DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Sebelum Pagi Menjelang


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, dikala pagi belum menjelang, dengan sangat terpaksa, Dewi Kuning harus terbangun dari tidurnya. Bukan tanpa alasan dia terbangun di saat langit masih gelap, Bidadari tersebut merasakan sesuatu yang harus segera dia keluarkan dari lubang berbulu di bawah perutnya. Bergegas wanita itu turun dari ranjang menuju ke tempat yang biasa digunakan untuk buang air.


"Lega," gumamnya setelah selesai. Dewi Kuning langsung beranjak kembali menuju kamar yang dia gunakan. Di saat dia hendak naik ke atas ranjang, Dewi Kuning tertegun dengan apa yang dia lihat di sana. Diapun mendekatkan pandangannya untuk memperjelas sesuatu yang sedang dia lihat saat ini.


"Kok celana Kang Wira basah? Apa Kang Wira ngompol?" gumamnya lirih dengan mata menatap lekat pada celana kolor yang dipakai Wira. Dibagian tengah kolor itu memang terlihat basah. "Tapi kok tidak bau ya?" gumamnya heran.


Sebagai bidadari, tentu saja Dewi Kuning terkejut melihat hal itu. Setahu dia, yang bisa kencing sambil tidur itu hanya anak bayi. Tapi saat ini justru dia melihat dengan kepala mata sendiri, seorang pria dewasa kencing di saat tidur. Yang membuat Dewi Kuning semakin heran, meski basah, tapi cairan yang membasahi kolor wira sama sekali tidak mengeluarkan bau menyengat seperti air kencing pada umumnya.


"Kok aneh ya?" benak Dewi kuning masih bertanya tanya dengan mata masih fokus menatap kolor yang basah. "Apa aku bangunkan Kang Wira agar dia ganti celana?" Dewi kuning kembali bergumam, lalu pandangannya beralih arah, menatap wajah Wira yang sudah terlelap. Cuku lama Dewi Kuning menatap wajah Wira. Bahkan sesekali terlihat senyum mengembang dari bibirnya.


"Sepertinya Kang Wira memang jelmaan dari Dewa atau malaikat. Kalau manusia biasa, mana mungkin Kang Wira semakin terlihat tampan saat sedang tidur begitu," lagi lagi Dewi berbicara sendiri dengan mata terus memperhatikan wajah Wira dan juga tubuh kekarnya. "Benar benar pria yang sempurna," pujinya.


Melihat keadaan Wira yang sedang terlelap, membuat Dewi kuning tidak merasakan kantuk lagi. Mata bidadari tersebut malah sibuk memandangi pria yang terlelap dengan segala pikiran yang berkelana. Saat mata Dewi Kuning kembali menjatuhkan pandangannya pada celana Wira yang basah, wanita itu tiba tiba teringat sesuatu.


"Mumpung Kang Wira lagi tidur, tidak salah dong aku melihat sejenak benda kang Wira yang ada di dalam kolor," gumam Dewi kuning sembari senyum senyum sendiri. "Aku penasaran, punya kaum pria itu bentuknya seperti apa."


Sebelum melaksanakan niatnya, Dewi kuning kembali menatap Wira. Merasa keadaan sedang aman, Bidadari tersebut mulai menjalankan aksinya. Tangannya perlahan bergerak, menyentuh salah satu sisi kolor. Dengan penuh hati hati, bidadari tersebut menurunkan kolor yang diipakai Wira hingga sebatas paha.


"Wahh!" mata Dewi Kuning berbinar saat berhasil melihat benda yang dia inginkan. Namun tak lama setelahnya, kening Dewi kuning malah berkerut. "Ini kok bentuknya kecil? Bukankah yang aku dengar, punya kaum pria itu besar? Tapi bulunya rimbun sekali, sama seperti punya saya. Apakah kaum pria tidak suka memangkas bulu di bawah perutnya?"

__ADS_1


Dewi kuning terus bertanya tanya sendiri. Karena rasa penasaran yang masih tersisa, tangan Dewi Kuning bergerak untuk menyentuh milik Wira yang masih dalam mode mengecil. Sebelum itu, tangan dewi Kuning terlebih dulu mengusap bulu rimbun milik Wira. "Masih agak basah dan ini kenapa lengket ya?" Dewi kuning lalu mencium tangan yang tadi memegang bulu yang agak basah. "Baunya kenapa aneh gini sih? Seperti bukan air kencing."


Dewi kuning pun melanjutkan aksi utamanya. Tangannya kembali bergerak perlahan, menyentuh benda utama yang ingin dia pegang. "Bentuk pria kok lucu dan imut gini ya?" ucapnya dengan tangan yang sudah mengusap dan memijat lembut milik Wira, hingga beberapa saat kemudian, "Loh, kok membesar?" gumamnya dengan mata melebar.


