
"Akhhh!"
Teriakan yang begitu kencang menggema dan memekakan telinga, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan terkejut. Begitu juga dengan Wira, pemuda itu sangat terkejut begitu dia naik ke permukaan air, ada sosok lain yang berteriak ke arahnya. Bukan hanya ada satu sosok, tapi ada beberapa sosok yang mengelilingi Wira sembari berteriak.
Selain terkejut, Wira tentu saja tercengang sampai dia terbengong dalam beberapa detik. Matanya membelalak saat dia melihat ada tujuh sosok wanita berada di sekeliling dirinya. Tujuh wanita itulah yang berteriak dengan kencang begitu melihat kemunculan Wira dari dalam air.
"Kamu siapa, hah! Pergi dari sini!" bentak salah satu wanita sambil tangannya mengibas air sungai untuk mengusir Wira. "Pergi! Dasar pria mesum!"
"Siapa yang mesum?" bantah Wira lantang. "Justru aku yang harusnya bertanya, kalian siapa?" Wira tidak mau kalah dalam mengeluarkan suaranya. Sambil menangkis cipratan air yang mengarah kepadanya, mata Wira sesekali memandang ke arah tujuh wanita itu.
"Nggak usah pura pura! Kamu pasti sengaja ngintip kita, kan!" tuduh salah satu wanita itu tidak mau kalah.
"Iya, kamu pasti mau ngintip! Pergi!" wanita lain ikut berteriak dan mereka langsung berkumpul menjadi satu.
"Siapa yang pura pura!" bantah Wira dengan lantang. "Tadi aku tuh mau mancing, karena terpeleset, aku jatuh ke air. Eh, tiba tiba udah ada kalian. Kalian siapa sih?"
"Jangan bohong!" bentak salah satu wanita. "Kamu pasti sengaja mau ngintip kita mandi kan?"
Wira seketika mendengus. Percuma dia berkata jujur tapi para wanita itu tidak percaya. Wira memilih mengabaikan ketujuh wanita itu, dan pergi meninggalkan mereka. Namun saat matanya mengedar ke tempat sekitarnya, Wira seketika tercengang. Pemandangan di sekitarnya berbeda dengan pemandangan sungai di kampungnya.
"Loh, ini dimana? Kok kayak pohon semua?" Wira mengedarkan pandangan sembari bergerak menuju ke tepi sungai. "Sungainya kenapa jadi beda gini? Mana kampungku? Kenapa jadi hutan begini?" Wira benar benar dibuat takjub sekaligus bingung secara bersamaan. "Apa yang terjadi? Aku ada dimana?"
Sementara itu para wanita yang masih berada di dalam air sungai terus memperhatikan gerak gerik Wira yang kelihatan seperti orang bingung. Mereka juga bingung dan saling pandang satu sama lain. Para wanita itrupun saling berbisik satu sama lain begitu melihat penampilan pria yang mengganggu mandi mereka.
"Eh, lihat deh pakaian pria itu, kok aneh gitu ya?" ucap salah satu wanita, begitu melihat Wira keluar dari air dengan memakai celana pendek, kaos dan jaket. "Apa dia bukan manusia?"
__ADS_1
"Bukan manusia apaan? Lihat dong, dia nggak bisa terbang," wanita lain menyahutinya.
"Waduh, bisa gawat kalau dia manusia, mending kita cepat pergi dari sini, ayok!" ajak yang lainnya lagi dan semua wanita yang ada di sana bergegas untuk segera pergi.
Wira yang melihat para wanita itu keluar dari air hanya bisa mengerutkan keningnya tapi tidak ada niat untuk bertanya ataupun mengeluarkan suara lainnya sekedar basa basi. Wira hanya fokus dengan rasa heran yang sedang dia alami. Wajahnya nampak sangat bingung karena dia merasa tidak mengenal dengan tempat tersebut.
"Loh, bulunya mana?" salah satu wanita bertanya dengan suara yang cukup keras sampai membuat Wira menoleh.
"Astaga! Jangan jangan bulunya hilang, gawat!" wanita lain berucap dengan wajah terlihat panik.
"Kita cari bulu kita, cepat!" titah salah satu wanita lagi. Tujuh wanita yang mengenakan pakaian berbagai warna langsung berpencar mencari benda yang mereka letakan di antara batu, di tepi sungai. Wira sendiri meski heran dengan penampilan ketujuh wanita itu, dia tidak ada keniatan untuk bertanya. Wira masih fokus dengan mencari sesuatu yang mungkin dia kenali di sekitar sungai.
