DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Pilihan


__ADS_3

"Kalau orang orang dari tengkorak iblis datang lagi, kita harus bagaimana?" keluh Dewi merah. Wajahnya nampak memelas dan juga kebingungan. Begitu juga dengan Dewi hijau, dia juga sama bingungnya sampai bidadari itu tidak bisa mengatakan apapun.


Namun sikap berbeda justru ditunjukan oleh pemuda yang ada di sana. Mendengar keluhan dan juga kepanikan yang ditunjukan kedua bidadari, Wira malah tersenyum lebar denggan otak yang sudah mengarah ke arah sesuatu yang nakal. Sepertinya pemuda itu memang menunggu momen seperti ini untuk mewujudkan keinginannya.


"Harus bagaimana? Masa kalian bingung?" cetus Wira dengan santainya. "Aku sih sebenarnya ada solusi, tapi itu juga kalau kalian mau."


Kedua bidadari sontak menatapnya. Melihat Wira yang nampak tersenyum samar dengan sikap yang tenang, salah satu bidadari sampai memicingkan matanya. "Pasti solusinya sama yang kayak Kang Wira lakukan pada Dewi jingga. iya, kan?"


Wira seketika langsung tersenyum lebar. "Ya itu sih kalau kalian mau. Kalau nggak mau ya nggak apa apa, silahkan kalian cari jalan keluar sendiri," Wira bersikap sok jual mahal, meski dalam hatinya dia berharap kedua bidadari itu mau berhubungan badan dengannya.


"Ini juga sedang sedang dipikirkan, Kang," balas Dewi merah agak ketus.


"Ya udah, silakan berpikir. Semoga ada jalan lain. Padahal kalau dipikir baik baik, berhubungan badan denganku, merupakan jalan keluar yang terbaik untuk saat ini. Bayangkan saja, keadaan kalian sekarang benar benar sangat genting. Ibaratnya, kalian tinggal menunggu waktu aja, kapan orang orang tengkorak iblis itu akan menangkap kalian. Coba, pikirkan baik baik."


Kedua bidadari nampak terdiam dengan mata menatap lekat pemuda yang bangkit dari duduknya dan beranjak menuju ke arah belakang rumah. Mereka juga mencerna ucapan Wira dengan baik, sampai beberapa kali kedua bidadari itu menghela nafasnya yang agak berat karena beban pikiran yang sedang mereka rasakan.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Dewi merah beberapa saat kemudian setelah dia terdiam.


"Bagaimana apanya?" Dewi hijau malah terlihat bingung mendapat pertanyaan dari dewi merah.

__ADS_1


"Ya itu, usulan Kang wira. Sepertinya, ide kang Wira cukup masuk akal dan juga memang satu satunya solusi yang bisa kita lakukan."


Dewi hijau mendengus kasar. "Jadi kamu mau melayani Kang Wira?"


"Kalau itu satu satunya jalan keluar yang terbaik, ya mau gimana lagi. Lagian jika Mahadewi tahu alasannya, dia juga sepertinya memaklumi. Bukankah kemarin dia memberi peringatan agar kita suruh lebih berhati hati karena jika orang yang mengincar kita berhasil mendapatkan darah perawan kita, dunia langit juga yang akan mendapat imbasnya, kan?"


Dewi hijau tercenung begitu mendengar penjelasan yang cukup panjang dari rekannya. Wanita itu bahkan kembali berpikir, mencerna dan menimbang semua ide dan informasi untuk menentukan jalan mana yang harus dia pilih saat ini.


"Tapi kalau kita menyerahkan mahkota kita kepada Kang Wira, apa Kang Wira mampu? Semalam aja dia sangat lama berhubungan badan dengan Dewi Jingga. Kamu pasti pernah dengar bukan, kalau laki-laki yang masih di bumi tidak terlalu perkasa seperti laki laki yang sudah ada di langit."


Dewi merah sontak mengangguk beberapa kali. "Aku tahu, tapi, bukankah kita bisa tanyakan dulu sama Kang wira, dia mampu tidak melawan kita. Kalau tidak mampu ya paling kita gantian."


"Sama... Haahaha..."


Dua bidadari itu malah terbahak cukup keras sampai Wira yang baru keluar dari kamar mandi merasa heran. Pria itu kembali masuk dengan benak yang cukup penasaran setelah mendengar suara tawa dari bidadari tersebut. Wira pun kembali duduk bersama mereka, dan anehnya dua bidadari itu langsung terdiam dan saling pandang satu sama lain.


"Kalian kenapa? Aku datang kok kalian malah diam? Apa kalian sudah menemukan solusi?" cecar Wira.


Dua bidadari itu malah diam dan kembali saling pandang. Malah dimata Wira, kedua wanita itu nampak saling memberi kode dengan mata mereka.

__ADS_1


"Hmmm, sukanya ngomong pake kode. Tinggal ngomong langsung apa susahnya sih?" sindir Wira sedikit kesal sampai dua bidadari itu tertegun, dan tak lama setelahnya, keduanya malah tersenyum canggung serta masih saling lirik satu sama lain.


"Begini, kang, setelah kami pikirkan, sepertinya kami setuju dengan usulan Kang Wira," ucap Dewi hjau malu malu. Namun hal itu cukup membuat Wira tertegun. Wajah pemuda itu sampai melongo meski di dalam hatinya sudah menebak seuatu.


"Maksud kamu?" tanya Wira guna memastikan ucapan yang dia dengar dari mulut dewi hijau.


"Maksud kami, kami mau berhubungan badan dengan Kang Wira,"


"Apa!" pekik Wira dengan hati yang berbunga bunga.


Sedangkan di markas tengkorak iblis, sang ketua justru terlihat sedang meluapkan amarahnya karena anak buahnya kali ini pulang tidak membawa hasil apapun.


"Bukankah saya sudah perintahkan dengan jelas! Kalian awasi tempat itu secara bergantian! Kenapa kalian tidak melaksanakannya?" Hah!" bentak sang ketua lantang sampai suaranya menggema memenuhi segala penjuru ruangan.


"Ampun ketua, kami sudah melaksanakan semuanya, sesuai dengan perintah, tapi sampai pagi menjelang, kami sama sekali tidak menemukan apapun. Maka itu, kami memutuskan untuk segera pulang."


"Bodoh! Siapa yang menyuruh kalian hanya mengawasi sampai menjelang pagi! Aku tidak mau tahu, sekrang kalian kembali ke tempat itu! Kalian tidak saya ijinkan pulang sebelum kalian berhasil menangkap semua wanita yang ada di rumah itu, mengerti!"


"Baik, ketua."

__ADS_1


__ADS_2