Dewi kuning merasa takjub dengan perubahan benda milik Wira yang berubah bentuk menjadi lebih besar dan menegang. "Wahh! Ternyata seperti ini bentuknya kalau membesar? Gila, keren banget, gagah!" Dewi Kuning sungguh sangat mengagumi benda tersebut.


Namun di saat bidadari itu sedang asyik mengagumi benda yang sudah menegang, tiba-tiba tubuh si pemilik benda itu bergerak. Dewi kuning terkejut bukan main. Matanya seketika langsung mengarah ke wajah Wira. "Huft, kirain bangun. Daripada nanti aku ketahuan, mending aku cepat tidur aja." Setelah mengatakan hal tersebut, Dewi Kuning langsung mengambil posisi tidur di tempat semula tanpa merapikan kembali kolor yang Wira pakai.


Begitu pagi menjelang.


"Astaga! Kenapa kolorku melorot?" pekik Wira begitu dia bangun dari tidurnya. Dengan segala rasa bingung yang melanda, Wira segera merapikan kolornya dan saat itu jga, Wira menyadari kalau Dewi kuning masih terlelap di tempatnya. "Untung saja nggak ada yang lihat," gumamnya. Di saat celana Wira sudah kembali pada tempatnya, pemuda itu menyadari sesuatu. "Astaga! Semalam aku mimpi basah? Gila!"


Sambil bergumam, Wira kembali merebahkan tubuhnya. Saat itu juga Wira pun mengingat apa saja yang dia lakukan semalam, sebelum Wira benar benar terlelap. Selain mengusap benda kembar milik Dewi Kuning, Wira juga beberapa kali mengusap pelan paha bidadari di sampingnya. Sebenarnya Wira ingin melihat lubang berbulu milik Dewi kuning, tapi malam itu Dewi kuning menutup lubang berbulunya dengan kain berbentuk segitiga.


Di saat pikiran Wira sedang membayangkan kejadian semalam, Dewi Kuning terlihat menggerakan tubuhnya. Saat itu juga pikiran Wira buyar dan kepalanya menoleh ke arah bidadari yang baru bangun dengan posisi tubuh yang sama persis dengan Wira, telentang menghadap langit langit.


"Kang Wira sudah bangun?" tanya Dewi Kuning dengan suara khas orang bangun tidur.


"Iya, nih, belum lama ini," jawab Wira yang suaranya sudah layaknya orang normal. "Tidur kamu nyenyak sekali kayaknya. Apa kamu sangat lelah?"

__ADS_1


Dewi kuning lantas tersenyum. "Kehilangan bulu Angsa emas ya seperti ini. Kita bisa merasakan layaknya hidup manusia. Walaupun di dunia bidadari kita juga merasakan lelah dan yang lainnya, tapi rasanya tidak selelah saat menjadi manusia."


"Gitu ya?" ucap Wira yang tadi sempat tertegun. "Terus kalau kehidupan dewa dan malaikat itu bagaimana? Apa mereka juga memiliki tugas yang sama?"


Terlihat di sana Dewi Kuning mengangguk samar. "Mereka memiliki tugas yang hampir sama. cuma bedanya, malaikat kedudukannya lebih tinggi karena kehidupan malaikat sudah berbeda dengan kehidupan dewa dan bidadari."


"Berbeda?" Wira semakin merasa penasaran. "Berbeda bagaimana maksudnya?"


"Kalau malaikat itu setiap hari hanya melaksanakan tugasnya masing masing, tapi kalau dewa itu seperti manusia, mereka bisa merasakan lelah dan lain sebagainya, meski mereka juga memiliki kekuatan khusus yang sangat spesial."


"Oh, gitu? Apa para dewa juga bisa tertarik dengan para dewi ataupun bidadari?" tanya Wira lagi.


"Udah pasti itu," jawab dewi kuning lantang dan singkat. Wira pun mengangguk tanda mengerti meski rasa heran juga masih menyelimuti. Di saat pemuda itu hendak melempar pertanyaan kembali, tiba tiba terdengar sebuah teriakan kencang dari luar rumah. Wira dan Dewi Kuning sontak terperanjat sampai mereka bangkit dari berbaringnya.


"Sepertinya diluar terjadi sesuatu, Kang."


"Iya, aku tahu," ucap Wira. "Biar aku lihat!" Wira segera saja turun dari ranjang dan beranjak kekuar kamar. betapa terkejutnya Wira saat matanya menangkap sepasang manusia tua yang sedang ketakutan dan berada di bawah ancaman benda tajam oleh seorang pria asing.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2