaanku seperti magnet senama denganmu. Menolakmu dengan sekuat tenaga, walau berusaha aku dekatkan dengan cara apa pun, namun pada akhirnya akan berakhir terpisah. Aku nyaman bersamamu, tapi ada salah satu ruang dari hatiku yang tidak menerima kehadiranmu. Apa itu? Aku tidak tahu… apakah karena seseorang yang membenciku karena terlalu mencintaimu? Ah… aku bingung untuk mengatakannya.” Ujarku panjang lebar.
Aku tak berani menatapnya melainkan menundukkan kepalaku pertanda memohon pamit. Tak ada rasa penyesalan sedikit pun yang aku rasakan saat ini. Aku tak menyangka perasaanku menjadi sangat tegar saat ini mengalahkan rasa penasaran teka-teki yang ada dihadapanku.
Aku berjalan menaiki tangga meninggalkan Kak Ji-Sung yang masih di luar. Suasana sudah sepi kemungkinan yang lain sudah terlelap kecapekan karena pesta tadi. Saat menuju kamarku, aku melihat seseorang yang berdiri dengan gelisah di pintu kamarku yaitu Yoon-Jin.
“Wae…?” Aku melihat Yoon-Jin yang sekarang berdiri bersandar di pintu kamarku.
“Wae…? Mwo-yaa?” Dia balik bertanya.
“Kenapa kau berdiri di depan kamarku? Kalau kau ingin menggunakan kamar mandiku. Masuk saja. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu yang tiba-tiba,” jawabku sedikit nyinyir.
“Anniyo….”
“Geunde… apa yang kau inginkan? Hatiku sedang berada dalam keadaan tidak baik. Jadi ku mohon jangan ganggu aku.” Aku memasang wajah jutek.
“Emmmm… apa hyung marah melihat kita tadi?”
(hyung: sebutan untuk kakak laki-laki oleh adik laki-laki)
“Mwoo? Kenapa marah? Tidak ada alasannya untuk marah. Dan jika kau masih penasaran. Kau bisa tanyakan padanya sendiri.”
Yoon-Jin pergi begitu saja tanpa melihatku lagi. Aku hanya melihat punggungnya yang menjauh dari pandanganku. Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Aku melirik di luar kamarku.
Ternyata salju turun lagi malam ini, aku beralih memikirkan Kayla. Kayla yang terakhir aku temui beberapa bulan lalu sangat berbeda dengan sekarang. Bukan hanya perutnya yang lebih besar, namun segalanya, gaya bicara, fashion, dan semua dalam dirinya. Aku masih tidak bisa menerka apa yang terjadi padanya selama ini. Ia terlihat bahagia sekali bersama dengan suaminya, seakan telah melupakan dosa besar yang ia lakukan tempo dulu.
Jam sudah menunjukkan lebih dari tengah malam. Tapi mata ini tak kunjung mau terpejam.
Setiap aku memejamkan mata, kenapa momen bersama Yoon-Jin terulang kembali? Mengapa seperti aku pernah mendengar irama detak jantungnya? Aroma tubuhnya kenapa sangat familiar di hidungku? Dan jikalau itu ternyata Yoon-Jin, apakah aku terbebas dari kutukkan cinta Andra dan aku mendapatkan kutukkan yang lebih kejam lagi?
Ini akan menjadi hal paling sulit aku bayangkan. Untuk menghadapi perasaanku terhadap Andra yang bertahan bertahun-tahun aku masih sanggup menghadapinya. Tapi kalau untuk menghadapi perasaan ini dengan Yoon-Jin? Ah rasanya tidak mungkin. Ia bahkan lebih kejam dan aneh dari serigala di tengah hutan. Terutama tatapan aneh di matanya itu, sungguh buatku merinding ketakutan. Oh Tuhan, lepaskan aku dari kutukkan ini. Setidaknya jangan pertemukan aku lagi dengan pria berwajah buram itu.
__ADS_1