DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Perdebatan


__ADS_3

"Apa! Istri?" ketiga pria berseragam menatap tak percaya pada pemuda yang sedari tadi terlihat sangat menyebalkan. Salah satu pria bahkan memekik karena menganggap apa yang dikatakan Wira seperti tidak masuk di dalam akalnya.


"Iya, seperti yang kalian dengar. Mereka itu istriku, jadi aku berhak melarang mereke bartemu dengan laki laki lain," dengan tegas namun santai, Wira memberi jawaban sampai ketiga pengawal saling pandang untuk sejenak.


"Apa yang dikatakan anak muda itu memang benar, Tuan. Para wanita yang ada di rumah saya memang istri anak muda ini" sang kakek ikut berbicara untuk meyakinkan.


""Meski mereka istri anak muda ini, tapi dia tidak bisa seenaknya melarang istrinya untuk menemui kami. Biar bagaimanapun, kami ini datang atas perintah Raja, jadi sudah sepantasnya dia harus mematuhi apapun perintah yang kami sampaikan," pria berambut keriting kembali menunjukan sifat arogannya.


Mendengar perkataan pengawal kerajaan tersebut, malah membuat Wira semakin memandang mereka dengan tatapan remeh. "Mana ada peraturan seperti itu? Paling itu juga akal akalan kalian saja. Maksa banget ingin ketemu istri aku. Bilang aja yang ingin ketemu istri aku tuh kalian, bukan raja. Pakai alasan memakai nama Raja lagi."


"Ini memang perintah Raja!" pria berambut lurus agak panjang langsung berteriak lantang. Matanya menatap Wira dengan tatapan tajam. Dia dan dua rekannya sungguh merasa semakin geram dengan sikap yang Wira tunjukkan.


Wira malah menyeringai. "Kalau memang perintah raja, ada surat perintahnya tidak? Bukankah tadi kalian sudah mengatakan tujuan kalian kesini karena mau membahas tentang juragan Suloyo dan orang-orang tengkorak iblis? Kenapa kalian malah jadi memaksa ingin menemui istri saya? Dari situ aja kalian sudah ketahuan hanya modus saja, cihh!"


"Modus? Apa itu modus?" dengan geram pria berambut lurus menanyakan hal yang tidak penting. Namun karena dia dan dua rekannya tidak tahu apa arti kata yang diucapkan Wira, jadi salah satu dari mereka menanyakannya. Dia merasa kata modus adalah sebuah tuduhan.

__ADS_1


"Modus, modal dusta. Masa kalian nggak ngerti?" terang Wira. Kali ini dia malah merasa kesal dengan sikap ketiganya. Namun saat dia teringat kalau saat ini dia sedang berada di jaman yang bagaimana, Wira langsung menepuk keningnya sendiri. "Astaga! Aku lupa, bahasa modus tidak ada pada jaman kuno seperti ini!"


Apa yang diucapkan Wira tentu saja cukup mengejutkan tiga pengawal kerajaan. Namun mereka tidak mencurigai kalau ucapan yang keluar dari mulut Wira adalah sebuah petunjuk tentang asal usul Wira. Apa lagi ketiganya sedang dalam keadaan yang sangat geram, membuat benak mereka hanya dipenuhi emosi yang ingin segera mereka lampiaskan.


"Kamu nganggap kami berdusta, hah! Jangan sembarangan kamu kalau ngomong!" pria berambut lurus pendek berteriak kencang.


Sebenarnya para wanita yang ada di dalam juga mendengar keributan yang terjadi di luar rumah, tapi mereka tidak berani keluar karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Apa lagi mereka mendengar kalau tamu yang datang adalah para pengawal kerajaan, jadi mereka memilih tetap di dalam sampai ada yang memanggil mereka untuk keluar.


"Sudahlah, Tuan tuan. Bukankah kalian sudah mendapat jawaban dari apa yang kalian tanyakan. Kenapa kalian masih memaksa ingin bertemu dengan istri saya? Lagian apa tujuannya sang raja memerintahkan hal aneh seperti itu? Laporan seperti apa yang akan kalian katakan setelah menemui istri saya?"


Wira yang menyaksikan tingkah aneh ketiga pria itu sontak menyeringai. Wira memang merasa aneh dengan gelagat tiga pria itu. Apalagi ketiganya terlihat sok berkuasa, membuat Wira muak dan ingin memberi pelajaran kepada mereka bertiga.


Di saat ketiga orang sedang sibuk untuk memberi bantahan atas tuduhan yang dilontarkan untuk mereka, Wira tiba-tiba terteriak dengan kencang, "Leo!"


Ketiga orang itu terperanjat. Mereka lantas secara spontan ikut memandang ke arah yang sama dengan arah pandang Wira, dan betapa terkejutnya mereka, saat matanya menangkap sosok yang sedang mendekat ke arah tiga pria itu.

__ADS_1


"Singa!"


"Dia Leo, teman saya. Apa kalian mau berkenalan?" dengan santai Wira beranjak dari duduknya dan memnyambut kedatangan Leo dengan hangat.


Ketiga pria itu menatap tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Bahkan ketiganya semakin tercengang saat kakek juga ikut bersikap santai kepada binatang buas tersebut.


"Apa jangan jangan dia singa yang menyerang penduduk, yang tadi kita temui?" bisik pria berkeriting dengan suara agak bergetar karena menahan rasa takut.


"Tidak tahu. Bukankah mereka bilang, Singa yang menyerang mereka, itu dipelihara para perempuan?" pria berambut lurus agak panjang memberi tanggapan.


"Benar, ini singa yang sama yang tadi menyerang tangan seorang pria, karena mereka hendak menculik istri saya," Wira yang mendengar ucapan mereka sontak saja langsung mengatakan yang sebenarnya.


"Apa!"


"Kenapa? Kalian tidak percaya? Ya... terserah kalian saja."

__ADS_1


"Bukan begitu. Kalau mereka istri kamu, kenapa mereka meminta bulu angsa emas kepada orang orang tadi?"


__ADS_2