
Darr! Darr! Darr!
"Wira! Bangun! Wir!" sebuah teriakan yang sangat kencang disertai gedoran pintu yang suaranya seimbang dengan teriakan tersebut, membuat seorang pemuda yang berada dibalik pintu harus menggerutu dengan kesal. Pemuda itu mendengus dengan mata masih terpejam. "Wira! Bangun, woy!"
"Iya, Mak, iya!" sahut pemuda itu dengan suara yang tidak kalah kencangnya. Meski suaranya sudah menggelegar, tapi kemuda itu malah menarik bantal guling yang tergeletak di atas lantai dan memeluknya dengan sangat erat. Matanya masih terpejam karena rasa kantuk yang masih merekat erat dimatanya. Hampir saja pemuda itu kembali terlelap, tapi suara gedoran pintu membuat pemuda itu gagal dalam misi untuk melanjutkan tidurnya.
"Wira!" teriak suara seorang wanita yang masih berdiri di depan pintu. "Bangun! Buka pintunya!"
"Iya, Mak! Astaga!" pemuda itu kembali bersuara lantang.
"Kalau nggak bangun juga, aku kunciin sekalian kamu dari luar! Dasar, pemalas! Laki-laki itu jam segini harusnya udah cari duit, bukannya tidur mulu kerjaannya," dumel Emak begitu kesal.
Wira hanya mendengus. Dia lalu bangkit dari berbaringnya, dan dengan malas melirik jam yang menempel di dinding. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang lebih sedikit, tapi tidak ada rasa panik sama sekali dari pemuda berusia dua puluh tahun itu. Dari sikap yang dia tunjukkan, sepertinya Wira memang sudah terbiasa bangun jam segitu, atau bahkan lebih dari itu.
Wira meraih ponsel sungsangnya yang dia beli dengan harga tidak lebih dari lima ratus ribu. Ponsel dengan daya ram hanya dua giga, merupakan barang paling mahal yang mampu dia beli dengan uangnya sendiri. Dalam layar ponsel tersebut. terpampang foto seorang wanita. Namun sayangya foto wanita itu bukan foto pacarnya melainkan foto artis khusus film dewasa.
Dalam ponsel yang layarnya retak sedikit dibagian pojok kanan itu, banyak koleksi foto seksi dan menggiurkan dari artis artis khusus film dewasa. Bukan hanya foto, dalam ponsel itu juga terdapat banyak film dewasa yang Wira koleksi, sebagai teman pemuda itu jika sedang kesepian dan berada di dalam kamar.
__ADS_1
Setelah mengecek ponsel yang memang tidak ada pemberitahuan apapun di dalamnya, Wira kembali meletakkan ponsel tersebut di atas lantai. Dia celingukan seperti orang bingung, lalu menguap sembari meregangkan kedua tangannya. Setelah rutinitas bangun tidur dilakukan semuanya, Wira baru bangkit, meraih gagang pintu dan keluar dari kamarnya.
"Kamu itu bagaimana? Di suruh nyusul Bapak ke pasar malah asyik tidur. Mau kamu apa sih, Wir?" keluarnya Wira dari kamar langsung disambut dengan ocehan Emak dengan segala kekesalan yang dirasakan wanita itu. "Tiap malam keluyuran, Pagi baru pulang, tidur bangunnya siang, mau jadi apa kamu, hah!"
"Ya ampun, Mak, maaf, orang aku lupa," Wira menjawab dengan alasan seperti biasanya.
"Lupa, maaf, lupa, maaf, gitu terus bisanya. Kapan kamu bisa berubah? Nunggu Emak mati!" bentak Emak. "Disuruh ikut jualan sama Bapak nggak mau, ikut Abangmu nggak mau. gengsi aja digedein. Mau jadi apa kamu, hah! Mau jadi beban keluarga!"
Wira hanya terdiam dengan kepala menunduk dan bersender pada tembok di dekat pintu kamarnya. Wira tidak membalas ucapan wanita yang telah melahirkannya. Bagi pemuda itu, dimarahin seperti ini adalah hal yang sudah biasa dia makan setiap hari. Jadi Wira tidak terlalu kaget. Setelah ini juga sebentar lagi Emak pergi ke pasar dan sore hari pas pulang dari pasar marahnya Emak sudah hilang.