Beberapa puluh menit kemudian.
"Bulunya tidak ketemu, gimana ini?" seru wanita yang memakai baju kain berwarna merah kepada teman temannya.
"Nggak mungkin!" seru wanita yang memakai kain Nila. Wajahnya terlihat begitu takut. "Jangan sampai bulu kita hilang. Kalau hilang, kita tidak akan bisa kembali." keenam wanita lainnya seketika ikut merasa panik.
"Coba kita tanya laki laki itu," wanita yang memakai kain putih memberi usulan sambil menunjuk ke arah pemuda yang tadi mereka tuduh sedang mengintip mereka. "Dia juga sepertinya sedang mencari sesuatu. Lihat, dia seperti orang bingung."
Semua mata wanita sontak menatap ke arah Wira dan mereka setuju dengan apa yang dikatakan wanita berkain putih. "Ya udah kita tanya dia aja. Kalau dia ngaku, berarti dia yang mencuri bulu kita," ucap wanita berkain biru.
"Ah iya, benar juga," seru wanita berkain ungu. "Kali aja bulu kita ada di dalam benda yang menggantung dilehernya itu."
"Ya udah, ayok, kita tanya dia," sahut wanita yang memakai kain berwarna jingga. Keenam wanita lainnya langsung setuju dan mereka mendekat ke arah pemuda yang sedang berdiri sembari tangan kanannya memegang ponsel.
__ADS_1
"Ah sial, kenapa nggak ada sinyal," sungut Wira setelah tadi dia berusaha mencari sinyal tapi tidak muncul satupun.Di saat Wira kembali mencoba mencari sinyal, pemuda itu sedikit terkejut saat tak sengaja melihat tujuh wanita yang tadi, mendekat ke arahnya.
"Kang, kamu pasti yang mencuri bulu kita, kan?" salah satu wanita yang memakai baju ungu langsung memberi tuduhan begitu langkah kaki mereka berhenti tak jauh dari keberadaan Wira.
Wira yang sedang sibuk mencari sinyal sontak menghentikan gerakan tubuhnya. Dengan kening berkerut, mata pemuda tu menatap tujuh wanita, yang menatap dirinya dengan tatapan tidak bersahabat. "Kang? Bulu? Maksudnya?" tanya Wira dengan wajah terlihat bingung.
"Jangan usah pura pura tidak tahu deh, Kang. Pasti kamu kan, yang mencuri bulu kita!" tuduh wanita berkain merah.
Ucapan wanita itu tentu membuat Wira tersinggung dan dia otomatis terpancing emosinya. "Heh! Kalau nuduh itu pakai otak. Bulu kalian aja aku nggak tahu kayak apa wujudnya, pakai nuduh segala. Lagian apa tuh manggil aku, kang keng kang keng. namaku bukan Kang. Emangnya aku orang korea apa gimana!" hardik Wira.
Ketujuh wanita itu saling pandang dan salah satu dari mereka memberi kode dengan mata dan gerakan kepala. Wira yang mengalihkan pandangannya karena masih berusahha mencari sinyal, dibuat terkejut saat dirinya merasakan ada banyak tangan yang tiba tiba menyergapnya.
"Apa yang kalian lakukan!" bentak Wira lantang. Namun ketujuh wanita itu tidak peduli. Empat wanita menahan tangan Wira dan mendudukan tubuhnya ke atas rumput, sedangkan tiga wanita lain menggeledah Wira ternasuk tas slempang yang ada di tubuh pemuda itu.
"Nggak ada apa apa," ucap wanita berkain biru setelah selesai menggeledah.
"Ya memang nggak ada apa apa!" ucap Wira lantang. "Main nuduh seenaknya."
Wira lantas dilepaskan dan ketujuh wanita itu kini terlihat panik. Melihat keadaan seperti itu, Wira jadi penasaran. "Emang bulu apa sih, yang kalian cari?" tanya Wira. Meski masih kesal, suaranya kini lebih pelan dari yang tadi saat dia marah.
Ketujuh wanita itu saling pandang sejenak. "Bulu angsa emas," jawab wanita berkain nila.
"Bulu Angsa emas?" tanya Wira dengan kening yang berkerut.
"Iya, bulu angsa emas. Tanpa bulu itu, kami tidak mungkin bisa kembali ke langit."
__ADS_1
"Apa!"
...@@@@@...