DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Menemukan Tempat Tinggal


__ADS_3

"Kamu mau bawa kita kemana?" tanya Wira saat mereka menyusuri hutan mengikuti langkah kaki Singa. Wira dan ketujuh bidadari sudah berjalan cukup jauh. Meski tidak jauh dari aliran sungai tapi jarak kebaradaan Wira dengan sungai itu tidak sedekat saat tadi baru melangkah.


"Singa, kamu mendengar ucapanku tidak?" ucap Wira lagi dengan suara sedikit kesal karena sejak tadi ucapannya selalu diabaikan. Tapi saat Wira sengaja menghentikan langkah kakinya, Singa tersebut ikut berhenti dan menoleh serta memberi tanda agar Wira kembali melangkah. Wira yang merasa kesal hanya mendengus kasar, tapi tetap meneruskan langkahnya mengikuti Singa jantan di depannya.


Haummm!


Singa hanya mengaum, tapi suaranya cukup menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya. Wira sendiri sebenarnya masih cukup takut. Bahkan otaknya kadang memikirkan hal yang penuh dengan kemungkinan. Seperti detik ini juga, Wira sebenarnya mengikuti Singa dengan segala pikirran buruknya. Wira juga selalu bersikap waspada karena biar bagaimanapun, Singa itu binatang buas pemakan daging. Kalau Wira lengah bisa saja Wira akan menjadi santapannya yang lezat.


"Wahhh! Ada rumah!" seru salah satu bidadari dengan suara yang sangat keras. Setelah melangkah cukup jauh, mereka melihat sebuah rumah dari anyaman bambu dan kayu. Dilihat dari keadaannya, sepertinya rumah itu dalam keadaan kosong. Bahkan ada beberapa bagian yang terlihat sudah rusak dan butuh perbaikan. Langkah kaki Singa berhenti di sana. Wira dan yang lain otomatis ikut berhenti juga.


"Ini rumah siapa? Kok bisa ada rumah sendirian di tengah hutan," gumam Wira yang langsung melangkah masuk. Begitu juga dengan ketujuh bidadari. Sedangkan Singa memilih merebahkan tubuhnya di bawah pohon besar yang ada di samping kiri depan rumah itu.


"Mungkin rumah ini sudah lama ditinggal oleh pemiliknya," ucap bidadari berkain biru dengan mata yang mengedar ke segala penjuru ruangan. Di sana ada lima ruangan, ada ruang yang berjejer tiga dengan ukuran yang sama. Kemungkinan itu adalah kamar, lalu dua ruang lainnya nampak sebagai ruang utama dan area dapur. Dilihat dari beberapa benda peninggalannya, ruang itu menunjukan fungsinya masing masing.


"Bagaimana kalau kita bersihkan tempat ini? Sepertinya tempat ini masih layak untuk kita tempati," usul bidadari berkain hijau. Tentu saja usulan tersebut langsung disetujui oleh bidadari lainnya dan mereka bersiap diri untuk membersihkan tempat ini dengan alat seadanya yang ada di sana. Sedangkan Wira sendiri memilih diam, karena dia sendiri bingung dengan keadaan yang sedang menimpa dirinya.


"Ini aku beneran pindah ke dunia lain?" lagi lagi pikiran itu terlintas dalam benaknya. Wira masih tidak percaya dengan apa yang terjadi meski dia sendiri sudah menemukan banyak bukti kalau dirinya memang sudah berada di bumi bagian mana. Biar bagaimanapun, Wira jelas tahu dia tidak mungkin sampai terbawa arus hingga berpindah pulau.

__ADS_1


Beberapa puluh menit kemudian.


"Kang, nih, ada pakaian laki laki," ucapan salah satu bidadari sontak menyadarkan Wira dari lamunannya. Matanya menatap beberapa helai kain yang katanya pakaian laki laki. Kening Wira berkerut sembari mengangkat kain tersebut serta memperhatikannya dengan teliti.


"Kolor dan rompi?" tanyanya dengan penuh rasa heran. "Ini serius? Kok kayak pakaian jaman majahapit?"


"Kan emang pakaian laki laki seperti itu," ucap bidadari berkain Ungu. "Masa kamu tidak tahu? Majapahit itu apa, Kang?"