"Entah wanita seperti apa yang mau sama dengan pria pemalas dan pengangguran seperti kamu. Hanya wanita bodoh pastinya yang mau sama kamu. Wanita waras nggak bakalan mau sama pria model kayak kamu!" ucap Emak sembari berlalu pergi.
"Daripada nggak ngapa ngapain, mending aku mancing," gumam Wira setelah urusan kamar mandinya selesai dan matanya menangkap alat pancingnya di dekat kamar mandi. "Makan lalu cuss, pergi mancing," ucapnya dengan wajah yang sudah kembali ceria.
"Duh, rokoknya tinggal sebatang doang," keluh Wira beberapa saat setelah dia selesai makan. Meski begitu, dia menyalakan rokok itu dan menikmatinya sembari mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi memancing. Tidak perlu jauh jauh, karena tak jauh dari tempat tinggal Wira, ada sungai yang cukup besar mengalir di kampungnya. Setelah semuanya siap, Wira pun berangkat memancing untuk menghabiskan waktu menganggurnya seperti biasa jika tidak ada kegaiatan lain.
Di tengah langkah kakinya menuju sungai, Wira melihat dua sosok yang dia kenal sedang duduk diatas motor. Dua sosok itupun melihat Wira dan seketika mereka langsung menunjukkan kemesraan mereka. Wira langsung mengalihkan pandangannya dengan hati yang teriris dan perih.
__ADS_1
Bagaimana tidak merasa teriris dan perih, sosok itu adalah wanita yang baru saja menolak ungkapan cinta Wira. Setelah menolak Wira, wanita itu malah menerima saudara sepupu Wira yang memang sudah bekerja. Mereka saat ini sedang berduaan dan sialnya Wira malah menyaksikannya.
Jika diperhatikan, Wira sebenarnya bukan termaruk tipe pria berwajah jelek. Dia cukup tampan dengan Tato di lengannya. Meskipun itu bukan tato permanen, tapi cukup menambah ketampanan anak muda tersebut. Wira juga memiliki motor yang dia dapat dari bekasnya sang kakak. Tapi semua itu tidak pernah membuat wanita tertarik untuk menjalin kasih dengan Wira.
Karena Wira seorang penganguran, suka begadang dan masa depannya dinilai tidak jelas, jadi beberapa wanita yang Wira suka, menolak Wira setiap dia menyatakan cinta. Ditambah pendidikan yang rendah dengan riwayat kelakuan yang cukup buruk saat masih remaja, membuat para wanita enggan untuk mejalin kasih dengan pemuda itu.
Sebenarnya Wira sudah beberapa kali pernah bekerja. Tapi entah kenapa, setiap mendapat pekerjaan, selalu saja dia mengeluh dan berakhir dengan keluar dari pekerjaan. Sedangkan untuk ikut jualan Bapak maupun Abangnya, Wira masih gengsi dan malu. Jadilah dia pengangguran dan beban keluarga sampai usia Wira menginjak angka dua puluh tahun lebih dua bulan.
Sekarang Wira sudah sampai di sungai dan dia segera saja memilih tempat yang bagus untuk memancing. Begitu pancing dan umpannya telah siap, Wira memperhatikan sekitar sungai dan matanya melihat ada batu besar di tengah sungai.
"Mancing di sana, ah," ucapnya sambil menunjuk ke arah batu besar tersebut.
Wira menuju ke tempat batu besar tersebut dengan melompat dari beberapa batu kecil yang ada di sungai. Namun di saat hendak sampai di batu besar, Wira mendapat sial, dia terpeleset dan tubuhnya langsung mencebur ke sungai yang memang cukup dalam.
Byurr!
Wira gelagapan sampai pancingnya terpelas. Wira berusaha menenangkan diri, lalu setelah bisa menguasai keadaan, Wira langsung naik ke permukaan. Namun disaat kepalanya menyembul ke atas permukaan air, mata Wira membelalak disertai dengan suara teriakan yang sangat kencang.
__ADS_1
"Akhh!"
Wira terkejut bukan main saat tiba tiba ada beberapa wanita mengelingi dirinya.