DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Menikmati Air Terjun


__ADS_3

"Wahh, air terjunnya indah sekali," puji Dewi Ungu begitu mereka telah sampai di tempat tujuannya. Mata Dewi Ungu langsung berbinar, menatap keindahan alam yang terpampang di depan matanya. Bidadari itu segera saja melangkah dari satu batu ke batu lain agar bisa lebih dekat dengan air terjun yang cukup besar tersebut.


"Jangan terlalu dekat, Dek! Bahaya!" seru Wira memperingati. Pemuda itu memilih duduk di atas rumput untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup menantang kala menuju air terjun tersebut. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumah rumah yang Wira huni, tapi jalan yang terjal membuat pria itu selalu bersikap hati hati sampai dia benar benar berada di tempat tujuan dengan selamat.


Dewi ungu itu langsung melempar senyum kepada Wira. Meski mulutnya tidak bersuara, Dewi Ungu tetap menuruti perintah Wira agar tidak terlalu dekat dengan air terjun karena memang airnya begitu besar. Dewi ungu hanya berdiri di atas batu besar, tak jauh dari keberadaan Wira.


Setelah puas menikmati air terjun, Dewi itu kembali beranjak mendekat ke tempat Wira. "Kang, kang Wira sudah mandi belum?"


Wira yang memang sedang memandang kedatangan Dewi ungu sontak menggeleng. "Belum lah. belum sempat. Kenapa? Mau ngajak mandi bareng?" tanya Wira iseng.


Namun, diluar dugaan, Dewi Ungu malah mengangguk. "Iya, mandi bareng yuk, Kang."


Sontak saja Wira langsung membelalak tak percaya. "Kamu serius? Kamu lagi nggak bercanda kan?" tanya Wira memastikan. Dia takut saja kalau ajakan Dewi Ungu juga candaan belaka.


"Siapa yang bercanda? Aku serius, Ayo!" Wira semakin tercengang dengan mata menatap Dewi Ungu yang kelihatan bersemangat. Bukannya Wira tidak suka, tapi ini sungguh mengejutkan.


"Tapi, kita kan tidak membawa pakaian ganti, Dek," Wira kembali melempar pertanyaan untuk menguji keseriusan Dewi Ungu. Awalnya bidadari itu terdiam, tapi tak lama setelahnya dia tersenyum dan memberi jawaban yang membuat Wira terasa sesak saat akan menghirup nafasnya.


"Ya, kita sama sama tidak pakai baju mandinya, gimana?" jawab Dewi Ungu dengan santainya. Sungguh Wira ternganga mendengarnya. Dia bahkan mengorek telinganya sendiri karena takut telinganya salah mendengar. Tapi gerakan tangan Dewi Ungu yang mulai melepas kain ditubuhnya, membuat Wira yakin kalau ajakan Dewi Ungu memang serius dan benar adanya.


Wira mematung dengan mata yang hampir tidak berkedip saat menyaksikan Dewi Ungu mulai melepas satu persatu kain yang menutup tubuhnya. Meski agak sedikit canggung, terlihat Dewi ungu berusaha untuk tetap santai melepaskan pakaiannya di hadapan Wira.


Dada Wira bergemuruh. Perlahan namun pasti isi kolornya menegang begitu kain yang menutupi tubuh Dewi ungu terlepas semua. Wira seakan kesulitan menelan salivanya sendiri, menyaksikan kemolekan tubuh bidadari tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Rerimbunan di bawah perut dan juga benda kembar yang menggantung di dada Dewi Ungu menjadi tempat terindah dan membuat Wira ingin menyentuhnya.

__ADS_1


"Kang Wira, ayo!" suara ajakan Dewi Ungu seketika langsung mengejutkan Wira yang pikirannya sedang kemana mana. "Kok diam aja sih? cepat buka baju."


Wira terkesiap. "Eh, iya," jawabnya gugup. Wira hanya memakai kain seperti rompi dan dua celana kolor. Dengan cepat kain kain itu terlepas dari tubuhnya. Wira juga sebenarnya agak canggung, berada di depan wanita tanpa mengenakan busana. Namun sebagai pria, Wira juga tidak mau menyia nyiakan begitu saja kesempatan yang bagus seperti sekarang ini.


