
Tiga hari sudah terlewati dengan serumah bersama Yoon-Jin. Sikapnya tak berubah setelah kejadian terakhir bersamanya. Tatapan matanya terlihat semakin tidak menyukaiku. Sebaliknya denganku, aku selalu ingin melihatnya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah ia sudah sembuh? Aku tidak bisa mencegah keingintahuanku terhadapnya. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan perasaan ini. Aku anggap Yoon-Jin seperti saudara seperti Om Shoni menganggapku sebagai saudara pula.
Setelah hari itu, sama sekali aku tidak pernah mengucap sepatah dua patah kata terhadap Yoon-Jin. Entah harusnya aku yang minta maaf duluan atau sebaliknya. Kita hanya saling melihat tanpa memiliki kemampuan menfsirkan arti dari tatapan kita.
Sebenarnya Mi-Yun dan Yoon-Hee sudah pulang dari kemarin. Mi-Yun setiap pulang dari sekolah langsung ke kamar tanpa keluar-keluar lagi kecuali makan. Dia bercerita kalau di sekolahnya sedang ada ujian. Sedangkan Yoon-Hee juga jarang terlihat. Ia pulang larut dan sampai rumah langsung masuk kamarnya. Yoon-Jin pun juga begitu. Ah… Sungguh, jikalau diminta untuk tinggal bersama mereka. Rasanya aku tak sanggup.
Waktu yang aku nanti-nantikan datang juga. Kepulangan Kak Ji-Sung aku anggap sebagai alasan aku bahagia hari ini. Tidak ada lagi kesepian.
“Bogosshippo....” Ia menghampiriku dan memelukku. Aku terkejut menerima pelukannya.
(Bogosshippo: Aku merindukanmu)
“Wae… kau tak merindukanku?” Tatapannya aneh melihatku ketika aku berusaha melepas pelukannya.
“Aah… bukan begitu, aku hanya sedikit terkejut,” jawabku sekenanya.
Ia hanya tertawa sambil mengacak poni hingga menutupi mataku kemudian meraih kedua pipiku dan didekatkan ke wajahnya sambil berkata,
“Cuteee…” sembari mencubit kedua pipiku. Sontak wajahku merona dibuatnya.
“Seharian ini aku ingin bersamamu….” Ia menatapku dengan pandangan penuh arti.
“Na-do….” Aku membalas tatapannya.
__ADS_1
(Na-do: Aku juga)
Aku yakinkan diriku bahwa sekarang laki-laki yang aku cintai adalah Kak Ji-Sung. Walaupun sebenarnya aku masih bingung dengan status hubungan kami. Biarkan hubungan ini berjalan layaknya air yang mengalir. Kak Ji-Sung mengajakku ke sebuah cafe terdekat dari rumah. Aku memesan latte dan Kak Ji-Sung memesan cappucino.
“Bagaimana hari-harimu bersama Yoon-Jin?” Kak Ji-Sung memulai percakapan yang sebenarnya membuatku malas untuk membahasnya.
“Yoon-Jin? Wae… Nothing special,” jawabku sambil menyeruput latte-ku yang mulai dingin.
Ia tersenyum manis melihatku kemudian berkata, “Aaah… aku hanya ingin tahu, bagaimana responnya ketika serumah berdua denganmu. Aku hanya khawatir Yoon-Jin memperlakukanmu dengan tidak baik, karena kedekatan kita. Kau lihat sendiri, Yoon-Jin tidak begitu menyukaiku.” Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela cafe.
“Kalau boleh tahu, apa alasannya, Kak?” tanyaku penasaran.
“Ketika ia mengetahui bahwa aku bukan kakak kandungnya. Sikapnya selalu berubah kepadaku. Ia seakan iri apa yang aku capai. Terlebih, ia selalu menolak apa yang appa harapkan terhadapnya. Ia seakan membuatku mengambil sesuatu yang tidak berguna baginya.”
“Aku kurang paham, Kak.” kataku.
Aku mulai paham apa yang dimaksud Kak Ji-Sung. Sebegitu burukkah hubungan mereka? Pantas saja, apa karena aku dekat dengan Kak Ji-Sung sehingga membuatnya begitu tidak menyukaiku?
“Ricka… Apa kau sedang memikirkan Yoon-Jin?” aku tersentak dari lamunanku.