Wira mengalihkan pandangannya ke arah bidadari itu, tapi dia sama sekali enggan memberi penjelasan. Wira malah pergi sembari menenteng beberapa pakaian yang dia dapat dengan segala banyak pertanyaan yang entah bisa dijawab atau tidak. Wira memasuki salah satu kamar yang sudah dibersihkan untuk mengenakan pakaian tersebut karena pakaian yang Wira kenakan juga sebenarnya dalam keadaan basah.


Setelah berganti pakaian dan tadi sempat termenung cukup lama di dalam kamar, Wira pun memutuskan keluar kamar karena tiba tiba dia merasa lapar. Namun baru saja langkah kakinya keluar kamar, Wira dikejutkan dengan sesuatu yang membuat dia merasa sesak nafas. "Astaga!" pekik Wira dengan mata yang enggan untuk berkedip.


"Eh ... engg... itu..." Wira tergagap dan salah tingkah sendiri. "Ada bukit kembar yang ingin keluar dari sarangnya," ucap Wira gugup lalu dia segera saja masuk ke kamar yang tadi dia tempati. Sedangkan bidadari yang tadi menghampiri Wira hanya memandang kepergian pemuda itu dengan tatapan heran dan penuh tanya. Namun Bidadari itu tak lama setelahnya kembali melakukan kegiataannya bersama yang lain.


"Ya ampun, kenapa mereka mengenakan pakaian kayak gitu sih? Bikin tegang isi kolorku aja," umpat Wira begitu dia duduk di atas papan kayu yang dibentuk menyerupai ranjang. "Gila! Apa aku kuat menjaga mereka? Astaga, aku bisa gila!" Wira malah terlihat frustasi.


Pakaian yang dikenakan ketujuh wanita itu memang pakaian yang tergolong seksi. Sepertinya Wira baru menyadari kalau pakaian para wanita yang bersamanya benar benar membuat resah kaum pria. Padahal sejak pertama bertemu, ketujuh wanita itu memang sudah memakai pakaian yang hanya menutupi bagian dada sampai ke ke paha.

__ADS_1


Mungkin karena tadi pakaian yang dikenakan para bidadari masih agak tertutup kain seperti selendang, jadi Wira tidak menyadarinya. Apa lagi sejak Wira datang ke dunia itu, banyak hal aneh yang terjadi. Jadi Wira tidak sadar dengan pakaian yang dipakai para bidadari.


Sekarang saat kain berwarna tidak menutupi tubuh bidadari, baru Wira menyadari kalau pakaian yang dikenakan para bidadari membuat jiwa lelaki Wira meronta. "Mimpi apa aku semalam? Udah seksi, cantik, astaga! Aku bisa menahan diri tidak? Ya ampun, mana tidak ada sabun lagi. Jadi pengin aku, arggghh!" Wira menggila dalam hati.


Sementara itu di saat yang sama, tapi di tempat yang cukup jauh dari keberadaan Wira dan ketujuh bidadari. Terlihat seseorang berlari cukup kencang, memasuki bangunan yang cukup besar dan luas, dimana terlihat banyak orang yang menjaganya di sana.


"Yang mulia! Yang Mulia, ada kabar bagus! Yang Mulai!!" sembari berteriak. pria itu terus mencari sosok yang dipanggil yang mulia sampai semua orang yang mendengarnya merasa heran.


"Ada apa, Panglima? Kenapa anda lari lari sambil teriak?" tanya seorang pria yang sedang duduk di singgasananya. Dia bersama beberapa orang yang ada di sana terilhat sedang berkumpul dan membahas sesuatu. Tapi kegiatan mereka terhenti karena kedstangan pria yang dipanggil panglima tadi.


"Ada kabar bagus yang akan membuat anda senang, Yang mulia," ucap Panglima dengan antusias setelah dia memberi salam hormat.


"Kabar bagus? Kabar bagus apa?" tanya Yang mulia dengan segala rasa penasaran yang muncul saat itu juga. Bukan hanya Yang mulia yang penasaran, semua orang yang ada di sana juga penasaran dengan kabar yang dibawa panglima.


Panglima sendiri tidak langsung menjawab, tapi dia mengeluarkan sesuatu dari balik baju yang dia kenakan dan menunjukannya pada Yang Mulia. "Anda tahu ini apa, Yang mulia?"


Mata Yang mulia membelalak. "Bulu Angsa Emas?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2