"Wahh, punya Kang Wira gede banget!" seru Dewi Ungu saat matanya menangkap benda dibawah perut Wira yang sudah sangat menegang. "Nanti aku boleh memegangnya nggak, Kang?"


"Jangankan nanti, sekarang juga boleh, Dek," jawab Wira yang sudah bisa menguasai gemuruh dalam benaknya.


"Nanti saja lah, selepas mandi," tolak Dewi Ungu. "Ayo, Kang, kita turun."


Wira mengangguk sembari tersenyum. Pemuda itu lalu melangkah mengikuti bidadari yang mendahuluinya. Wira sempat menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan mata terus memandangi tubuh polos bidadari di depannya.


Begitu sampai di aliran sungai, mereka memilih airan air yang tidak terlau dalam agar bisa berendam sambil duduk. Begitu tubuh mereka memasuki air, keduanya pun langsung berendam membasahi tubuh mereka.


"Pemandangannya indah banget ya, Kang?" Dewi Ungu kembali memuji keindahan yang ada di depan matanya. Dia malah seakan tidak peduli dengan tangan Wira yang mulai nakal, menggerayangi tubuhnya.


"Iya, indah banget," balas Wira. "Dan pemandangannya semakin indah karena ada bidadari secantik kamu, Dek."


"Ihh, bisa aja kamu, Kang," sahut Dewi Ungu. Wira pun hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak ada kata untuk membalas ucapan Dewi Ungu. Pikirannya terlalu fokus menikmati tubuh mulus di depannya dengan segala pikiran liar yang sudah merasukinya.


Dewi Ungu juga terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi saat semua sisi tubuhnya dijamah tangan kekar Wira, bidadari itu malah seperti pasrah dan hanya diam saja. Bahkan saat dia merasakan bibir Wira menempel pada pundaknya, Dewi ungu sama sekali tidak bereaksi apapun.


Wira sebenarnya terkejut karena Dewi ungu tidak protes dan tidak melarang tangan Wira menjamah tubuhnya. Tapi Wira juga memilih diam, karena diamnya Dewi ungu juga keuntungan tersendiri bagi pemuda itu

__ADS_1


"Kang?" panggil Dewi Ungu beberapa saat kemudian.


"Hum," balas Wira yang suaranya sudah berat karena hasratnya sudah sangat tinggi.


"Saat Kang Wira melihat tubuhku tanpa busana dan menyentuhnya seperti ini, apa yang ada dalam pikiran Kang Wira?"


Wira sontak tertegun. Mendengar pertanyaan dari Dewi Ungu, Wira sontak menghentikan gerakan tangannya. "Apa aku boleh menjawabnya dengan jujur?"


Dewi Ungu menoleh ke belakang sejenak menatap wajah sayu Wira lalu kembali menghadap ke depan, menyaksikan air terjun. "Tentu saja boleh. Aku memang ingin mendengar kejujuran dari Kang Wira."


Wira lantas tersenyum dan dia menaruh dagunya di pundak bidadari. "Sebagai pria normal, tentu saja aku sangat ingin menikmati tubuh kamu, Dek. Kamu sangat cantik dan tubuh kamu juga sangat mulus. Aku ingin menyentuh dan menciuminya. Apa lagi benda kembar dan lubang berbulu kamu sangat menggoda, aku ingin sekali memasuki lubang di bawah perut kamu, Dek. Tadi kamu lihat kan, dibawah perutku sudah sangat menegang? Itu tandanya kalau di bawah perutku sudah sangat ingin memasuki lubang di bawah perut kamu, Dek."


Dewi Ungu kembali tersenyum. "Kang Wira serius ingin memasukinya?"


"Serius lah, Dek. Tapi kan itu tidak mungkin," jawab Wira lesu.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Dewi ungu dengan wajah cukup terkejut.


"Kan kamu bidadari, aku manusia yang ada di bumi. Tidak mungkin kan? Kalau punyaku masuk ke dalam lubang kamu? Nanti kamu dapat masalah yang lebih besar."


Dewi ungu kembali tersenyum sembari mengangguk beberapa kali, memahami kegundahan pria di belakang tubuhnya. "Tapi aku mau kok kang, lubangku dimasuki benda di bawah perut kamu. Kalau Kang Wira bersedia, ayo kita lakukan sekarang di tempat ini?"


"Apa!"

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2