CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!

CINTAKU BERSEMI DI KOREA...!!
Chapter 23 (Kisah Sedih dari Seorang Laki-Laki yang Ku Sebut Kak Ji-Sung)


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam, hingga berganti hari. Tak terasa aku sudah seminggu di Korea. Belum pernah keluar rumah sekalipun. Semua sibuk dengan ativitasnya, kecuali aku. Aku hanya membuka buku-buku yang diberikan Kak Ji-Sung kepadaku. Sungguh sangat tidak diharapkan berada di tempat seperti ini, membosankan sekali.


Makan malam yang biasa aku lewati bersama keluarga Om Shoni, sikap si kembar yang masih dingin terhadapku, Mi-Yun yang sekarang memperlihatkan kemanjaannya kepadaku, dan sikap kak Ji-Sung yang mengisi hari-hariku walau hanya sebentar.


Dan kabar baiknya, respon tubuhku sangat baik mengenai suhu dan kondisi alam di Korea Selatan ini. Tak lupa hampir setiap jam aku mengoleskan krim pelembab pada kulit wajahku. Aku takut karena belum terbiasa dengan suhu di sini membuat kulitku semakin kering.


“Appa... bolehkah untuk malam ini aku menginap di sini?” tanya Kak Ji-Sung di sela-sela makannya.


“Apakah itu sebuah pertanyaan? Tentu saja, kau boleh menginap sesuka hatimu di sini,” jawab Om Shoni sambil membenarkan kacamatanya.


Selesai makan malam aku tidak ingin langsung ke kamar. Aku berdiri di dekat jendela yang terbuka kain gordin tipis yang berwarna putih tulang. Jendela itu memperlihatkan pemandangan di luar ruangan bagian belakang rumah Om Shoni.


“Apa kau sedang melamun?” Aku terkejut mendengar suara yang tiba-tiba di dekatku.


“Benarkan kau melamun?” terdengar suara itu lagi, ternyata itu adalah suara Kak Ji-Sung.


“Anniya.…” jawabku.


“Mau duduk di sana bersamaku?” Kak Ji-Sung menunjuk ke sebuah kursi panjang berwarna putih. Aku membalas dengan anggukan.


Kami berjalan melalui pintu belakang dan duduk di kursi yang tadi ditunjuk Kak Ji-Sung.

__ADS_1


“Ricka, apa kau bahagia?” Kak Ji-Sung bertanya tanpa melihat ke arahku.


Aku hanya diam mendengarkan pertanyaannya. Bahagia? Apa aku tidak salah dengar? Apakah aku harus menjawab iya, atau tidak? Aku sendiri bingung menjawabnya.


Kak Ji-Sung melanjutkan pertanyaannya, “Bisa kah kau melihat ke atas sana?” Ia mendongak ke atas. Bintang-bintang bertebaran sangat indahnya. Berkedip dengan cantik seakan tergoda dengan sepoi angin musim gugur.


“Di sana, appa dan eomma menungguku.” Ia masih melihat lurus ke atas.


“Ne…?” Aku sedikit terkejut dengan perkataannya. Appa dan eomma? Lalu Tante Nari dan Om Shoni itu…?


“Aku bukan anak kandung Shoni Ajussi. Aku hanya di asuh oleh mereka….” Ia menelan salivanya.


(Ajussi\=paman/om)


“Tepat dua puluh tahun yang lalu, aku adalah seorang anak tunggal dari seorang ayah yang memulai usahanya bersama dengan Shoni ajussi. Bisa dibilang appaku adalah teman seperjuangan Shoni ajussi. Hingga suatu hari perusahaan yang appa dan ajussi bangun dengan darah keringat mulai berkembang dengan pesatnya. Tapi ada perusahaan besar yang iri atas keberhasilan perusahaan tersebut, sehingga mencoba menjatuhkan perusahaan yang appa dan Shoni ajussi bangun dengan susah payah. Appa-ku dituduh mencuri file penting dari perusahaan tersebut dan Shoni ajussi dituduh sebagai mata-mata yang mengakibatkan kerugian sangat besar pada perusahaan kami. Hingga suatu hari appa di telpon oleh seseorang yang tak dikenal yang mengatakan kalau ia punya bukti untuk masalah yang sedang menimpanya,”


–ia berhenti beberapa detik sambil kemudian menghempaskan napasnya seakan bagian selanjutnya adalah bagian yang terberat–


“Ketika dalam perjalanan menemui orang tersebut, appa mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya meninggal.” Terasa berat dalam perkataannya yang terakhir.


Aku melihat matanya memerah walaupun hanya disinari lampu dari sudut pagar, aku masih dapat melihat mata yang penuh kesedihan itu menatapku. Aku hanya menepuk pundaknya.

__ADS_1


“Lalu, sebulan kemudian eomma-ku bunuh diri.” Aku merasa setitik air meluncur dari ekor mataku, walau sudah berusaha aku tahan dari tadi. Aku juga dapat melihat air matanya menetes di salah satu pipinya. Ingin sekali aku menghapus air mata itu, namun aku tak kuasa. Bagaimanapun laki-laki yang di sampingku ini sedang sangat sedih mengingat masa lalunya.


“Kak Ji-Sung... aku tak tahu kau mempunyai masa lalu yang sangat menyakitkan. Bahkan sepertinya aku merasakan hal yang sama. Kini aku merasakan sendirian di sini. Aku sangat merindukan ayah dan bunda yang jauh di sana. Seakan aku ingin berteriak, apakah mereka tidur nyenyak? Ataukah makan dengan baik? Bahkan sampai detik ini sama sekali aku belum tahu kabar mereka,” ujarku dan terduduk lesu.


“Ricka-ya, kau jangan pernah merasakan sendirian di sini. Masih ada aku, appa, oemma, Mi-Yun, Yoon-Jin, dan Yoon-Hee yang akan selalu mendukungmu. Percayalah dengan senyumanmu itu. Segala masalah yang menghampirimu akan selesai begitu saja.” Ia melihatku dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Aku mengangguk pelan. Perlahan ia menggenggam punggung tanganku. Aneh memang, cuaca menurutku sangat dingin tapi tangannya terasa hangat menyentuh tanganku.


“Aku ada sesuatu untukmu, tunggu sebentar, ya?” Kak Ji-Sung beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah hendak mengambil sesuatu. Tak lama kemudian aku menerima sebuah kotak berwarna cokelat muda dengan pita berwarna merah. “Ini untukmu, buka saja.”


Perlahan aku membuka kotak itu dan aku melihat sebuah smart phone di dalamnya. “Woaah….” mataku langsung berbinar-binar melihat isi dari kotak itu. Aku memang sangat membutuhkan ini.


“Apakah ini untukku?” tanyaku tidak percaya.


“Iya, pasti selama ini kau sangat bosan. Mian... baru memberi hadiah ini sekarang.”


“Tapi, bagaimana kau tahu aku sangat membutuhkan ini?”


“Tentu, jaman sekarang apa ada orang yang bisa hidup tanpa smart phone?”


“Khamsahamnida Kak Ji-Sung!” Aku melihat ke arahnya dengan senyuman yang paling manis yang pernah aku punya.

__ADS_1


(Khamsahamnida\=terimakasih)


Ia membalas senyumku serta mengacak poniku dengan lembut. Kami pun tertawa sambil menatap bintang yang terasa semakin malam datang, semakin indah.


__ADS_2