DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Jadi Bahan Gosip


__ADS_3

"Ya sudah, kita berangkat dulu," pamit Wira kepada beberapa bidadari yang masih tinggal di rumah. Wira bersama tiga bidadari lainnya dan seorang wanita tua, berangkat menuju pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah yang mereka tempati. Sedangkan empat bidadari lainnya, memilih bertahan di rumah bersama Kakek.


"Kakek mau ke belakang dulu ya? Mau motongin kayu bakar," ucap Kakek kepada empat bidadari yang duduk di depan teras rumah. Sedangkan Wira dan yang lain kini sudah menghilang dari pandangan mata mereka. Empat bidadari yang ada di sana sontak mengiyakan ucapan sang Kakek.


"Kaki kamu gimana? Udah lebih baik?" tanya Dewi Merah kepada Dewi Kuning.


"Sudah mendingan ini," jawab Dewi Kuning sambil memperhatikan kakinya yang terluka. "Udah agak kering, tidak seperti kemarin." Tiga bidadari yang ikut menatap kaki Dewi Kuning hampir mengangguk bersamaan.


"Syukurlah," ucap Dewi Merah. "Untungnya kita nginep lagi di sini. Jadi kita bisa sekalian sembuhin kaki kamu terlebih dahulu."


"Kira kira, kita disini berapa hari?" tanya Dewi Jingga. "Kita tidak mungkin menginap di sini terlalu lama kan?"


"Ya tidak tahu," jawab Dewi Ungu. "Tergantung Kang Wira juga. Kita kan saat ini hanya bisa berlindung sama dia. Untung dia bisa bela diri. Coba kalau Kang Wira bukan ahli bela diri, mungkin kita sudah diterkam oleh Leo."


"Iya juga sih," ucap Dewi Jingga, lalu dia menatap Dewi Merah. "Oh iya, kamu kan udah dapat kembali bulu Angsa Emas, kamu tidak ada niat kembali terlebih dahulu ke Langit? Terus, tadi kenapa kamu tidak ikut berkelahi? Kekuatan kamu pasti udah kembali kan?"


Dewi Merah lantas tersenyum. "Emang aku setega itu? Kita itu pergi ke bumi sama sama, jadi kita kembali juga harus sama sama. Mana mungkin aku pulang duluan. Lagian aku tidak mau ada manusia lain yang curiga. Cukup Kang Wira saja yang tahu kalau kita bukan manusia. Kekuatanku memang sudah kembali, tapi alasannya sama, aku tidak mau ada manusia yang tahu tentang identitas kita."


"Wahh, setia kawan banget kamu," seru Dewi Ungu dengan wajah sumringah lalu dia memeluk Dewi Merah yang memang duduk di sebelahnya. "Tapi aku juga merasa kalau Kang Wira itu bukan manusia biasa loh. Aku perhatikan dari sikap dia sejak kemarin, Kang Wira bijak banget."


"Kalau aku sih tidak meragukan lagi," ucap Dewi Jingga. "Aku yakin, Kang Wira memang titisan Dewa, kalau tidak ya, dia itu malaikat. Dari wajahnya saja sudah kelihatan kalau dia bukan manusia biasa. Lagian, mana ada manusia yang mampu menaklukan Singa dan membuat binatang buas itu nurut. Bukankah yang bisa membuat binatang buas nurut itu hanya para Dewa."

__ADS_1


"Benar juga," ucap ketiga Dewi lainnya hampir bersamaan. "Aku juga sama, mikirnya seperti kamu," sahut Dewi Kuning setelah selesai bergumam. "Saat Kang Wira tidur semalam, dia juga kelihatan sanga tampan. Aku aja lihatnya betah banget. Jarang banget kan kita lihat Dewa tertidur, dan kalian tahu sendiri, dewa kalau tidur, tampannya keterlaluan bukan?"


"Serius kamu?" tanya Dewi merah memastikan. Begitu Dewi Kuning mengiyakan, wajah Dewi Merah langsung berbinar. "Wahh, aku jadi penasaran. Aku pengin lihat juga."


Sama, aku juga," celetuk Dewi Ungu dengan antusias. "Apa lagi, kita memang jarang banget lihat para Dewa tertidur. Mumpung ada kesempatan ya kan?"