“Aa… Anniyo....” Aku gugup dengan pertanyaan yang Kak Ji-Sung.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke suatu tempat untuk menghabiskan sore ini?” Ia menegak habis cappucinonya. Aku menganggukan kepalaku tanda setuju.
__ADS_1
Kami menuju ke tepi Sungai Han yang terlihat begitu tenang. Aku melihat jembatan yang melintang dan kendaraan lalu lalang di sana. Udara yang begitu semilir membuatku ingin melepaskan semua beban di hatiku.
“Begitu indah bukan? Melihat sinar jingga, aliran sungai yang tenang, angin yang seakan berbisik ceria, sungguh menenangkan,” Kak Ji-Sung menyapu pandangannya di sekitar kita berdiri.
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Aku terpana dengan keindahan yang ada di depan mataku. Aku menatap laki-laki yang sekarang berdiri di dekatku. Ah… Aku masih belum mengetahui perasaanku sekarang. Semakin aku memaksakan perasaanku untuk sepenuhnya dengan Kak Ji-Sung semakin perasaan ini menjauh dari apa yang aku harapkan. Aku berharap akan segera menemukan laki-laki yang akhir-akhir ini selalu hadir dalam mimpiku.
Aku memejamkan mataku. Melihat bayangan siapa yang ada di dalam mataku. Aku memulainya dengan Andra. Aku tetap tidak bisa membayangkan wajahnya, bahkan setelah ratusan kali melihat foto di akun Facebook-nya. Aku beralih ke Kak Wisnu tapi hasilnya zonk. Aku juga tidak menemukan sosok yang selalu memelukku dalam pelukannya.
Dan terakhir aku mencoba membayangkan Kak Ji-Sung. Menikmati seluruh kenangan singkat bersamanya, aku memang melihatnya dalam bayanganku bahkan aku melihatnya sangat dekat denganku. Ia seperti menatapku tak henti, namun bukan sosok ini yang ku cari, atau mungkin sosok itu akan datang padaku suatu hari nanti? Apakah di Korea? Ataukah saat aku kembali ke Indonesia nanti?
Pertanyaan yang aku buat dan sulit aku temukan jawabannya. Perlahan aku membuka mataku, tepat di depan wajahku kini terdapat wajah Kak Ji-Sung. Aku terkejut bukan main dibuatnya. Ada apa ini? Tatapannya begitu menusuk jantungku. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku terpaku, tersipu, dan bingung apa yang harus aku lakukan. Apa ini adegan romantis di drama Korea yang selalu membuat deg-deg an penontonnya? Haduhh… Secepat inikah?
Waktu berjalan begitu lambat, detik perdetik seolah merangkak membuat tubuh kak Ji-Sung semakin mendekatiku. Ah ini tidak bisa… ! Aku tidak mudah melakukan hal ini. Ini hal konyol. Wajah itu semakin mendekat dan mendekat hingga akhirnya….
Ddrrttt… drrrttt… drrrttt….
Getaran ponsel yang kak Ji-Sung pegang membuat kami tersadar dan menjauh seketika. Haisssh… Aku terselamatkan dari posisi yang sangat sulit. Adegan yang hampir terjadi itu nyaris membuatku ingin bangun dari semua mimpi indahku. Kenapa perasaan ini muncul lagi? Perasaan seolah menolak apa yang aku inginkan.
“Yeoboseyo….” Kak Ji-Sung menjawab teleponnya.
Percakapan selanjutnya menggunakan bahasa Korea yang sulit aku mengerti. Dari mimik muka Kak Ji-Sung terlihat kesal. Aku berusaha tidak bertanya mengenai sang penelpon tadi. Aku tidak mau terlalu mencampuri urusan pribadinya. Entah apa hubungan yang terjalin ini, bagiku belum begitu jelas. Aku tidak ada keberanian untuk melanjutkannya. Aku biarkan semua perasaanku berhembus layaknya angin musim gugur ini. Karena langit semakin gelap, kami memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
“ Kak Ji-Sung, rasanya aku sudah mulai lupa selama tiga hari ini tidak belajar dengan Kakak. Bisakah kita nanti belajar lagi?” Aku melihat Kak Ji-Sung yang sedang fokus menyetir.
“Pasti ada waktu buatmu, Rick.” jawabnya dengan senyum manisnya.