"Ya udah, kita kan saat ini sudah mengaku sebagai istrinya Kang Wira, bagaimana kalau kita bergantian saja tidur bersama Kang Wiranya?" usul Dewi Jingga, "Biar adil aja gitu. Kita tidak berebut ingin tidur bareng Kang Wira."


"Aku sih setuju aja," ucap Dewi Merah. "Ya udah nanti, saat yang lain pulang, kita ajak mereka musyawarah juga. Mereka juga pasti penasaran melihat Kang Wira yang terlelap." semua nampak setuju dengan usulan Dewi merah.


"Tapi semalam ada yang aneh loh, pada tubuh Kang Wira." ucap Dewi kuning lagi.


"Aneh gimana?" tanya Dewi Ungu.


"Yang benar?" tanya Dewi Jingga tak percaya. "Hahaha ..,. jadi Kang semalam ngompol? Hahaha ..."


"AKu juga mikirnya gitu, Masa Kang Wira udah gede masih ngompol aja sih? Karena aku penasaran, aku cium tuh bagian yang basah, tapi tidak bau sama sekali," mendengar kelanjutan cerita dari Dewi Kuning semua nampak terperangah. Salah satu diantara merka bahkan melempar pertanyaan untuk memastikan.


"Serius, sama sekali tidak bau air kencing," ucap Dewi Kuning lagi menjawab pertanyaan dari salah satu Dewi yang nampak terkejut dengan cerita yang keluar dari mulutnya. "Terus, aku kan juga penasaran dengan isi celana kaum pria itu seperti apa. Aku buka deh kolor Kang Wira. ternyata imut banget."


"Hah!" pekik ketiga dewi secara bersamaan. "Imut gimana maksudnya?" tanya Dewi Jingga semakin penasaran. Begitu juga dengan Dewi lainnya.

__ADS_1


"Selama ini kan, yang kita dengar, kalau punya pria itu kekar ya?" ucap Dewi Kuning, dan ketiga Dewi lainnya mengangguk. "Tapi tidak dengan punya Kang Wira. Semalam tuh isi celananya kecil dan kelihatan imut banget. Menggemaskan pokoknya. Tapi pas aku pegang dan aku usap usap, isi celananya tiba tiba membesar dan ugh, gagah banget. Tampan, mirip Kang Wira," sambungnya dengan antusias.


"Serius? Kamu lagi tidak bohong kan?" Dewi Jingga kembali bertanya. Mendengar cerita Dewi Kuning yang sangat antuias, tentu saja semakin menambah rasa penasaran yang lainnya.


"Serius lah," jawab Dewi Kuning dengan sangat yakin.


"Wahh, aku juga pengin lihat," seru Dewi Merah, dan disahut oleh dua dewi lainnya. "Ya udah, kita digilir aja. Biar semua bisa melihat isi celana Kang Wira. Agar kita tidak penasaran lagi, gimana?"


"Setuju!"


Sementara itu, pria yang sedang menjadi bahan gosip, kali ini sudah berada di pasar. Wira begitu takjub dengan pasar yang dia datangi. Pemuda itu sungguh merasa sedang berada di dalam film laga, yang dulu sering dia tonton di televisi. Pasarnya benar benar pasar jaman dulu sekali.


Kedatangan Wira dan para bidadari, menyita perhatian para pedagang dan pengunjung pasar. Tentu saja mereka menjadi pusat perhatian, karena, selain merasa asing, wajah dan penampilan mereka juga terlihat berbeda dari wajah para manusia yang ada di sana. Meski begitu, Wira dan yang lainnya berusaha bersikap biasa saja serta bersikap waspada juga.


"Kita cari apa lagi sekarang?" tanya Dewi Hijau. "Pakaian dan bahan makanan sudah dapat semua."


"Ya udah, kita liat lihat dulu," ucap Dewi Biru. "Kali aja nanti ada barang yang ingin kita beli lagi."


Semua nampak setuju. Mereka pun terus melangkah menyusuri pasar yang tidak terlalu luas. Di saat langkah kaki mereka tiba di depan sebua lapak, salah satu bidadari tak sengaja memandang ke arah sesuatu.


"Lihat itu, bulu Angsa emas!" seru Dewi Nila.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2